Perjalanan Rindu



Untuk sepotong beberapa hari kedepan, sepertinya saya di paksa untuk sedikit membongkar pundi tabungan rindu saya yang dulu sempet saya timbun, entah itu tentang masa masa dulu yang sepertinya teramat susah untuk buru buru di lipat dan di lumat lupa. Saya tahu, kalaupun terus mengingat kejadian kenangan itu bukanlah sesuatu yang menjanjikan sebuah kebaikan, tapi sepenuhnya saya yakin sama hati saya sendiri, kalau saya tidak serta merta mau menyerahkan dan rela harus terkapar di kalahkan dengan mengingat ingat peristiwa masa lalu. Minimal saya masih menyisakan dan menyisihkan serta mempersiapkan senjata lain guna bisa mengusir " masa lalu " itu kalau sekiranya sangat di butuhkan untuk buru buru di singkirkan. Lagi pula ada sesi dan episode hidup lain yang tidak melulu harus bermanuver dengan rindu dan masa lalu. Yang pasti masih ada kebutuhan untuk hidup lebih dinamis dan tak melulu melankolis.

Lebih bersikap dalam kebutuhan yang lebih sederhana, mengingat dan merindukan masa masa itu jelas bukanlah kebiasaan saya tiap hari atau bahkan tiap ritual menuju tidur, kalaupun hal itu harus saya lakukan--bukankah itu teramat akut yang sudah saya idap sebagai penyakit rindu. Rindu menggebu gebu... Untung kabar tak terlalu baik itu masih jauh dari dengusan nafas saya. Yang sebetulnya tidak terlalu memunculkan banyak resiko kalaupun harus saya pelihara buat beberapa hari kedepan. Atau untuk porsi yang sewajarnya.

Porsi saya pada kebutuhan rindu tentang masa itu adalah ikhwal dari tuntutan saya untuk bisa memahami, bahwasanya saya masih butuh akan sebuah kenangan yang menurut saya tidaklah terlalu buruk untuk coba saya ingat ingat kembali. Untuk coba saya kuras kembali. Toh semasa saya betah dengan rindu itu, ada sebuah pesan yang coba saya maknai sebagai nama lain dari chemistry. Ia tiba tiba memberi kabar lewat angin signal yang menempelkan tulisan khasnya di layar ponselku. Tentu saya kabari baik sewaktu ia menanyakan kabar pada awal sms berantai itu. Susana pun menjadi hangat manakala ada suara tanda pesan masuk silih berganti saling bersahut. Itu saja sudah mencukupi pada kebutuhan saya guna menguras kembali memori itu yang sudah beberapa bulan tertelan tak ada kabar. Tak ada saling memberi kabar yang biasa saya sebut sebagai silaturahmi..

Saya rindu, bagaimana saya dulu bisa sangat berani melawan hama apapun demi sebuah pernyataan bahwa saya adalah bagian dari laki laki terdekatmu setelah sosok ayahmu. saya rindu pada sebuah sikap dia yang selalu melumat keraguan keraguan saya meskipun pada akhirnya saya harus kalah dan terbunuh oleh sikap ragu saya sendiri. meskipun tidak semuanya saya nilai sebagai akhir dari perjalanan saya. Bukankah saya sekarang akan memberi pernyataan, bahwa saya masih baik baik saja! Sukur sukur hari ini masih di rindukan oleh beberapa segelintir orang...

Rindu dan silaturahmi... berawal dari perasaan rindu pada akhirnya saya masih bisa memelihara dan menyambung silaturahmi dengan dia dan beberapa orang. Awalnya dari rasa rindu juga saya masih bisa mengingat ingat bagaimana saya dulu belum bisa memberikan yang terbaik meskipun buru buru pisah adalah jalan satu satunya sebagai keputusan yang terbaik. Semuanya akan saya kuras dengan di awali rasa rindu meskipun bongkahan rasa yang berstempel " sakit " akan melulu menjadi bagian dari perjalanan rindu itu. Rindu yang menyuguhkan beberapa harga untuk di jual murah sebagai sebuah pelajaran dan pengalaman.

Rindu, memberikan saya sebuah teladan--bahwa saya lebih mengupayakan agar saya pantas untuk di rindukan jika saya masih rindu sama orang orang yang layak untuk di rindukan, termasuk orang yang belum mau saya sebutkan namanya disini, entah karena alasan apa :)

Untuk yang kesekian kalinya, saya merasa masih punya hutang rindu, rindunya dia terhadap sikap saya yang paling jujur, rindunya dia pada ungkapan saya yang paling jujur, dan rindunya dia pada pernyataan dan sikap saya untuk selalu menanyakan kabar. Entah itu kabar apa yang pasti saya masih merasakan betul bahwa sekumpulan rindu rindu itu masih tetap berdomisili dan terpelihara manis di ruang hati masing masing.

Pada saatnya nanti, saya rindu akan masa masa di mana saya masih mempunyai banyak waktu, lalu entah dengan alasan apa kalau kemudian saya tidak bisa memanfaatkan sisa waktu itu untuk rindu sama apa yang sudah di anjurkan dan di ajarkan oleh Kanjeng rosul. Dalam perjalanan rindu untuk bentang waktu yang tidak tahu akhir peraduanya sampai dimana, dan kapan... Sejatinya saya rindu sama Rasul dan segenap para sahabatnya, dan rindu sama umat umatnya. ****** (YF)

15 comments:

  1. Hihi... rindulah yack, jangan takut. apalagi kl rindu menyisipkan sedikit energi untuk melangkah.

    cieee cieee... untuk diamu yang tengah kau rindukan, semoga merasakan hal yang sama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin syam :D rindu juga sma tulisan2 kaka syam hehe

      Delete
  2. memang rindu terbesar adalah rindu mahluk pada khaliqnya, dan rindu umat pada rasulnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat dan sependapat dengan Pakde Sulas. Dan satu kerugian besar bila rindu seperti ini tak terasa lagi.

      Delete
    2. betul pak, komentar bapak selalu sya nantikan sekaligus bsa melengkapi :)

      Delete
  3. Merindu akan lebih indah jika kita dirindukan juga. Kalau merindu terus kita tak di rindkan...rasanya jd gimana getttu. Apalagi jika kita sudah bisa setting merindu tertinggi pada Ilahi dan kita pun dirindukan olehNYA....Amiin:0

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalahnya tau dari mana kalo saya juga di rindukan, hikzz...

      Delete
  4. antara rindu, merindu dan dirindu kan,,,sekat nya tipis tapi membuat rada meloow dan kalo kata anak2 muda jaman sekarang berakhir dengan galau,,

    tapi kita harus bersyukur sob,, kita diberi hard drive yang paling luas oleh Allah untuk dapat menyimpan segala nya,,, tetap semangaat,, ayo sarapan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang udah aktif lagi ya, padahal dari kemarin2 sya udah rindu baca cerpen cerita hujan :))

      Delete
  5. Replies
    1. semoga mbaak, terimakasih, salam :D

      Delete
  6. susah dikomentari kalo sudah bicara tentang rindu
    smuanya serba salah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo komentar juga sebenarnya gak ada yg salah tuh :D

      Delete
  7. kunjungan gan .,.
    bagi" motivasi .,.
    jangan pernah mengeluh dengan apapun .,.
    tetaplah semangat dan nikmati semua.,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

    ReplyDelete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More