Surat Kami Untuk Tuan



Tuan presiden....

Semoga saja tuan presiden selalu dalam kondisi yang baik di tengah kondisi dan situasi negri tuan sendiri yang belumlah bisa di katakan baik. Tuan presiden, semoga tuan selalu dalam kondisi sehat di tengah kondisi hukum negri tuan sendiri yang belumlah sembuh dari sakitnya selama ini. Dan, semoga tuan selalu di berikan kekuatan... Sehingga harapan harapan kami yang tak banyak ini bisa mampu di penuhi. Bisa mampu terlunasi, bisa mampu di hadirkan... dan semuanya bisa tuan kerjakan bersama jajaran kabinetnya dengan atas nama tujuan yang punya manfaat untuk mensejahterakan seluruh lapisan masarakat. Bukan semata untuk golongan, sahabat dan kerabat.

Tuan.. Dari penilaian kami yang bodoh ini, kalaulah tuan punya kecerdasan yang cukup di akui di seantero negri ini. Kiranya semoga saja tuan presiden bisa jujur dan tahu betul bagaimana mengambil sikap dalam sebenar benarnya sikap, dalam seadil adilnya sikap, mana yang di dahulukan untuk sebuah kewajiban tuan sendiri, dan mana yang harus di tunda lebih dahulu untuk kepentingan rakyat tuan sendiri. Semoga tuan tidak keliru mana yang semestinya harus di pentingkan lebih dahulu sebagai upaya berkeadilan bagi seluruh penghuni Bumi pertiwi, Seperti kami.

Tuan... Kami tidak punya motivasi apapun tentang semua bentuk permintaan kami. Kami hanya menuntut hak hak kami seperti apa yang sudah di janjikan oleh tuan dulu, seperti yang sudah di lindungi oleh undang-undang. Kalaulah kami sedikit menitip pesan yang tak banyak ini, Mestinya kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil adalah teramat penting untuk kelangsungan hidup kami yang semakin hari semakin terintimidasi oleh kebangkrutan di segala lini. Mulai dari moral, sosial bahkan konflik dan intrik karena perbedaan agama selalu menjadi isu isu yang krusial. Saat sekarang, mungkin sikap TEGAS tuan adalah teramat sangat penting untuk kelanjutan dari jalanya roda pemerintahan bangsa ini yang mulai terancam oleh hegemoni ulah para pelaku korupsi, yang semakin kesini makin merusak citra tuan sendiri. Bukankah tuan sendiri sudah kami kenal sebagai bapak yang cerdas dalam pencitraan? Ah, mungkin itu gelar yang sengaja di munculkan oleh para lawan politik tuan. walaupun kami juga sedikit mengamini.

Tuan... kami, hanya bisa berharap pada sikap konsistensi dari diri tuan, sebagai bentuk perwujudan dari sebuah tanggung jawab tuan sebagai pemegang tampuk kekuasaan di negri ini. Negri tuan yang kata orang orang disana di kenal dengan bangsa yang besar. Karena itu, kiranya penting dan sangatlah perlu akan kebutuhan negri ini untuk memiliki pemimpin dengan jiwa dan pemikiran pemikiran besarnya, negri ini perlu kepemimpinan yang gemar memaklumatkan Kebijakan-kebijakanya yang merakyat. Negri ini butuh akan sosok pemimpin dengan mendahulukan kepentingan kami kami dari pada partai tuan sendiri. Negri ini butuh akan tokoh pemimpin yang merakyat, hebat dan kuat, bukanlah yang gemar curhat kepada rakyat yang memberi mandat.

Tuan presiden yang masih berbaik hati, apakah tuan tahu kalau kami, rakyatmu ini, menjerit pahit karena mahalnya ongkos buat sekedar hidup ADIL di negri ini. Apakah tuan tahu, betapa kami sangatlah tidak punya malu menengadahkan tanganya-- tanda mengemis karena betapa susahnya mengais rejeki di tanah bumi pertiwi. Dan, apakah tuan tahu kalau sedari tadi, kami hanya bisa pasrah akan kelangsungan harga harga barang yang siap melambung tinggi akibat efek pengurangan jatah subsidi. Dan, kiranya tuan sudah tahu kalau negri ini butuh sekali akan sosok pemimpin yang tidak pecah kongsi antara ucapan dan tindakan aksi. Bukankah tuan punya kewenangan penuh untuk memberangus siapa saja yang di anggap sebagai kutu ataupun pembantu palsu. Mudah mudahan saja tuan tidak melulu terus memelihara sikap peragu dan ambigu, seperti yang selama ini tersematkan pada diri tuan sedari dulu. Ah, mungkin saja penyebutan itu sengaja di hembuskan oleh orang-orang yang kalah pada pilpres lalu. Tapi kami menangkapnya memang seperti itu.

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada tuan, beribu maaf jika kami banyak mempertanyakan pada tuan. Tapi, tanya kami itu semata lebih pada representasi dari bentuk kekecewaan kami, ke-apatisan kami, dan kegamangan kami. Gamang akan kondisi negri kami yang tak ubahnya tidak memiliki pemimpin yang benar benar memenuhi dan mengerti keinginan kami. Tuan presiden, kalau saja tuan sedikit punya waktu untuk sekedar memahami keinginan kami sebagai rakyatmu ini. Sesungguhnya kami tidak butuh akan manisnya janji janji, kami hanya ingini bukti bukti bahwa tuan sudah bisa melunasi janjinya sendiri. Kami tidak butuh wacana dan kampanye yang di penuhi gula gula, kami hanya ingini hasil yang terlihat nyata tanpa lebih dulu berpidato dengan RETORIKA. Kami tidak butuh wacana - program kebijakan yang katanya pro rakyat, kami hanya ingini tuan mampu membaca apa yang sedang kami ingini sebagai rakyat. Bukankah tuan juga pernah menjadi bagian dari rakyat, yang sudah barang tentu tidaklah seperti kami yang melarat.


Tuan presiden yang terhormat, mungkin kami sudah tahu yang kata orang orang-- memimpin sebuah negara adalah hal yang tidaklah mudah, Tapi bukankah tuan sudah memperhitungkan semuanya, mengantisipasi semua resikonya, bahkan sudah mengumpulkan barisanya. bukankah juga tuan punya barikade pendamping dan pembantu yang begitu teramat banyak dari segi jumlahnya, sekaligus dari isi kecerdasanya. Bahkan jabatan pos wakil menteri dan satgas pun sudah tuan janjikan sendiri untuk tujuan yang sebangun dengan harapan tuan-- Walaupun hasil dari semuanya hanya pada sebatas janji janji surga belaka. Tapi buat kami semuanya sudah jauh jauh hari bisa terbaca. Barangkali itu sebagai bagian dari serupa jurus lama.

Tuan... Kalaulah tuan belum bisa memberi apa yang kami cari di tanah negri ini, kiranya kami hanya ingini tuan bisa Adil dalam mengayomi semua penghuni bumi pertiwi, seperti kami. Kalaulah tuan belum mampu melunasi janji janji tuan sendiri saat mencalonkan diri tempo hari, kiranya kami cuma ingini tuan bisa menjadi pendengar keluh kesah kami. Kalaulah tuan belum bisa di anggap mandiri dari tudingan hutang negri ini yang terus meninggi, kiranya kami cuma ingini kekayaan negri ini tidak habis di korupsi oleh para pembantu tuan sendiri. Sekalipun anak emas tuan sendiri.

Tuan, jika saja kami mengeluh tiap hari karena kami tak mendapati apa yang tuan janjikan dulu, lalu apa yang salah dari sikap tanda tak setuju kami. Apa yang salah jika dalam kelaparan kami hanya bisa berdemo dan protes, hanya bisa mencaci sebagai solusi. Hanya bisa menyalahkan karena kehilangan harapan, dan hanya bisa menyanyikan nada Revolusi karena tuan tak lagi peduli. Dan, hanya bisa mendoakan seraya penuh khidmat... semoga sang matahari masih tetap terbenam di ufuk barat, sebelum tuan tak lagi menjabat.

Kalaulah tuan presiden sudah bisa memberi apa yang kami ingini, kalaulah tuan sudah mampu menghadirkan apa yang kami harapkan, kalaulah tuan sudah bisa merealisasikan apa yang sudah di kampanyekan... Wujud dari rasa syukur kami--semoga Tuhan selalu memberi izin buat presiden kami untuk bisa bersinggasana hingga tahun 2014 nanti.




Terimakasih, salam dari kami untuk Tuan...

38 comments:

  1. Kalo soal soal seperti ini, saya kok apatis akut yah yack... sebelumnya surat untuk (tuan) presiden milik Fahd Jibran pun sempat heboh di twitter, fb dan milis...

    tuannya kelewat sibuk, tak satupun surat yang dia baca. sepertinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, saya juga sudah membacanya bahkan postingan tsb salah satu artikel yg paling banyak di baca oleh pengunjungnya hehe...

      kelewat sibuk, sibuknya lebih pda sibuk utk membentengi diri :) uups.. mudah2an salah

      Delete
  2. semoga suratnya bisa dibaca oleh pak presiden langsung ya sob :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemungkinan itu tipis haha yaaah, setidaknya sya sudah bsa mengeluarkan semua isi kepala sya__ representasi dari bentuk sikap protes... tdk harus dgn demo atau bahkan menjarah pom bensin. sya cukup dgn menulis :)

      Delete
  3. walau sang Tuan ga sempat baca, Insya Allah mata hatinya terbuka aatas jeritan rakyatnya *berusaha berpikir positif

    ReplyDelete
    Replies
    1. walopun gak di baca yg pasti sya sudah bsa menuangkan unek2 sya sendiri dan itu ternyata bsa melegakan. Huaah, kita bernegara spt berjalan sendiri gak punya pemimpin. # kasihan #

      Delete
  4. sepertinya tuan anda sedang sibuk mempersiapkan album berikutnya dan buku ke dua yang masih belum terkonsep.
    untuk menunggu silahkan tekan tanda pagar, #tiiinnn, telepon berbunyi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bikin lagu? alih alih mau dpt sanjungan dari rakyatnya malah kebanyakan dpt cibiran. Kenapa tuh? Kalau kerjanya baik sesuai harapan kita sbg rakyat, mestinya lagu tsb akan laris juga di pasaran hehe.. Tp sayangnya smpe skrg gak ada minat2nya tuh :D

      Delete
  5. Kirain tuan siapa, taunya tuan aku juga nih. Yup, aku rasa surat yg spt ini bsa di rasa lbh sopan dan bsa di baca oleh banyak orang, dari pda harus demo yg berujung anarkis. Emang penyampain dlm menyampaikan aspirasi itu banyak cara bsa di lakukan salah satunya lewat tulisan surat ini.

    Tapi maaf saja mas, sepertinya bapak presiden lagi sibuk soalnya kemarin baru bertolak ke china membawa beberapa mahasiswa sbg bentuk dari misi membungkam mahasiswa agar tdk terus2an demo. Wah ujung ujungnya gaya spt ini jadi mirip zaman orde baru; siapa yg kritis dia akan di jinakan dgn menyodorkan kursi yg empuk.

    Yg pasti suratnya mengena, bsa mewakili semua pembaca, tapi sayang bakal tipis kemungkinan bsa di baca oleh sang tuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemm gak ada tujuan sma sekali buat di baca oleh sang tuan, karena tuan sendiri gak hobi bgt membaca yg isinya cuma kritik dan protes...

      Minimal sya bsa membagikan tulisan semacam ini agar pembaca tau bahwa memang benar adanya kalau kondisi negri ini ya memang seperti skrg ini.

      Delete
  6. aku terharu bacanya...

    Sudah beberapa tahun terakhir ini bersikap apatis, hingga menemukan tulisan ini dan, hmmmmmm,...

    ReplyDelete
    Replies
    1. apatis, akibat banyak blunder yg di lakukan oleh sang tuan.. terlalu bermain halus, manis di tampilan depan di dalamnya waah banyak bercokol maling, masa? Mudah2an salah :D

      Delete
  7. mas baca tulisan di blogku deh,istana itu udah kaya kantor pos mau menerima surat tapi kagak mau membuka,membaca apa lagi membalas'a

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah? Padahal dlu pak tuan malah mengumumkan po box nya sbg pengaduan buat masarakat. Berarti bohong lagi ya :D

      Delete
  8. mas baca tulisan di blogku deh,istana itu udah kaya kantor pos mau menerima surat tapi kagak mau membuka,membaca apa lagi membalas'a

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an bsa langsung ke TKP hehe...

      Delete
  9. ikutan nulis surat ah :D

    tuan raja, siapakah durna yang menjadikanmu boneka hingga hari ini
    masih nikmatkah dirimu menjalani peran yang harus dimainkan
    tampang santun berwibawa untuk apa, kalau hanya tipu daya

    tuan raja, tahukah engkau tentang paman Indra Azwan merelakan kakinya dicabik panasnya aspal dan diguyur hujan selama 30 hari 30 malam, menyusuri mimpi sepanjang jalan raya blimbing malang hingga istana raja
    wahai tuan, lalu kenapa engkau palingkan wajah dan bersembunyi di kolong meja wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huusst, sang raja durna sengaja sembunyi dari kedatangan pak indra azwan dan para mahasiswa.

      Kalau gak salah pak indra menyerahkan duit 25 juta kpda pak presiden dan skrg dia lebih percaya pada monyet2 dri pada pemerintah. Mungkinkah dia akan melanjutkan jalan kakinya ke makkah utk mencari ruang keadilan?

      Delete
  10. moga2 suratnya dibaca dan dibalas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak yakin kalau dibaca, apalagi di balas--jauh dari kemungkinan itu :)

      Delete
  11. memimpin sebuah negara memang tak mudah ya, semoga seseorang yang sudah di percaya oleh rakyat untuk menduduki posisi itu bisa lebih bijak lagi mengatur negeri ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaak, tapi masalahnya dari tahun kemarin2 jg sya sudah banyak semoganya tapi hasilnya jauh dari yg kami harapkan selama ini. Ga muluk2 sih, cuma mau hilangkan hukum rimba aja biar bsa adil.

      Delete
  12. Walaupun "sang tuan" tidak sempat membaca surat ini, tetapi saya yakin bahwa "Sang Tuhan" mengetahui maksud dan kehendak surat tersebut. Semoga "Sang Tuhan" mengabulkan harapan dari surat tsb. amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an saja mas, dlm bentuk apapun tuhan akan mengeluarkan kuasanya sbg bentuk sebuah peringatan semisal bencana alam. Namun? Lagi2 ada pembantu tuan yg menyikapi bencana longsor di anggap sbg kesalahan alam. Sya pun membatin, ko bisa ya?

      Delete
  13. saya urun doa aja kang Yayack.. bosen wis rasane mikiri orang-orang pinter.. Lebih baik kita lakukan sesuatu dengan berkarya Kang.. sekalipun kecil tapi bisa manfaat..

    aku tandur-tanduran wae wis Kang.. biar lumayan adem negeriku yang panas ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat kang, dari pda gondok lihat berita di tv mending keminiman waktu dimanfaatkan buat berkarya.

      Delete
  14. surat yg mewakili berjuta jeritan hati penghuni negeri ini.

    sikap ragu n ambigu yang membuat lidah sang presiden kelu. Capek jg ya sob kalo dengar pidatonya yg mbulet penuh retorika.

    Halluuu pak presiden....ini bukan saatnya tampil untuk pencitraan, kampanye sdh usai pak..!!!
    Kami perlu ksatriamu untuk selamatkan rakyat n negerimu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi ya ttp aja dia juga msh ttp presiden kita. Cuma kayaknya sya merasa senang sekali karena pemilu kemarin cuma milih golput. minimal tdk merasa di bodohi :)

      Delete
  15. Yack, email km yg via about.me dah saya terima... cuman pas direply failed, mungkin km keliru memasukkan alamat email kamu deh.

    **sorry oot :))

    ReplyDelete
  16. Hmmm... Tetap harus semangat!! hanya itu yang aku punya dan aku simpan dalam hati yang paling dalam ketika kita berhadapan dalam situasi yang bisa dikatakan sebagai "Lingkaran Setan".

    Sering ingat perkataan sahabatku, yang sebetulnya sampai sekarang aku tetap tidak bisa menyetujui nya, ia berujar "Hidup di indonesia ini ya kalau tidak numbur (Nabrak) ya ditumbur!!", hmm,,, sekeras itu kah hidup di Indonesia?

    Tapi yakinlah sob, dan aku sangat optimis,, Indonesia ini adalah surga dunia,, masih banyak orang baik diluar sana (pengalaman pendampingan di desa), tapi ya itu,, mereka masih bagaikan mutiara yang tertutup lumpur, berikan mereka kesempatan untuk menampakkan diri nya,, dan Indonesia akan menjadi lebih baik,, insyaallah!! ^_^

    Keep Fight!! Smart Work not Hard Work!! dan maaf baru sempat mampir,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju sekali, di negri ini sebenarnya msh banyak orang orang baik di luar sana, cuma kadang org baik selalu menjadi musuh bersama bagi org org yang bsa di sebut sbg lingkaran setan. Ya sebenarnya sih orang baik saja tidak cukup, bahkan harus pke nyali untuk bisa membenarkan dari semua bentuk kejahatan. berpikir positif saja walopun keliatan normatif; semoga kita tdk terjebak sistem negri ini sehingga pada saatnya nanti bangsa ini bsa lepas dari penjajahan dlm bentuk apapun.

      Buat mbak sih fokus aja dgn pekerjaanya ya hehe thumbs up :)

      Delete
  17. Replies
    1. mudah2an sih sempat hehe tapi ya di baca atau tidak itu bukanlah tujuan utama. Yg utama bagaimana negri ini bsa dikritisi supaya ada keseimbangan.

      Delete
  18. waaaah tuan malah jalan2 trus di sa'at negri ini dalam keterpurukan, mudah2an tu tuan terbuka hatinya, agar tidak trus2an menindas rakyatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lawatan ke luar negri juga ttp aja di demo oleh 1500 TKW di hongkong. Hehe... Sampe minta di kawal banyak polisi.

      Delete
  19. Aku gak kepikiran utk tulisan surat spt itu deh.
    Karena aku dah gak punya harapan lagi... bener2 payah ya? :(

    ReplyDelete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More