Tanggung Jawab




Terus terang saya jadi merasa gak nyaman jika harus lama-lama berada di wilayah jual beli obrolan orang-orang yang kebanyakan ngomong, khususnya membual yang baunya bisa kemana mana, biasanya dalam menawarkan sesuatu, entah mereka itu sales tertentu, tukang obat dengan merk tertentu, atau penjual kasur penganten dengan promosinya yang berlebihan. Siapapun mereka, karena biasanya orang yang punya tipe seperti itu kebanyakan selalu memanfaatkan kelebihanya untuk hal hal yang sebenarnya tidak perlu, itu hanya pengalaman saya saja hasil dari kajian investigasi sederhana. Tanpa melibatkan badan-badan tertentu yang menghabiskan_ dana_ lumayan banyak.

Semisal pada apa yang pernah saya alami beberapa hari kemarin, yang menurut orang lain barangkali tidaklah terlalu penting. Uuuhg.. saya di buat menyesal dan kesal atas kejadian kemarin yang tidak di rencanakan sebelumnya. Hari itu tiba-tiba Hati saya di buat mengeras seperti batu hanya karena ulah satu orang. Tapi kehadiran saya buat menulis disini bukan mau menjustifikasi seseorang secara secara serampangan, lebih hanya sebatas bagaimana saya bisa mengeluarkan uneg uneg saya, takut kenapa-napa kalau dalam perjalananya saya mengidap konspirasi hati akibat satu hal yang sebenarnya sangat sepele. Rasa kecewa yang tidak bisa tersalurkan.

Okelah, dalam perjalananya minimal ada satu point yang sudah saya comot disitu, Satu nama sudah saya masukan ke buku tentang daftar orang-orang yang sudah tidak bisa di percaya. Itu resiko lah, nama lain dari bentuk pertanggung jawaban dari apa yang sudah mereka lakukan belakangan dengan sembarangan. Entah pada awal mulanya mereka itu punya tujuan baik atau tidak, kalau sudah menyalah gunakan lidah untuk berbohong demi tujuan dan agenda tertentu, apalagi menipu. Bukankah mereka juga pada awalnya sudah siap dengan resiko dampak baik buruknya. Jadi terima saja dulu. Tapi bukan berarti saya tidak bisa memaafkan sama sekali. Ini hanya bagian dari bentuk sikap.

Satu kejadian sudah saya jadikan pengalaman, sekaligus pelajaran. Dari situ ada titik dimana saya bisa mendapatkan pengalaman dan kesimpulan baru, kalau tiap orang itu pada dasarnya semuanya punya bakat untuk berbohong dalam takaran dan porsinya masing-masing. Sesuai dengan tingkat kemampuanya masing masing. Tujuanyapun berbeda beda, ada yang tujuanya untuk menutupi kebohonganya yang di buatnya dulu, ada yang tujuanya untuk memuluskan misi misi tertentunya agar bisa berjalan sesuai rencana, ada juga yang tujuanya menipu untuk bisa meraup keuntungan yang sebesar besarnya. Semuanya adalah jejak mereka kelak untuk bisa di pertanggung jawabkan semuanya.



Misu2, Uneg2

Gambar dari sini


10 comments:

  1. orang seperti itu tidak mengerti tentang after sales atau pelayanan purna jual.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul mas, aturan hanya aturan hehe.. Kadang peraturan yg di buat sendiri aja bisa di langgar dengan seenaknya.

      Delete
  2. kalo saya; tetap memaafkan tapi saya tidak akan melupakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaah, sudah saya singgung di atas.. Disitu saya bukan berarti tdk bisa memaafkan, tapi sya hanya menunjukan bentuk sikap. Hemm tdk menutup kemungkinan kalo org yg tdk punya sikap begitu gampangnya di bodohin.

      Delete
  3. memang bertanggung jawab itu segampang membalikkan telapak tangan, tapi untuk menjaganya itu lho harus susah payah :D
    nice post mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa belajar dari skrg tentang arti abagaimana menjaganya, bukankah begitu mas? hehee

      Delete
  4. Banyak orang yang rela berbohong hanya agar dagangannya laku.
    Sayang sekali ya...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu sama saja dengan pertaruhan, yah

      Delete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More