Bicara Politik



Kalau harus di paksa berkata jujur, mustinya Alhamdulilah banget kalau dalam paruh porsi waktu sebulanan ini saya di suguhkan dengan menu peruntungan yang baik2, dan di jamin mutu: Ketika merasa di pertemukan dengan orang2 yang sudah berani jujur, di kelilingi oleh serangkaian cerita2 yang positif.

Atau bisa jadi saya merasa di beritahu untuk sesuatu yang punya manfaat bagi orang2 sekitar, amiin. meskipun kadar dari point-point manfaat tadi tidak melulu menjadi parameter sesungguhnya. Yeaah maksa banget yah Haha. Yang penting intinya saya sudah merasa nyaman untuk sesuatu yang sudah saya kerjakan sekarang. *Blasss

Eh tapi, untuk kurun waktu setahunan belakang, ketika saya sudah di jejali menu berita televisi tentang politik dan sepak terjang kisah para politisi negri ini, dengan mengakumulasi semua bentuk informasi yang sudah saya telan akhir2 ini, Seperti memperlengkap penderitaan saya bagaimana dulu pernah di buat kesel sama tingkah pongah politisi partai tertentu. Wajib untuk tidak ditiru. Gagahnya ngiklan pake angkat jempol dengan slogan katakan tidak pada korupsi; belakangan tiga bintang iklan itu berperkara dan masuk penjara. Rasain eh rasain. Haha Parahnya lagi karena kasus korupsi.

Kalau sudah bersinggungan dengan dunia politik Indonesia (khususnya untuk kedatangan pagelaran pemilu), entah tersebab apa, saya kok merasa sudah skeptis banget

Kepercayaan itu seperti nyaris hilang bukan karena di pukul uang. bahkan sudah pada kadar yang membahayakan. Setelahnya pernah di kecewakan hasil pilihanya saya sendiri. Itu dulu. Sekarang saya malah berani memilih diem di rumah sebelum menemukan pilihan yang baru. Ini sikap saya, jangan di tiru yaah. Hehe----

Di luar, ketika jam malam di pertengahan. Gak terlalu malam banget. Pikir saya orang2 itu lagi meributkan apa? Lebih mirip kayak orang bagi2 sembako... Ternyata benar saja, tau sendiri kan sekarang lagi musim kampanye.

Uang sepertinya selalu menjadi modal paling utama dan pertama untuk memuluskan dan mendapatkan jatah kursi di parlemen. Orang2 yang sudah memutuskan untuk berani maju, wajib hukumnya untuk memiliki modal besar. Titik. Itu saja dulu, jadi atau tidak jadi itu urusan tanggal nanti.

Kadang saya pengen nanya, entah ke siapa yah? Nah, di negara lain itu sama gak ya dengan negara Indonesia tentang bagaimana memperlakukan pesta demokrasi bernama pemilu. Padahal pestanya kita2 sebagai rakyat. Harusnya menjadi hak rakyat untuk memiliki pilihan sebebas bebasnya, tanpa tekanan, entah itu siapa nomor urut berapa. Yang ada malah di todong pake uang. Pada mangap, manut dan nurut!!

Semuanya selalu menomor satukan uang. Modal gede, segede ambisinya untuk menggondol suara rakyat sebanyak banyaknya. Memang ada beberapa yang memakai jalan yang saya sebut jujur. Sesuai jalur. Tapi di lapangan pada kenyataanya memeberi bukti lain. Di bacanya kaya orang lagi mabok jabatan, nyari kursi singgasana. Padahal misi yang hendak di sampaikan pada akhirnya justeru miskin realisasinya.

Apakah calon wajah pemimpin kita nanti sudah tergambar? dengan melihat bagaiman caranya mereka maju berdiri merebut kursi?

Maka, kembali ke modal awal siapa kita disini, untuk siapa kita berdiri. Karena kualitas pemimpin sebuah negara itu tidak lepas dari bagaimana kita bersikap cerdas dalam memilih. Yuuk, pilih yang menurut hati kita memang pantas untuk di pilih. Jangan membohongi diri sendiri.



 

salam :)


disini, 22032014

4 comments:

  1. plis mas jangan golput..selalu ada yg terbaik di antara yg itu2 saja..daripada kehilangan suara to? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. insya allah kalo sya sudah menemukan pilihan sya sendiri, jatuh hati itu katanya perlu proses mbaak heheee

      Delete

Tinggalkanlah komentar anda di sini

Baik tidaknya artikel ini hanya pada sebatas tujuan untuk berbagi. baik itu informasi, inspirasi ataupun sekedar basa basi. Baca juga artikel yang lain, terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More