Menjemput Pahala



Jujur, bagi saya, kalo mau menulis atau berbicara tentang beberapa pengalaman yang berorientasi pada sisi spiritual yang ingin saya bagikan kemudian, intinya perihal masalah pencapaian ibadah; saya kadang suka merasa terjebak pada hal hal yang sebenarnya tidak perlu ada, ini mungkin hanya perasaan saya saja. Perasaan takut di bilang sok pamer, takut di nilai sok suci, ataupun takut di anggap seperti sok menggurui. Padahal pada kenyataanya, saya murni untuk mencoba pada sebatas mengingatkan, berbagi pada hal-hal positif kepada teman, dan tidak ada misi dan agenda tertentu untuk bisa terlihat hebat di mata orang lain. Itu jauh dari pikiran saya sama sekali. Kalopun maksa ada yang berpikir saya di bilang sok suci dan pamer, itu hak mereka dengan sejuta asumsi mereka sendiri. Toh disini juga saya punya hak lebih untuk bisa menjemput beberapa pahala yang sudah di sediakan Tuhan saya sendiri. Salah satunya dengan berbagi itu tadi.

Jujur, sependek pengakuan saya, kapasitas dan kualitas saya pribadi untuk soal agama di yakini masih dangkal, seratus persen masih di anggap kurang. Artinya masih banyak belajar lebih jauh lagi. Tapi selagi saya bisa membagi apa yang memang harus saya bagikan buat orang lain, rasanya ada kepuasan tersendiri jika kemudian apa yang sudah saya bagikan itu punya efek manfaat lebih bagi orang lain. Selama tidak menabrak pasal2 atau dalil dan hadist tertentu. Yaah, sederhananya saya hanya mau sesuatu yang di nilai salah itu bisa saya luruskan selama alasan saya itu bisa di pertanggung jawabkan.

Seperti pada kejadian yang kerap kali di alami oleh banyak orang juga. Waktu itu, saya sudah berniat dari rumah buat sholat Jum'at dengan mencoba berpakaian serapih mungkin (bisa menyesuaikan), dengan memakai parfum yang bau wanginya bisa memberi efek harum bagi jamaah lain... Inallaha jamiil wahuwa yuhibbul jammal, sesungguhnya Tuhan itu indah, dan sangat mencintai keindahan. Sampai sebelum kaki ini mendarat di halaman masjid, saya berniat untuk ngambil posisi shaf dan duduk di bagian tengah masjid, supaya lebih khusyu dan lebih mencari sesuatu yang di anggap saya nyaman dalam menyelesaikan serangkaian semua rukun sholat ibadah jum'at saya. Dan ternyata hari itu berhasil, saya di buat menemukan sensasi lebih, seperti merasa dekat dengan Tuhan saya sendiri. Itu sesuatu banget, dan Alhamdulillah.

Hingga pada proses menemukan hari jum'at kemudianya lagi, saya seperti merasa di uji dengan keistikomaan saya. Hari itu saya sengaja pergi ke masjid bersama temen, sepanjang perjalanan bukanya sambil dzikir malah ngobrol kesana kemari yang temanya tidak jelas. Setelah masuk ke masjid saya khusyu duduk mengamati isi kutbah yang terdengar dari mimbar, walopun kadang suka di hinggapi rasa ngantuk. Teman tadi yang kebetulan duduk di sebelah saya rupanya sedang di serang bete, perasaan galaunya sampai di bawa2 ke masjid. Sontak dia ngajak ngobrol. Saya cuekin karena saya sadar kalau di depan sedang ada kutbah jum'at. Dia kemudian menanyakan sesuatu, saya diamkan lagi karena lagi2 saya sadar kalau kutbah itu belum selesai.

Bukan sekali dua kali kalau teman saya yang satu itu suka menunjukan sikap yang tidak bijak kalau sudah ada di dalam masjid, senengnya ngobrol kalau ada orang yang lagi kutbah, tidak tahu tema apa yang seringkali di obrolin, yang pasti dia mungkin lupa atau memang benar2 tidak tahu tentang hukumnya seperti apa dan bagaimana sholat jum'at yang baik dan benar itu. Dari situlah melekat pada diri saya untuk mempunyai pertanggung jawaban, artinya wajib atau punya tanggung jawab untuk memberitahu sesuatu yang di nilai salah. Pada akhirnya dia ngerti. Kalau kemudian dia menganggap saya sok suci ataupun sok menggurui itu mah masalah lain.

Dari situ saya bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kemudian bisa bersikap dengan orang2 ketika sudah berada di dalam masjid, saya tidak lagi memilih tempat duduk dengan orang2 yang saya anggap kenal dekat (teman). Ini lebih pada sebuah sikap saya sendiri buat Menghindari hal hal yang bisa mengurangi kekhusyuan ibadah sholat jum'at saya kemudian.

Selama kita bisa menjemput pahala dengan cara yang tidak di sukai orang lain, mungkin di situlah nilai pahala akan menjadi lebih, dan di lebihkan. Semoga.




Gambar dari sini

15 comments:

  1. dalam perspektif islam, kita di tuntut utk bsa pinter memilih temen heeehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mas.. makasih sudah mampir dimari

      Delete
  2. kalau bisa jadi isnpirasi orang lain knapa gak ditulis

    ReplyDelete
  3. Wah, memang repot kalau ada teman yg ngajak ngobrol saat khutbah Jum'at sedang berlangsung. Sebaiknya memang dicuekin aja. Dan dia nggak berhak marah, karena toh dia yg salah, hehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih memilih utk duduk dengan orang yg tidak kenal dekat, tapi ttp ada pengecualian sya rasa

      Delete
  4. Wah, memang repot kalau ada teman yg ngajak ngobrol saat khutbah Jum'at sedang berlangsung. Sebaiknya memang dicuekin aja. Dan dia nggak berhak marah, karena toh dia yg salah, hehe....

    ReplyDelete
  5. adik saya sering cerita, katanya kalo jumatan itu suka jadi ajang ngerumpi cowok2, makanya dia kalo mau jumatan perginya sama bapak2 biar gak di ajak ngumpul gaje sama temen2nya ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbaak, hehe kontradiksi sekali ya jika benar kalo di dalam masjid malah ngerumpi, tapi insya alloh itu hanya contoh sedikit sja...

      Delete
  6. sepanjang niatnya untuk berbagi pengalaman, mengajak pada kebaikan, saya kira bukan bentuk pamer ko... :)

    ReplyDelete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More