Menjadi Titipan Pesan Dari Tuhan


Berkawan dengan kebaikan yang mendamaikan, niscaya menjadi sebuah harga yang melegakan rasa. Namun, tidak ada yang pernah tahu dengan siklus hidup yang menuntut kita untuk tidak melulu berjalan monoton. Kadang, ada keinginan yang enggan untuk di pertemukan pada kejadian yang tidak mengenakan, justeru pada akhirnya menimpa pada diri kita sebagai sebuah “keharusan”. Mau tidak mau atau suka tidak suka; apa yang sudah menjadi nasib buruk kita sekalipun, barangkali itu adalah bagian dari cara Tuhan untuk memuliakan para hambaNya.


Saya yakin, semua orang pernah mengalami hal yang sama dari sebuah kejadian yang dirasa sangatlah merugikan, sengaja atau tidak. Itulah yang mungkin pernah di alami oleh saya sendiri, selaku manusia yang tidak pernah lepas dari bendera bendera dosa. sewaktu saya harus di pertemukan pada sebuah kejadian sederhana, yang dimana memaksa saya untuk berpikir dan bisa menarik kesimpulan dari serakan hikmah melalui “pesan” yang terkandung dari kejadian tersebut.

Pada awalnya, saya sendiri tidak punya niat untuk membuang batu batrei bekas dengan sembarangan melalui lubang jendela kamar, maksudnya tidak ada niat dan tidak ada maksud kesengajaan kalau batu batrei bekas tersebut pada akhirnya harus menimpuk kepala bocah. Walaupun tidak terlalu beresiko efek yang di timbulkan dari jatuhnya batu batre bekas tersebut, Tapi, efek lain dari rasa kagetnya-- bisa membuat bocah tersebut sedikit merasa gak nyaman sekaligus kesakitan. Lantas kemudian, buntutnya bocah tadi merasa sangat di rugikan ketika pada mulanya punya niat buat menghilangkan jejak dengan ngumpet di bawah jendela kamar saya. Malangpun tak dapat di tolak, mungkin akibat dari rasa sakit dan kagetnya, bocah tadi spontan menangis yang pada akhirnya misi buruknya tersebut malah di ketahui oleh ibunya sendiri. Kedapatan, kalau dia ada usaha buat ngumpet disinyalir karena habis mencuri uang orang tuanya. Sayapun mencoba meminta maaf atas kejadian dari ketidak sengajaan tersebut.

Dari kejadian tadi, mungkin saja Tuhan sedang menitipkan pesan-pesan-Nya lewat peran dari tangan saya. Boleh jadi itu adalah bagian dari sebuah skenario berupa teguran dari Tuhan. Meskipun itu adalah akibat dari kesalahan saya, namun ternyata bocah tadi juga punya andil kesalahan. Karena sudah membuat marah ibunya sendiri. Sampai kalimat kurang ajar pun berkali kali di lampiaskan dalam ucapan dan umpatan dari amarah ibunya. Tapi, marahnya seorang ibu kepada anaknya adalah nama lain dari bentuk pesan kasih sayang seorang sosok ibu. Nama lain dari pembelajaran buat seorang anaknya.

Kejadian serupa juga sepertinya pernah di alami oleh saya beberapa tahun kemarin. Yang mana ketika saya harus di hadapkan pada situasi yang menuntut saya untuk sedikit bersabar, justeru karena ketidaksabaran saya yang pada akhirnya bisa menyumbang salah satu faktor dari kecelakaan yang menciderai seseorang. Kejadian tersebut berawal ketika saya hendak menyeberang jalan menuju sebuah toko dengan berjalan kaki, namanya pasar yang lagi rameh ramehnya pas di hari minggu-- pastinya banyak kendaraan saling berebut jalan, saya langsung menyeberang karena melihat posisi banyak kendaraan motor sudah kepalang terjebak macet. Tiba tiba motor dari sisi jalan berlawanan langsung ambil rem mendadak, motor tersebut langsung roboh karena tidak lagi punya keseimbangan. Meski tidak menemukan luka dari akibat kecelekaan itu tapi ya tetep saja saya merasa sebagai posisi yang di salahkan.

Bukanya saya yang sudah siap di marahi, tiba tiba saja seorang tukang parkir pun langsung marah marah sama pengendara motor yang sudah jatuh tadi. Alasanya jelas, katanya pengendara motor tersebut salah sendiri, sudah ngebut makai sisi jalan yang berlawanan pula. Alias merampas jalan kendaraan lain. “ Ini jalan milik umum, bukan punya kamu”. bentak tukang parkir tadi sambil mengatur kendaraan lain supaya tidak memakai jalan seenaknya. Dari situ memang saya juga salah, tapi di balik kesalahan saya sebenarnya dia juga punya andil lebih besar soal kesalahanya. Dari kejadian yang tidak mengenakan tadi, saya bisa mengambil kesimpulan, kayaknya saya sedang di “suruh” Tuhan yang tujuanya barangkali untuk MENGINGATKAN (menegur) kendaraan motor tadi. Meskipun saya sendiri tidak menghendaki. Memang, tidak mengenakan jika saja kita sudah menjadi bagian dari sebab akibat kecelakaan orang lain, namun jika orang itu juga punya kesalahan yang lebih besar-- mestinya saya juga bisa sedikit lebih lega untuk tidak terlalu menyesali diri.

Akibat dari kecelakaan kecil tadi, barangkali sedikit bisa “menggugah” kesadaran orang lain khususnya para pengendara sepeda motor untuk bisa lebih sabar dalam menghadapi situasi kemacetan. Kalau semuanya bisa lebih sabar dan sadar akan kepentingan kahalayak luas, bukankah cara ini bisa saling menguntungkan satu sama lain bagi sesama pengguna jalan, untuk tujuan kenyamanan dan keselamatan bersama. baik mobil, motor, becak ataupun pejalan kaki. Setelah semuanya bisa di atur, macet pun setidaknya bisa lebih di kendalikan.

Seandainya lebih banyak lagi peran dari kita sebagai pesan kebaikan dari tangan Tuhan. bukankah bumi yang kita pijak sekarang akan lebih menyenangkan untuk bisa lebih lama di singgahi. Sejatinya, Tuhan akan selalu punya mandat buat tujuan kebaikan dan kemuliaan bagi kaumNya.

17 comments:

  1. ada yg tersurat dan ada yang tersirat itu mungkin pas dengan hidup ini ya sob :D

    tapi besok2 kl lempar batre jangan kejendela sob, takutnya ada mertua yg lewat lagi, hihihi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mertua yg kena mah mati lah sya :D

      Delete
  2. Kang Yayack saya mampir sambil bawa helm nih.. takut sampean lempar radio hahaha

    sebenarnya banyak hal atau kejadian di sekeliling kita yang bisa kita jdikan pelajaran Kang.. contohnya "kecelakaan" di jalan kayak cerita sampean. Yah, setidaknya orang-orang di sekitarnya paham kalau ngebut bisa berakibat benjut... semoga kita jeli mengambil pelajaran dan hikah dari semua yang terjadi di sekitar kita...


    Kang nitip helm ku ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe bsa aja nih uncle :D ya, kita bsa belajar dari mana saja sukur2 bsa mendapatkan serupa hikmah dan manfaat :)

      Delete
  3. Menjadi titipan pesan dari Tuhan itu berarti kita pun menggenggam amanat yang luar biasa berat. Dan semoga dengan amanat tersebut, orang jadi bisa lebih waspada, lebih bertanggungjawab dan lebih berhati-hati kali ya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, mungkin lebih tepatnya saya bsa menjadi kepanjangan tangan dari Tuhan :)

      Delete
  4. yups, aslinya tak ada yg ingin bertemu dan mengalami dengan ekjadian yg tdk mengenakkan (tdk diharapkan). NAmun kita tak bisa menghindarinya, jk harus kita hadapi ya di ambil enaknya saja ya...hehehe..enjoy our life as well we can do the best..#semoga tak hanya teorinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin dgn cara2 yg tdk mengenakan Tuhan selalu memberi pelajaran untuk tujuan melatih kesabaran bagi umatnya.

      Delete
  5. Hmmm, kalau saya mau tarik kesimpulan... hmmm... apa yah? Ini bisa dibilang efek domino? Tapi gak kaliyah... mungkin bisa dibilang apa-apa yang terjadi di dunia itu sadar gak sadar saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

    Tulisannya kereeeeen, uhhuhkkk... iri deh saya dengan pilihan kata2nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin lebih tepatnya adalah saya jadi perpanjangan tangan Tuhan, hehe wah sya malah pengen belajar dari tulisan kmu syam :D

      Delete
    2. Wah saya jadi tersanjung, hayuk sama2 belajar... dg saling membaca tulisan :)

      Delete
  6. untung saja saya gak kena lemparan :)

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Lah? Bagus sekali apanya nih hehe.. Gak mudeng :D

      Delete
  8. kita semua...pasti punya peran dan manfaat bg org disekitar kita
    =)

    ReplyDelete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More