Catatan Dini Hari



Setelah putih pagi meninggalkan malam dengan pelan, ada satu mukadimah baru yang menawarkan sebuah alkisah sederhana. Tentang cinta yang harus meneruskan kisah dan ceritanya. Tentang semangat yang terus menularkan darah dan keringatnya. Atau tentang cita cita yang terus terawat sampai pada titik dimana soal " ingin " itu kembali pada awal tujuanya semula. Meraih dan kemudian di pertemukan pada sarat sarat di mana ada kata menghebatkan.

Sepagian ini, saya kerap di ingatkan tentang dini hari kemarin. Tidak ada yang mesti saya bagi dengan hal hal yang menceritakan tentang sesuatu yang luar biasa, ataupun yang memberi pesan aneh. Atau minimal ada cerita yang bisa menghangatkan layaknya orang berkisah berujung drama. Semuanya berlangsung dalam barisan kisah yang sederhana. Dari mulai tidur sebelum jam malam menemukan titik tengahnya, sampai bangun tidur tepat beberapa menit setelahnya jam 12 malam.

Jam dini hari lebih beberapa menit, seperti tidak ada lagi suara suara dari bisingnya berita korupsi di televisi. Hanya deruan lirih suara kereta yang melintas menuju arah jakarta. Sepertinya. Hanya suara pelan guntur yang masih malu malu meninggalkan tinggi dan luasnya langit. Semuanya terbaur dalam satu peristiwa yang sama dengan memunculkan pemikiran yang semuanya tidak pernah sama. Malam itu seperti mau ada hujan kecil yang tidak terlalu membuat suasana kamar menjadi dingin.

Satu setengah jam kemudian, rasa pada penantian pagi itu menjadi kian nampak ketika untuk yang keberapa kalinya suara ayam jantan memekik di tengah kerumunan malam yang belum juga habis melepaskan seluruh sisa sisa kegelapanya. Sesekali hanya terdengar pelan detikan jarum jam yang memutari angka angka dengan menghitung rutin tanpa jeda. Semua tugas masing masing masih berjalan dengan sendiri sendiri. Hanya burung hantu yang tugasnya belum saya dengar sampai malam itu menemui ujung gelapnya.

Dari samping kamar tiba tiba terdengar suara yang tidak biasa. Tepat di bawah daun jendela. Makin saya amati dengan membuka telinga seluas luasnya, makin keras pula suara itu hingga memunculkan rasa takut yang berlebihan. Tapi kemudian suara itu hilang pelan dengan sendirinya. Saya tidak mau terjebak pada pemikiran tentang sumber suara yang tidak jelas tadi. Hanya saja alasan itu tak mampu saya rawat sedemikian lama. Muncul lagi dugaan saya yang terkadang jauh dari jalan pikiran sehat saya. Tapi tidak berlangsung lama___ hingga saya di ingatkan pada satu pesan yang tiba tiba datang dari kata bijak seorang ibu. " Jika hendak ada niat menuju tidurmu di malam hari; Bacalah surah Al-falaq yang di dalamnya terkandung ayat ayat yang minta di jauhkan dari para wanita sihir ".

Suara di luar jendela tadi kemudian mulai hilang dengan pelan. Bukan karena dia adalah wanita sihir, bukan pula karena doa doa saya yang menyusup dari lubang jendela menuju langit. Ternyata suara itu tak lain adalah seekor kucing yang hendak mengeluarkan sesuatu yang mengganggu dari mulutnya. Untuk di muntahkan. Dari situ saya cukup mensederhanakan pesan, dari hal yang sepele kadang kita kerap mebesarkan besarkan sebuah kejadian. Yang tujuanya semata untuk memaniskan sebuah cerita bak drama sandiwara.

Udara dini hari mulai membesarkan niat saya untuk segera mematikan lampu kamar, untuk kembali tidur memanggil mozaik mozaik shubuh yang beberapa jam lagi menemui induk waktunya. Waktu dimana saya dan mungkin sebagian dari kita untuk mensucikan lagi jiwa jiwa yang sedari lama memupuk barisan dosa. Tak kurang dari hitungan jari dan jarum jam, suara dari sumber kejauhan menyusup rongga rongga langit menyambangi atap atap rumah. Tak lain adalah masjid dan beberapa surau yang sedang melagukan takbir, tahmid dan tahlil. Menandakan kalau tibanya waktu shubuh tinggal menunggu waktu.

Shubuh, jika kemudian saya harus menemuimu lagi dalam keadaan harus merangkak. Semoga saja selalu ada kemudahan dalam berpahala.





Indramayu , 15 desember 2012
RM/YF
Gambar dari sini

6 comments:

  1. Tentang semangat yang terus menularkan darah dan keringatnya.Bahwa tak ada yang mustahil jika mau mencobanya...berhasil atau tidak, itu soal takdir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat dan sependapat mbak rie hehe

      Delete
  2. Alah bisa karena biasa dan dibiasakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya mbaak, kalo gak bsa coba di biasakan dengan bertanya sama mbak anaz hahaaa :D

      Delete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More