Kesombongan Yang Mengantarkan Pada Kesadaran



Sudah waktunya sholat Ashar, banyak masjid di jalan, berhubung lagi di perjalanan-- sholat pun tetap di lakukan di rumah karena alasan yang hanya bisa di mengerti oleh perasaan yang tidak jelas. Padahal tidak ada jaminan apapun jika pada saatnya kemudian sholat itu tidak jadi di lakukan tepat waktu. Dari niatan saya seperti itu, tanpa saya sadari kalau kebiasaan seperti tadi sama halnya serupa memelihara sifat kesombongan di hadapan Tuhan saya sendiri. Dan bukanya tidak mungkin kalau hal hal yang sekiranya di anggap kecil lambat laun justeru akan menimbulkan efek ketidakbaikan yang lebih masif.

Ya, sepertinya selama ini, di setiap bahasa sehari hari saya selalu menomor duakan kata menyegerakan. Masih di anggap memberatkan. Entah ini berupa tudingan, kutukan, titipan sifat dari syaitan atau memang sudah menjadi budaya kekinian yang sejatinya gemar di lakukan oleh barisan manusia manusia zaman sekarang. Di mana kita salah satunya adalah satu dari sekian banyaknya contoh manusia yang masuk golongan tadi. Buat sebagian orang semoga saja tidak.

Entar, Kata ini juga yang selama ini di anggap oleh saya sebagai musuh bersama, sekaligus di pelihara. Aneh bukan? Hehe kadang batas kesadaran seorang manusia tidak mampu menterjemahkan sifat keanehan manusia lain. Di satu sisi saya enggan untuk menerima semua bentuk resiko rugi yang datangnya dari sikap akibat menunda nunda waktu atau pekerjaan. Di sisi lain saya gemar menikmati sesi waktu di mana akan sangat nyaman jika harus berkutat pada zona yang harusnya bisa di segerakan untuk di kerjakan.

Namanya juga saya, mewakili banyak manusia lain yang barangkali punya kemiripan dalam menyikapi ego dan sikapnya sendiri. Sukur sukur salah satu dari mereka bisa satu langkah lebih baik yang nantinya bisa punya efek menularkan contoh positif bagi manusia lain. Yang pada akhirnya bisa menjadi rentetan wabah positif bagi manusia serupa berjuta orang yang gemar berjamaah dalam barisan masif atas nama riwayat untuk tujuan manfaat dan kebaikan.

Tidak butuh menghela nafas panjang, cukup sesekali membatin, padahal akan ada begitu banyak jika saya harus memutar otak untuk hitung hitungan tentang "jumlah" kenikmatan dan kesempatan yang di berikan oleh Tuhan. Itu fakta dan untuk di akui.. Hanya saja, saya terkadang tidak cukup nyali untuk membangunkan kesadaran guna bisa mempertanggung jawabkan semua hutang hutang yang seharusnya kesempatan dan kenikmatan saya tersebut di gunakan untuk porsi yang seharusnya. Kesadaran itu mendadak mati suri jika saja makna kematian yang sebenarnya telah hilang dari daftar barisan jadwal perjalanan tujuan kita sendiri guna keperluan mendarat dan kembali ke asalnya, yaitu tanah yang siap mebumikan para kader penghuninya.

Seruan seruan di sepotong sore yang bermakna ajakan mensucikan diri dari rutinitas separuh hari, kerap di biasakan hanya sebatas nyanyian dan bunyian merdu melagu di telinga. Tanpa di barengi niatan berpasrah tunduk untuk sebuah kebutuhan, tapi pada akhirnya hanya pada sebatas membayar hutang untuk agamanya sendiri. khusyu atau tidak yang penting tujuanya hanya punya makna tunggal, yaitu bisa membayar hutang kalau pada waktunya sudah bisa sholat dalam sebenar benarnya jimlah rakaat. Mungkin saja rentetan yang kurang bijak tadi hasil berkaca dari keseharian dan pengalaman saya. Kalaupun iya semoga saja itu tak berkelanjutan.

Pada akhirnya, kesombongan bisa juga mengantarkan pada kesadaran, sadar akan kebutuhan manusia dalam memperjuangkan hak hak sisi spiritualnya untuk di pertemukan pada muasal kodratnya sebagai manusia yang suatu saat kemudian akan kembali pada sang pemiliknya.




##Indramayu 18 april 2012


10 comments:

  1. Jadi speecheles, sangat 'kena' sasaran banget pada diri saya sendiri. Semoga bisa membiasakan diri untuk lebih sregep saat suara Adzan mengalun merdu...TFS ya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak ada kesengajaan buat menyentil :D

      Delete
  2. suatu kesombongan....

    padahal nikmat Allah yg mana lagi bisa kita dustai,, BBM bakal naik tinggi,, bagaimana klo Allah memberi tarif untuk udara yang merupakan salah satu modal utama menjalani hidup?

    Hmm.. sebuah perenungan, semoga kita bisa lebih baik lagi dalam menjalani hidup,, terima kasih sob....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udara? berarti kenikmatan dari Tuhan itu bayak, yg menjadi terasa sedikit itu adalah karena tdk adanya rasa kesukuran :)

      Delete
  3. Replies
    1. terimaksih juga atas kunjunganya buu :)

      Delete
  4. kadang kesombongan yg kita miliki sekarang & nanti mengahantrakan kita ke posisi yang lebih dengan sang pecipta

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk itu jangan di pelihara mas :D Punten utk saat ini nyoba jadi sok bijak hahaa...

      Delete
  5. kadang kesombongan yg kita miliki sekarang & nanti mengahantrakan kita ke posisi yang lebih dengan sang pecipta

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk itu jangan di pelihara mas :D Punten utk saat ini nyoba jadi sok bijak hahaa...

      Delete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More