Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Karena Sahabat Adalah Rahmat




##
Ketika jalan pendakian mimpi aku kehilangan peta petunjuk, kehilangan banyak tenaga untuk bisa sampai di titik bijak. Ada sahabat yang akan selalu siap mengingatkan, ada sahabat yang akan selalu memberi jalan untuk bisa sampai disana 


Ketika aku kehilangan sepotong harapan soal cita-cita, ketika aku kehilangan mimpi berkali-kali. Selalu ada sahabat yang akan setia memberi harapan baru, selalu ada sahabat yang siap memberi tali semangat yang lebih kuat 


Ketika aku merasa ada di titik yang terbawah, ketika aku merasa tertinggal jauh disini sendirian. Ada sahabat yang siap berdiri memberi bahu untuk kapanpun, ada sahabat yang setia mununggu sampai dimanapun 


Pun, ketika aku bersinggah pada ketinggian puncak kesombongan, ketika aku mulai lupa dengan teman dan sahabat lamanya. Ada sahabat yang akan tetap membuka pintu rumahnya dengan senyum 


Ketika aku terlalu bodoh, ketika aku terlalu banyak menelan kesalahan berkali-kali, kepada sahabat aku bisa belajar tentang semuanya 



Terimakasih Tuhan, karena sahabat adalah rahmat * senyum


Al-Hasan Al-Bashri berkata: Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki Syafaat pada hari kiamat





@rumahpetuah
Ilustrasi gambar: darisini


Hujan Yang Kesekian




Ini tentang hujan yang kesekian

Tentang janji yang belum bisa di tunaikan

Tentang kenangan yang tidak bisa akan tergantikan

Dan tentang bunga cinta yang sedang merangkai kembali lewat beberapa tangkainya.


Ini tentang hujan yang kesekian

Tentang risalah yang belum lagi membagi kisah romantisnya

Tentang rasa yang kembali mendapatkan kehangatanya

Dan, tentang beberapa rindu, yang akan terus menjadi akar bagi pohon pohon cintanya.


Satu lagi tentang hujan

Tentang sepasukan pemilik hati,

Yang akan terus setia menjadi pecinta hujan.







Imyu musim hujan, 24 november 2013

Cinta Dalam Ketidak Sempurnaan




Saya ingin mencintaimu dalam kadar rasa yang sama, ketika dirimu pelan pelan mulai bersenyawa dengan ketidak sempurnaanya sebagai manusia. 
Saya ingin memilikimu, dan menyimpanya dalam hati yang sama, ketika dirimu pelan pelan mulai bermetamorfosis dengan usia tuamu sebagai manusia.
Saya ingin membawamu pada pencarian kenikmatan surga yang sama. Ketika dirimu pelan pelan mulai lupa mengingatkan saya atas kesalahan saya dan ketidak sempurnaan kamu sebagai manusia.
Saya ingin belajar hidup bersamamu di bawah langit yang sama, ketika dirimu pelan pelan mulai menghawatirkan atas ketidak baikan dan ketidak sempurnaan saya sebagai manusia.

*****
Mungkin saya tidak setampan nabi Yusuf, Ketika saya sudah berbuat baik di hadapanmu untuk menjadi lelaki yang utuh dalam keterbatasan saya sebagai manusia. 
Mungkin saya tidak sekuat Abu bakar, ketika saya sudah berusaha untuk selalu menjagamu dalam ketidak nyamanan dari ketidak sempurnaan saya sebagai manusia.
Mungkin saya tidak semulia Rasulullah, ketika saya sudah memberikan yang terbaik di antara yang terbaik dalam sekumpulan sifat dan sikap saya sebagai manusia biasa.

***
Cinta dalam ketidak sempurnaan





_______________________________________________________________________=
RM/YF
gambar dari google

Sang Pembeli Hujan





-- Sang Pembeli Hujan -- 

Satu, dua atau tiga bulan terakhir. Rasa pada penantian itu seolah menjadi makin jauh dari ribuan tentang harapan. Jauh dari yang terus kami doakan untuk beberapa bulan. Dari rindu akan aroma tanah yang basah, dari kekeringan yang tak kunjung di tamu hujan, dari kepanasan yang sukar untuk menjadi kesyukuran, dan dari firman firman Tuhan yang terasa sulit untuk di artikan. Biarkan pesan lewat mendung itu menjadi munculnya setitik harapan akan segera datangnya turun hujan.

Lewat hujan, Tuhan seperti sedang menterjemahkan dengan tangan dan cara Tuhan sendiri. Melalui pesan pesan magisnya lewat kejadian di perankan alam, yang mengharuskan hamba seperti kita untuk menjadi lebih tergerak memunculkan upaya untuk berpikir, lalu mensyukuri apa yang sudah di tetapkan. Jikapun ada yang tidak menjadi halal untuk bisa di laksanakan, sejatinya-- Tuhan akan membuka ruang lain yang menggiring kita untuk mencarinya di ladang lain. Bukan memangku tangan dengan segudang harapan.

Seperti pada sebuah penantian tentang kapan itu hujan? Yang tak pernah mau memberi tahu kapan ia akan datang, yang tak pernah minta izin kapan ia akan pamit dari langit-- menyambangi bumi.

Kapan datangnya hujan? sebegitu rindukah bumi ini akan siraman makna sederhanamu yang sedang membagi peran? Biarkan awan awan itu sedang bekerja untuk di bagi esok hari. jika saja esok harinya lagi-- hujan ternyata bisa menyapa, itu adalah jawaban dari sang pembeli hujan, Yang membayarnya dengan sebentuk doa dan harapan.





 gambar dari google

Pendosa Malam




Dalam setiap sesiapa yang menyapa aku dalam kebosananku, di tiap kesempatan itu pula senyumku hanya menyudut di bekas senyuman esok lalu. Hanya bisa membawa pada apa yang kemarin menjadi catatan buruk aku, dengan segala kesadaranku.

Ingat malam itu, kalau sepasukan dosa aku mulai berbaris bergilir peran. Pada malam itu juga kesadaran aku mulai berkurang saat dimana peran naluri sudah kalah telak oleh sepasukan emosi yang terus menguasai. 

Pendosa malam, menjadi stempel aku yang sudah di laknat malam atas sesuatu yang sudah aku perankan. Memerankan tokoh tokoh yang sudah di vonis buruk oleh tangan tangan Tuhan.

Ahh, buruk rupa menjadi cermin aku di mata-Mu, rupanya nyali aku yang memikul dosa telah menjadikanku buruk sangka, kepada siapa saja. Hingga jatuhku-pun sekonyong konyong harus menyalahkan mereka. Sampai malam itu menjadi buta untuk menjelaskan tentang dosa anak manusia.

Bulan hanya bisa menjadi penyedap malam, tak mampu mengubah rasa tawar dari rasa anyir yang berkepanjangan. Pendosa malam, nama itu sudah menjadi tanggungan yang siap menjadi teman teman, saat di mana semua kesiapan belum di tunggangi dengan kesadaran dan iman.

Izinkan aku mengganti peran dengan segala kesanggupan dan kesiapan, dari pendosa malam menjadi sang pengumpul kalam kalam Tuhan.




** RP/YF
Imyu, 11 oktober 2012
Gambar dari Google

Berbagi Dengan Hati

Gambar dari Google


Beberapa bocah berbadan kurus, selalu menghiasi gambaran sore di kala senja sudah mau izin pamit setelah mempesiang setengah harinya dengan gagah. Sengatan matahari yang mulai lelah menjadi teman sesiapa bocah yang menjadi bagian dari pemandangan setiap harinya.

Tiga bocah, bukan sodara sekandung bukan juga sodara sekampung. mereka bertiga di pertemukan oleh waktu dan alam yang terus bersinggungan. Masing masing dari ketiganya menggembala tiga kambingnya. Dari sembilan kambing yang sering datang di luasan rumput yang terus menghijau, Ada dua kambing yang hampir mirip yang keduanya bukan sekandang, dan bukan pula sekandungan.

Pada awalnya, kedua kambing yang hampir mirip itu acapkali selalu memunculkan kebingungan buat kedua bocah pemiliknya. Satu bocah yang tidak punya masalah dengan kepemilikan kambingnya, mengusulkan dengan urun sumbang saran untuk kepdulianya dengan sesama teman. Ia mengusulkan-- agar di kemudian hari tidak menjadi masalah; satu dari dua kambing yang hampir mirip itu sengaja di kasih tanda, satu kambing di beri sebuah rantai yang melingkar di lehernya. Dan dua bocah temanya pun sepakat untuk menerima usulan tersebut yang barangkali bisa mencegah terjadinya hal hal yang punya tendensi membingungkan yang berakibat munculnya sebuah masalah.

Pada satu ketika, ketiga bocah itu sengaja istirahat di gubuk bambu yang sudah mulai tak nyaman untuk di singgahi. Hanya saja ada pohon rindang yang membuat mereka mengharuskan untuk sekedar istirahat di siang bolongnya. Setelahnya bangun dari setengah tidurnya, kebingungan itu malah menyambangi mereka ketika kambing kambing yang jumlahnya sembilan itu mendadak hilang tiga. Anehnya dari ketiga kambing tersebut adalah milik satu bocah. Entah apa yang ada di benak ketiga bocah tadi setelahnya tahu kabar kalau salah satu temanya tadi kehilangan semua kambingnya ketika mau di pulangkan ke kandang.

Masing masing dari dua bocah yang masih tetap punya tiga jumlah kambingnya, dengan besar hati untuk memberi satu kambingnya buat teman yang sudah kehilangan tiga kambingnya tadi. Jadi pada akhirnya, masing masing dari tiga bocah tadi sama sama punya dua kambing. Sebuah keberagaman. Sebuah kesamaan dalam kebersamaan. Sesuatu yang punya pesan baik untuk di terjemahkan dalam indahnya kebersamaaan.

Setelahnya di cari sampai malam sekalipun, hasilnya tidak juga di temukan. Selang dua hari kemudian, ternyata kambing itu kembali di temukan di tempat dimana ketiga kambing tadi pernah melintasi jalan menuju tempat penggembalaanya. Dengan rasa lega juga, bocah pemilik kambing yang sempat hilang itu pada akhirnya mengembalikan dua kambing milik dua temanya, yang tempo hari sempat di hibahkan. Akhirnya ketiga bocah tadi kembali memiliki tiga kambing.

Kebersamaan telah mengajarkan mereka, kedekatan dan perjuanagn ketiganya telah mempersatukan mereka, dan kebutuhan untuk bisa selalu peduli ternyata membuat mereka punya kepedulian lebih, hal yang tidak bisa di ukur dengan sebuah materi. Mereka berbagi atas panggilan hati.

Pesan yang bisa di ambil dari kebersamaan ketiga bocah tadi, mungkin tidak banyak. Tapi jika itu bisa di lakukan untuk sebuah pembelajaran, mungkin cukup dengan cara yang sederhana. Karena hal yang bisa membuat kita merasa bahagia tidak semata karena di bentuk dari nilai besarnya sebuah materi. Atau jumlah kambing yang di milikinya, tapi kesamaan dalam kebersamaan untuk saling berbagi.




Misteri Sebuah Kardus


Kemunculan dan kehadiran kardus kecil yang tergeletak di pinggir punggung jalan, membuat semua orang yang sudah lewat dan melihatnya, mendadak muncul punya pertanyaanya masing masing. Itu kardus punya siapa? Itu kardus isinya apa? Atau yang terlalu menaruh kecurigaan lebih: jangan jangan kardus itu berisi bom?? Semua orang yang sudah melintasi pinggang jalan tadi mendadak menghadirkan pertanyaan sekaligus penasaran. Hingga pada suatu ketika ada seorang pejalan kaki yang melintas di jalan tersebut kedapatan dan kebetulan menemui kardus kecil yang terserak di pinggir jalan. Di sinyalir kardus itu milik orang yang sedang lewat kemudian terjatuh tanpa sepengetahuan sang pemiliknya.

Seorang pejalan kaki tadi tidak serta merta kemudian mengambil kardus yang sudah ada di depanya. Ia lantas tengok kanan kiri dulu, sekilas mencoba mengamati bentuk kotak berwana cokelat muda tadi, kadang punya perasaan senang, terkadang timbul punya rasa takut juga--kalau kalau isi di dalam kardus tersebut bisa membahayakan dirinya sendiri. Ia memberanikan diri hingga niatan untuk membukanya bisa di lakukan, dan, ternyata kardus itu cuma kosong alias tidak punya isi. Kardus itu di kembalikanya lagi di tempat semula.

Sang pengendara motor pun lewat, mendapati kardus yang sedikit menggangu para pengendara motor lainya membuat hatinya tergerak untuk memindahkanya sekaligus ingin membukanya, siapa tahu isi dari kardus itu adalah serupa barang yang bernilai harta. Tidak perlu tengok kanan kiri dulu iapun langsung membukanya, dan ternyata kosong. Kardus itu di kembalikan lagi di tempat yang sedikit minggir dari badan jalan.

Orang ketiga yang kedapatan menemui kardus misterius tadi adalah seorang pengemis, ia menyambangi setiap ruko dan toko untuk mengharap belas kasihan orang lain, hingga di pertemukan pada sebuah kardus kecil saat di mana ia mau meneruskan perjalananya menuju ruko ruko lain. Di bukanya kardus itu, dan ternyata kardus itu tetep saja kosong. Sang pengemis meninggalkanya tanpa mau peduli kardus itu punya siapa. Karena yang ia cari adalah uang dan makanan.

Untuk yang kesekian kalinya kardus itu menyisakan pertanyaan dan penasaran banyak orang, tidak terkecuali dua pemuda pengamen jalanan. Keduanya saling berebut dan berharap isi dari kardus itu adalah sebuah barang yang cukup berharga. Rasa penasaran kedua pemuda itu cuma bisa di jawab dengan perasaan sedikit kecewa. Karena setelah di bukanya kardus itu dengan hati hati, dan ternyata tidak mendapati apa apa. seperti yang sudah di alami oleh tiga orang tadi.

Kardus itu tetap utuh dan berbentuk seperti semula, hanya saja kali ini kardus itu agak sedikit ringsek karena sudah berkali kali di buka dan di periksa oleh empat orang tadi. Dan orang yang kelima yang berhasil mendapati kardus misterius tersebut, adalah seorang pemulung. Ia nampak lelah karena sedari pagi cuma mendapati beberapa barang rongsokan saja. Begitu menemukan kardus utuh di pinggir jalan, ia juga sama dengan beberapa orang sebelumnya yang di hinggapi rasa penasaran ketika harus di pertemukan dengan sebuah kardus yang nampak kelihatan punya isi. Seketika si pemulung ini mencoba membukanya, begitu kardus ini sudah terbuka, ia langsung bersujud simpuh tanda terimakasih sebagai perwujudan dari sikap rasa sukurnya, bahwa rejekinya sudah ia genggam sekarang. Sudah ia dapat dari sisa sisa yang di anggap oleh orang lain sebagai barang bekas.

Mungkin bagi keempat orang tadi, kardus kosong tetep saja kardus yang tidak mempunyai manfaat apa apa. Tapi bagi pemulung, kardus bekas adalah bagian dari memperpanjang jalan rejekinya, sekaligus penyumbang dan penyambung hidupnya.

Semua orang tidak melulu punya penilaian dan perlakuan yang sama pada sebuah kardus tadi, ada saatnya bagi kardus bekas ini mendapat perlakuan yang spesial dari orang lain. menganggapnya, bahwa kardus itu punya nilai yang cukup mahal untuk di jual. Begitu juga ketika orang lain harus menilai kita, bersikap sama kita, dan memperlakukan kita. Tidak semua orang menganggap kita adalah biasa biasa saja dan gak terlalu penting. Saya masih percaya, dan berkeyakinan; selama kita masih bersikap baik dan berbagi dengan banyak orang, selama itu pula kehadiran kita masih layak dan pantas untuk di butuhkan oleh orang lain.






Pecundang Yang Garang


Awal dari kejadian itu, bermula dari keberanian seorang pak waluyo sebagai penyemir sepatu untuk masuk ke rumah makan yang sedikit punya kesan kelas mewah, padahal duit sedang cekak yang barangkali sedikit punya kehawatiran kalau saja setelahnya makan-- pak waluyo justeru mendapati kalau dompetnya jadi hilang ketebalanya.

Setelah masuk ke rumah makan sembari istirahat siangnya, ia membuka dompet dan menimbang nimbang jumlah kebutuhan duitnya. Intinya pak waluyo merasa sedikit takut, dan meniatkan sengaja makan dengan menu yang sesederhana mungkin mengingat dari pilihan pak waluyo sendiri untuk sedikit bisa memanage isi dompet. Pak waluyo berpikir; Segala sesuatu yang bertujuan baik, tentu harus punya perhitungan yang baik juga bila kita tidak ingin terjebak pada kesalahan kita sendiri. Disitu waktu itu pak waluyo duduk ngambil posisi di bundaran meja bagian tengah. Setelahnya pak waluyo duduk sambil menunggu makanan yang sudah di pesan, ia terlihat sangat lapar sekali sambil sesekali memutar pandangan matanya ke beberapa meja kursi yang berderet rapih ber cat kuning keemasan.

Pada deretan meja depan dimana pak waluyo duduk, nampak dua orang gagah garang berseragam kepolisisan, dan persis di deretan meja samping nampak seorang pria berdasi sedang menunggu pesananya sambil sesekali memainkan ponsel pribadinya. Ia seolah acuh dengan sekelilingnya. Pria berdasi tersebut mengambil tempat duduk lebih awal dari pada pak waluyo ataupun dua pak polisi tadi.

Dua polisi berseragam nampak sedang terlibat obrolan serius yang barangkali susah di mengerti oleh pak waluyo sebagai seorang tukang semir. Pak waluyo hanya bisa diam karena tidak ada yang bisa di mainkan kecuali memainkan hati dan gerakan mulutnya untuk selalu tetap berdzikir. Tiba-tiba datang seorang pria sebagai pelayan rumah makan nampak sudah membawa menu menu yang sudah di pesankan di kedua tanganya. Pak waluyo berdiri untuk memastikan kalau pesananya sudah datang, tapi pelayan itu cuma memberi sekulum senyum karena pesanan tersebut memang di peruntukan buat pria berdasi tadi yang sudah lebih dulu datang lebih awal. Akhirnya pak waluyo duduk kembali sambil menahan malu pada diri sendiri. Kirain pesanan saya, ternyata salah. Bapak paruh baya ini membatin.

Beberapa menit setelahnya, suara gelas pecah sontak menarik pehatian sebagian pengunjung rumah makan. Karena mungkin kurang hati hati atau ada kesalahan kecil lain yang pada akhirnya gelas yang hendak di sodorkan ke meja buat pria berdasi tadi langsung tertumpah. Pria berdasi itu merasa di kagetkan, tidak terima dan langsung marah dan mendorong pelayan tadi hingga piringnya ikut terpelanting dan jatuh terduduk. Ia membentak dan menghardik sepuasnya karena baju putih dan sepatu hitamnya sudah berubah warna alias kotor. Bahkan pria berdasi tadi mengancam untuk mengusulkan agar pelayan tersebut bisa segera di pecat dari pekerjaanya.

Setelah bangun dari jatuhnya, sontak pelayan tadi mendadak mukanya memerah, tanda kalau ia sangat malu dan hatinya merasa tersakiti. ia hanya bisa diam, mengiba dan terus meminta maaf atas kesalahnya, sesekali ia mencoba membersihkan baju pria berdasi tadi. “Tidak usah, gak bakalah bisa bersih”pria tersebut menampik tangan pelayan tadi yang hendak membersihkan dan meminta maaf. Sekali lagi ia mencoba meminta maaf yang mengatakan kalau perbuatanya tersebut bukanlah atas kesengajaan, itu semata atas kelalaian dan dengan kesalahnya tadi ia siap untuk mengganti rugi bilamana itu adalah permintaan dan jalan terbaiknya untuk menyelesaikan masalahnya. Semakin banyak penjelasan justru pria berdasi itu semakin naik pitam dan marah besar dengan mengeluarkan kata kata kotor yang tidak pantas keluar dari mulut seseorang yang nampak punya pendidikan tinggi.

Pak waluyo hanya bisa diam walaupun sempat menenangkan pelayan tadi untuk mundur dua langkah guna menghindari tindakan marah yang lebih parah, pak waluyo merasa hatinya tersakiti dengan melihat bagaimana pelayan yang ramah tadi terus di caci maki. dalam hati ia ingin sekali melerai dan siap menyemir sepatu punya pria berdasi tadi. Namun apalah daya pak waluyo adalah pak waluyo, ia memilih diam untuk menghindari situasi yang bertambah panas. Saat itu keberanianya belum bisa mengalahkan ketakutanya. Semua mata yang tertuju pada kejadian yang miris tersebut hanya bisa bersikap diam bak pecundang. Tidak terKecuali dua orang polisi tadi yang sedari tadi hanya bisa duduk menonton, mengiba dan diam tanpa punya keberanian sedikitpun untuk menghentikan pria berdasi itu yang terus mencaci maki pelayan tadi, hingga sudah punya niat berbuat kasar.

Merasa punya sekumpulan keberanian yang masih tersimpan di ubun ubun, pak waluyo langsung berdiri sambil menggebrak meja dengan kotak semir sepatunya, langsung saja suara gebrakan meja tadi menarik perhatian banyak pengunjung di sekitaran rumah makan. “Anda anda semua kenapa pada diam, seperti tidak punya keberanian untuk tujuan membenarkan. Termasuk kau dua perwira polisi, anda anda tidak lebih sebagai seorang pecundang yang garang”.... Memuntahkan semua kalimat sisa sisa keberanianya, pak waluyo menuding lurus dua muka polisi tersebut, karena di anggapnya sebagai pecundang yang garang yang tidak mempunyai keberanian.








Lelaki Ombak



Misteri hidup para mereka penghuni tanah suatu saat akan bisa di ungkap walau pada saat yang begitu lama. Ya, manusia manusia pilihan adalah mereka yang tidak pernah mengukur sesi kebahagiaan hidupnya dengan kebahagianya seorang diri.

Lelaki ombak. Dia tahu benar mana yang harus di hadapinya semata untuk melunasi sebuah kewajibanya. Pun jikalau harus menabrak karang yang kokohnya sekuat benteng perang. Ia akan haramkan pangku tangan untuk cepat cepat singsingkan dua lengan.

Lelaki ombak. kuatmu adalah pesan untuk berkata tidak pada rasa menyerah. Hajar, mundur, hajar lagi dan mundur lagi. Tidak pantas untuk kau katakan tidak bisa. Harus bisa, bisa untuk siapa? Mereka para manusia manusia penghuni tanah raya. Mereka pasir pasir yang keberadaanya tak mau di usir. Mereka para batu karang yang bisa belajar dari kedatanganya.

Lelaki ombak, bijakmu menyamaratakan ketidak adilan, menyamakan ruang perbedaan, dan menutupi lubang kecemburuan. Sikapmu tak lain hanya pada sebatas bentuk pesan dari sebuah perjuangan-- yang mestinya tidak ada kata akhir sebagai kesudahan.

Lelaki ombak. Sikapmu yang berkali kali menerjang batu karang, mencumbui berjuta butiran pasir dalam telanjang, terkadang berteman dengan pasang dan sesekali membawa haru biru bak peristiwa menang di gelanggang perang.

Lelaki ombak, meski kau tak pernah bisa melumasi seisi pantai, meski kau hanya bisa bertenaga karena angin angin, seperti pada hubunganmu dengan mahluk alam raya lain. Pasir pasir lah yang hendak mereka berucap terimakasih. Seraya membawa pada kehangatan hidup, bahwa kiranya ombak akan selalu bersahabat dengan angin angin, bersahabat dengan pasir pasir, bersahabat dengan para penghuni penghuni tanah yang siap menyegerakan hadir setelah lahir.

*
*
*
*
Imyu, 8 maret 2012


Lomba Lari Antara si Kaya dan si Miskin


Buat mempersiapkan lomba untuk keesokan harinya, si kaya tengah mempersiapkan segala sesuatunya. baik strategi, fisik, mental, bahkan suplemen sebagai penunjang dari tujuanya untuk bisa tetap bugar sebelum lomba itu di mulai. Si miskin juga sama, ia sudah mempersiapkan semuanya tak lain salah satunya adalah dengan berdoa supaya bisa selamat sampai tujuan, dan satu botol air putih-- dengan harapan air itu bisa memperpanjang nafasnya sebelum menyentuh garis finish.


Lomba adu kecepatan balap lari tersebut rencananya akan menempuh jarak 6 kilometer. dengan rute mengitari jalan raya yang mungkin bisa melewati semua sisi ruas kota yang tentunya akan di padati banyak pemukiman di sepanjang garis rute. Si kaya merasa yakin sekali dengan kondisi fisiknya untuk bisa menyentuh garis finish secepat mungkin agar nantinya bisa mengalahkan si miskin. Si miskin juga merasa yakin setelah memperbanyak doa kalau dirinya bisa menyelesaikan 5 kilometer-nya dengan selamat tanpa ada halangan berupa cidera atau apapun. dari target keduanya si miskin kelihatan tidak mempunyai beban-- artinya ia tidak sama sekali mengutamakan garis finish dulu.

KILOMETER PERTAMA
Dalam posisi sedikit menjongkok,Keduanya terlihat begitu serius dengan tatapan matanya yang mengisyaratkan bahwa perhelatan besar akan segera di mulai. Start di mulai! Si kaya dan si miskin masih punya posisi sejajar untuk mengayuh kedua kakinya dalam tempo langkah yang tidak begitu cepat. Keduanya sangat berhati hati sekali mengatur ritme ayunan kedua kakinya untuk menghindari keram ataupun cidera di awal awal lomba.

KILOMETER KEDUA
Si kaya sepertinya terlalu bernafsu untuk bisa segera menuntaskan 5 kilometernya dengan membangun taktik gerakan kaki secepat mungkin, akhirnya si miskin jauh tertinggal di belakang. Si miskin jauh lebih sabar, ia memilih lebih fokus pada pengaturan nafas supaya tidak terlalu boros dalam mengeluarkan tenaga. Sesekali keduanya meminum sambil memegang botol air minumnya masing-masing. Hanya saja si kaya lebih sering menenggak air minumnya karena sudah berada di depan yang sudah barang tentu mengeluarkan tenaga lebih banyak dari pada si miskin.

KILOMETER KETIGA
Ini separuh dari perjalanan, yang mengharuskan butuh kondisi fisik agar selalu tetap prima sebelum menyentuh garis finish. Si kaya yang pada umumnya mempunyai badan yang lebih tambun dari si miskin, pada separuh perjalanan menuju finishnya ia harus memperlambat gerakanya karena kehabisan tenaga akibat terlalu bernafsu yang mengakibatkan hilangnya sisa sisa tenaga simpanan. Si miskin lain lagi, ia lebih konsisten menyamaratakan gerakanya hingga menghasilkan irama yang sederhana dengan menghemat sisa-sisa tenaga yang pada akhirnya menghasilkan sebuah kondisi fisik yang tetap prima.

KILOMETER EMPAT
Semuanya, baik si kaya maupun si miskin seperti dalam posisi sedikit kehabisan tenaga, semua botol minumanya habis sejak di kilometer ketiga. Karena si kaya merasa membawa uang di kantongnya, ia lantas membeli minuman di pinggir jalan dengan harapan bisa memberi tenaga lebih untuk bisa membawanya menuju finish. Sifat jujur si kaya mulai terkikis habis akibat sulitnya mendapatkan suntikan tenaga baru, ia mencoba mengkonsumsi doping yang sebenarnya sangat di larang dalam event lomba apapun. Dalam urusan isi kantong, jelas Si miskin tidaklah sama dengan si kaya, kedua kaki saja nyaris cidera karena tidak memakai sepatu sama sekali. Tapi si miskin tetap berusaha mengatur langkahnya, tenaga dan semangatnya, ia juga mengedepankan sikap fairplay untuk jujur dengan semua aturan yang sudah di sepakati oleh pihak penyelenggara. imbas dari mencoba memilih beli minuman di tengah lomba, si kayapun akhirnya bisa di lewati oleh si miskin dengan begitu cepatnya. Alhasil si miskin pun jauh di depan meninggalkan si kaya yang lebih jauh terkuras tenaganya akibat terlalu bernafsu di awal awal lomba.

KILOMETER LIMA
Garakan si kaya mulai lamban jauh lebih lambat dari beberapa kilometer sebelumnya. Tidak ada yang bisa untuk dimintai pertolonganya agar bisa masuk garis finish lebih cepat, tidak terkecuali uang yang sudah di bawanya. Akibatnya si kaya merasa tertekan dan terintimidasi oleh target dan nafsunya sendiri, dan merasa semangat itu tiba tiba hilang karena sudah jauh tertinggal di belakang. Si miskin tetap pada kepercayaan dirinya untuk tetap fokus pada tujuanya kedepan, tidak terganggu oleh hal apapun. Ia sudah di atas angin dan terus menjaga konsentarsi dan mengatur semua tenaganya yang sudah terkuras habis. Ia masih tetap sabar karena sedari awal ia cuma punya tujuan untuk bisa selamat sampai garis finish.

KILOMETER ENAM (Terakhir)
mendekati akhir lomba menuju garis finish, si kaya rupanya mendapat suntikan semangat baru hasil suport dari beberapa temanya di pinggir jalan, “ ayoo si kaya.. Semangaaat, lebih cepat larinya "

Kenyataanya Si kaya tetaplah si kaya, kesombonganya membungkam semua porsi energinya, tubuh tambun nya menjadi semakin lambat akibat kelebihan mengkonsumsi obat doping. Alih alih perbuatan curangnya bisa menyuntikan tenaga baru lewat pengaruh efek doping, justru tenaganya sama sekali tidak bisa menyanggah beban berat tubuhnya--- dan pada akhirnya hanya menjadi sia-sia belaka. semuanya tidak ada yang bisa menolong untuk mengalahkan si miskin. si kaya akhirnya menangis dan terkapar di tengah jalan sebelum menyentuh garis finish yang sudah di tentukan sebagai tanda selesainya perlombaan. Si miskin lah yang pada akhirnya menyentuh garis finish lebih dulu. Ia langsung bersujud tanda syukur karena berhasil dan selamat sampai tujuan. Gagal total dan ini adalah di luar perkiraan saya. Si kaya mencoba berbicara menyesali dirinya sendiri.

Si miskin pun akhirnya mengukir sejarah baru sebagai pelari pertama di dunia yang bisa mengalahkan lawanya tergeletak di tengah lomba dengan kemenangan lewat cara unik alias KO, sekaligus mengukuhkan dirinya menggondol raihan medali emas. Pengalungan medali sendiri di lakukan oleh “surga” selaku pihak penyelenggara.

Setelah selesai prosesi pengalungan medali, seperti kebanyakan atlet idola publik lainya, si miskinpun menghadiri jumpa pers di tengah kerumunan banyak wartawan. Ia menceritakan semuanya tentang keberhasilanya meraih medali emas.

“ Pertama tama dan utamanya adalah, saya merasa sangat berterimakasih sekali atas dukungan dan doanya. Terutama buat bapak sabar, buat mbak istikomah, buat mbak jujur, serta buat bapak doa juga dan bapak percaya diri. karena pada dasarnya hasil peran dari mereka mereka-lah yang pada akhirnya bisa mengantarkan saya untuk duduk dan berdiri dengan medali ini. Saya bersukur bisa menjadi yang pertama walaupun pada awalnya saya hanya menargetkan bisa nyampai finish dengan selamat, Saya bisa berhasil menyentuh garis finish karena saya lebih mengutamakan kesabaran dalam menuju tujuan saya sendiri dari pada harus buru buru karena nafsu. Saya juga lebih mengutamakan fokus pada perjalanan lomba dari pada memikirkan hal lain yang justru punya tendensi mengganggu konsentrasi saya sendiri. Saya juga lebih memilih bersikap sportif dari pada harus pakai doping, yang justru berakibat terancam denda dan skorsing. Atau barangkali saya juga lebih berusaha untuk istikomah dalam setiap perjalanan perkilometernya, itupun sudah di buktikan sekarang-- karena saya hadir disini adalah bukti dari peran serta saya dalam mengedepankan sikap jujur, sabar, percaya diri dan istikomah. berkaca dari strategi saya sepanjang lomba kemarin, saya akan berusaha meng-aplikasikan-nya dalam kehidupan nyata saya kedepan. Terimakasih semuanya, terimakasih juga untuk dukungan dan doanya ”

Dari sepotong cerita sederhana di atas, walaupun itu fiksi, kiranya itu menjadi hal yang layak untuk di terapkan dalam bentang perjalanan hidup kita kedepan. Fungsi dan tujuan hidup yang kita tahu bagi kebanyakan orang adalah sukses dunia dan akhirat, walaupun itu susah. Tapi kalau bisa di kerucutkan pakai pakem prinsip yang lebih sederhana. Tak usah lah menjadi yang nomer satu, cukupkan strategi dan hati hati bagaimana nantinya diri ini bisa selamat dalam menuntaskan perjalanan hidupnya kelak.






(Fiksi, Renungan)

Jika Saja “Sepatu” itu Bisa Membantu

Mungkin fungsinya sama seperti apa yang di alami oleh sepatu sepatu lain pada umumnya. Entah itu yang punya merk ataupun hanya sepatu bekasan-- Sepatu ini selalu membawa dan mengantar setiap kali pemiliknya pergi dengan segudang rutinitas kesibukanya, sepatu ini tidak pernah bosan, apalagi mengeluh. sampai sepatu ini tidak pernah di pertemukan dengan air untuk beberapa bulan yang mengakibatkan dirinya menyandang dan mengumandangkan bau tak bersahabat. Ia terus menjadi pelayan sang pemiliknya kemana pun mereka pergi, entah itu sibuk ke kantor, menyambangi hotel, mampir ke restaurant, melepas penat main ke wahana hiburan, bahkan sampai balik lagi kerumahnya. Semuanya di lalui dengan hal yang sama dalam rutinitas yang hampir sama, dan dengan nasib yang sama pula. Setelahnya sampai rumah, ia hanya di simpan dan di biarkan begitu saja di bawah kolong meja berjejal berdesak desak.


Sedemikian lama ia terus mengalami fase rutinitasnya yang sepertinya sangatlah melelahkan, Itu dalam kacamata kita. Ia di bawa pemiliknya menyambangi banyak tempat, bahkan dalam hal yang paling membosankan sekalipun. Waktunya tersita habis. Saat pagi pagi ia harus menemani pemiliknya pergi ke kantor, kalau saja sepatu ini bisa berujar, maka ia akan mengatakan kepada tuan nya.

“ oke lah saya akan berlaku baik menemani tuan saya pergi ke kantor, siapa tahu dia bekerja menyelipkan niatan untuk ibadah”

Sepulang dari kantor, sepatu ini tetep setia menemani sang tuan nya (pemiliknya) entah pergi kemana, salah satunya ketika sang tuan punya niat untuk makan siang di Restaurant.

“saya harap di restaurant ini tuan bisa makan dengan lebih dulu membaca doa, nyatanya sebelum makan tuan malah sibuk dengan memainkan Ponselnya”.

Sepatu ini masih saja setia dengan fungsi dan tugasnya, untuk terus mengantarkan tuanya sampai menghabiskan banyak tempat sebagai rumah singgahanya. Sepulang dari restaurant, tuan tadi sibuk dengan salah satu ponselnya. Rupa rupanya ada jam lain, ada agenda lain di luar jam kantornya untuk bisa ketemuan dengan teman dan koleganya. Menghabiskan waktu sore-- tuan memilihnya duduk di cafe membincangkan hal hal yang sepenuhnya untuk urusan yang tidak melulu penting.

“ saya tahu betul apa yang sudah tuan bicarakan dengan sahabat dan kolega tuan, tidak lebih hanya sekedar menghabiskan waktu untuk sesuatu yang belum di anggap penting buat keluarganya di rumah. Kalau boleh mau jujur, saya sarankan mending tuan cepet pulang, nyatanya isteri dan anak-anak tuan sedang menunggu di rumah”.

Sepatu ini tidak kenal dengan kata letih, tidak boleh protes dengan rasa bosan, dan tidak pernah memproklamirkan keluh kesahnya sama sekali- dengan terus mendampingi tuan, meskipun sang tuan mencoba mengatasnamakan tugas lemburnya hanya untuk mencari tempat hiburan yang menyediakan mangsa para penikmat malam.

“saya tahu tuan pergi ketempat hiburan malam cuma alasan untuk menghilangkan rasa penat sehabis capek dengan urusan kerjanya. Tapi tidak harus dengan dalih apapun untuk membohongi keluarganya sendiri, sungguh kasian mereka terus menunggu di rumah. Saya tahu tuan bohong, dan saya juga tahu kalau tuan belum pernah sholat sedari pagi, baca do'a sebelum makan pun juga tidak”

Hingga ada masanya sepatu ini merasa bosan dengan semua dan segala aktivitas tuan-nya, berhari hari hingga berbulan bulan sepatu ini selalu setia pada tugas dan fungsinya. menyanggah berat tubuh tambun sang pemiliknya, mengantarkan beribu langkah sang pemiliknya, bahkan sampai ke tempat yang tidak menyenangkan sekalipun. Atau paling tidak sudah menyanggah ribuan dosa, karena sang pemiliknya lalai dengan urusan dunia. Dunia semata-- yang acapakali menjadi tujuan utama untuk mati dan hidupnya sang tuan.

jika saja sepatu ini punya permintaan dalam bentuk keinginan yang bisa di ucapkan.

“Saya juga ingin punya pahala seperti mahluk serupa orang, atau paling tidak menyaksikan sang tuan bisa pergi ke masjid untuk sholatnya, akhir-akhir ini saya bosan dengan suasana kantor, restaurant, hotel, cafe bahkan harus masuk ke tempat hiburan malam lagi. Bisiiing! Gak ada adem ademnya... Tahukah tuan? kalau boleh saya sedikit punya kapasitas untuk meminta tanpa memaksa, saya ingin mendengarkan merdunya kumandang adzan tepat waktu, saya ingin melihat kesibukan orang-orang yang hendak berjamaah di masjid dengan khusyu, saya ingin merasakan bagaimana tuan bisa mendeklarasikan hidupnya dengan tawadhu, saya ingin di pertemukan dengan kedua kaki tuan yang masih basah karena air wudhu, saya ingin melihat tangan tuan menyisakan sedikit rejekinya untuk orang yang tidak mampu, saya ingin sepatu tuan ini bisa sedikit membantu, sekalipun dalam bentuk mengingatkan dan memperingatkan. kalaupun saya bisa berdo'a maka hari ini juga saya akan berdoa seraya berharap bapak tuan selalu dalam petunjuk, tuntunan dan Ridhonya. ”.

Hingga pada masanya sepatu ini di pertemukan pada kondisinya yang mulai rusak, tidak terlihat mewah lagi, dan lapuk. Dan tinggal menunggu waktu saja kalau nasib sepatu ini akan jatuh di pelukan kaki orang lain. Sepatu ini akhirnya masuk ke markas penjual barang loakan, alih alih mau di jual ke orang lain, sang pedagang barang loakanpun memakainya sepatu itu, dengan alasan masih bagus dan sangat layak untuk di pakai buat keseharianya. Tentunya beda orang sang pemiliknya beda pula cara pemakaianya, cara merawatnya, cara menyikapinya bahkan punya tujuan kemana saja sepatu itu akan terus menemani sang pemiliknya jelaslah akan beda. Baru pertama kali memakai sepatu ini saja sang tuan (baru) sudah mengucapkan syukur berkali kali, sebagai tanda terimakasih atas apa yang sudah di dapatkan berupa rejekinya. Beda jauh dengan tuan lama sebagai orang dari pemilik sepatu sebelumnya.

“Terimakasih tuan, karena tuan sudah bisa membuat saya jadi betah berlama lama dengan kaki tuan. Walaupun saya berstatus barang bekas tapi tuan sudah bisa memperlakukan saya dengan amatlah baik, dengan wajar dan tidak melulu di bawa pada urusan dunia semata. saya juga bersukur karena saya sudah sering mendengarkan bagaimana tuan selalu merasa berkecukupan atas semua rejeki yang sudah di dapatnya. Di sela kesibukanya, rupanya tuan tidak pernah lupa untuk menyempatkan membasuh sebagian anggota tubuhnya dengan air wudhu, mensegerakan kewajibanya buat singgah ke masjid, selalu melafadzkan kalam kalam atas nama Tuhanmu, bahkan menyisakan sedikit rejekinya untuk di masukan ke kotak amal. Saya bahagia dan selalu ingin terus mendampingi tuan kemanapun tuan melangkah”.

Sepatu ini merasakan kenikmatan yang sebenarnya sebagaimana perlakuan dari sang pemiliknya yang sekarang.

*****
Jika saja sepatu itu bisa membantu, mungkin kita akan menjadi tahu apa saja yang harus di lakukan pada saat kita sedang lupa waktu, pada saat kita menjadi tidak tahu, pada saat kita kelebihan uang saku, pada saat kita selalu di sibukan dengan dunia yang semu, dan pada saat kita sedang mencari jati dirinya yang sedang berproses dengan waktu. Waktu di mana kita akan selalu dalam naungan ridho dan Petunjuk-Mu.


Amanat Ayu Dari Seorang Ibunya Adalah "Pesan" Buat Presiden

Sejak dari jauh hari sebelum memasuki ajaran akhir tahun, setiap dari murid kelas lima SD nusantara sudah di anjurkan oleh para gurunya untuk rajin menabung, ide guru tersebut semata untuk melatih para siswanya agar bisa belajar hidup hemat dengan sedikit menyisihkan sisa uang sakunya. tidak terkecuali untuk Ayu sendiri, sebagai bagian dari salah satu murid yang Alhamdulillah sudah bisa menabung walaupun hanya satu kali dalam seminggu. bocah polos__ maaf kata___ yang tidak memakai kaos kaki tiap kali masuk sekolahnya ini tampak begitu sumringah ketika mau mengambil semua dari jumlah uang tabunganya. Sambil berjalan menuju kantor sekolah, tangan kanan nya terlihat memegang buku tabungan tersebut, sesekali jari jarinya bergerak mengikuti gerak mulutnya yang terus komat kamit tanda sedang menghitung jumlah saldo tabunganya. Tiap dari langkah sepatunya menabuh gaduh seisi hamparan lantai, menderu deru karena langkahnya yang begitu cepat. pikiranya menebak nebak dan menerawang, akan mendapat berapa uang yang akan di ambilnya nanti. berharap sepulang sekolah ibu sudah bisa membeli beras. gumam gadis kecil ini dalam hati.


Biasanya tiap dari seorang guru akan menanyakan setiap dari para murid yang hendak mau mengambil uang tabunganya tersebut. Salah satunya untuk si ayu sebagai bocah yang lahir dari keluarga yang kurang mampu ini. ”kenapa harus di ambil nak, bukanya sebentar lagi mau naik ke kelas enam, dan biasanya kalau udah kelas enam akan lebih banyak membutuhkan biaya, disitulah gunanya uang tabungan ini.. Tapi ya itu cuma saran dari bapak sebagai wali kelas”. Bapak wali kelas mencoba menjelaskan. Lantas ayu mendadak diam mendengar nasihat dari gurunya, dia merasa sedikit bingung untuk menterjemahkan antara nasehat guru dengan perintah dari ibunya. lebih dewasa dari usianya sekarang, ucapan bocah ini begitu bijak dan polos. ”tapi ini amanat dari ibu dan uang ini buat beli beras, saya gak mau nanti pulang sekolah ibu menjadi sedih karena hari ini ga jadi beli beras”. Sambil nampak menyiratkan wajah sedihnya ayu tampak duduk tenang, dengan meletakan buku tabunganya di meja guru, anak ini mencoba menjelaskan alasanya dengan runut kepada guru kesayanganya. sang guru pun merasa terenyuh setelah mendengar penjalasan dari salah satu murid didiknya, mendadak emosi batin nya ingin berbicara menyikapi banyak perasaan, antara kagum, kasihan dan bangga. Tentu bangga karena sang guru sudah memiliki anak murid seperti ayu.


Alhamdulillah hari ini ibu sudah bisa beli beras, celetuk ayu dalam hati setelah selesai mengambil sedikit uang tabunganya. kabar baiknya tersebut langsung di ceritakan kepada teman kelasnya yaitu utami. akhir dari cerita ayu di dalam kelas sekaligus mengakhiri waktu belajar untuk hari itu. hari yang mungkin sangat terasa panas. Para murid pun di izinkan pulang setelah bel sekolah berbunyi tanda waktu belajar sudah habis. semua murid termasuk teman ayu sendiri bergegas pulang menuju pintu keluar kelas. pedagang minuman teh manis yang sudah mangkal di depan gerbang sekolah seolah mendadak di bikin gaduh dengan tingkah teman-teman ayu yang hendak antri membeli minuman. ayu yang sedang menunggu salah satu temanya kelihatan cuma berdiri diam dengan memegang tas kusutnya dengan sesekali mengusap bagian lehernya yang terus berkeringat, entah apa yang ada di pikiran bocah perempuan ini. antara senang, sedih, bersyukur atau mungkin terbebani. pandanganya terus memperhatikan teman temanya yang saling berebutan membeli minuman, Sesekali tatapan matanya kosong. ”Eh ayu kenapa gak ikutan beli, uang hasil tabungan kamu kan banyak banget”. utami seolah mencoba menyadarkan lamunan ayu. ”Engga.. kamu aja, Ini amanat ibu dan ini uang punya ibu buat membeli beras, jadi saya gak bisa sembarangan memakai uang ini mii. cukuplah saya minumnya di rumah saja”.


Setelah merasa tidak di gaduhkan lagi oleh keberadaan para temen ayu, lantas bapak yang sehari harinya cuma jualan minuman tersebut mencoba terus mengamati ayu yang sedari tadi cuma berdiri diem memperhatikan teman-temanya. Merasa kasian dan iba, merasa berdosa untuk membiarkan gadis ini tampak seperti kehausan, kecemburuan atau ada sesuatu yang harus di terjemahkan oleh pikiranya sendiri. bapak tersebut mencoba menawarkan sikap baiknya kepada ayu, tapi ayu buru-buru dengan cepat menggelengkan kepalanya, tanda untuk menolak tawaran tersebut. ”Ini buat kamu neng, gak usah bayar pakai uang, udah sini ambil aja”. Pedagang minuman tersebut mencoba untuk meyakinkan niat baiknya kepada bocah kecil ini. Untuk yang kedua kalinya ayu tetap saja menggelengkan kepalanya. ”Kenapa sih yu di kasih ko gak mau?”. Ayu nampak sedikit mencermati apa yang sedang di katakan teman dekatnya tersebut. ”gakpapa ko, ini amanat ibu, kata ibu jangan sembarangan mau menerima pemberian dari orang yang baru di kenal, apalagi ayu baru lihat sekarang ”. Ayu lagi lagi mencoba menjelaskan tentang pentingnya sebuah amanat. apalagi amanat itu adalah dari orang tuanya sendiri. Pikir bocah ini amanat itu sangatlah penting dan tidak bisa di rusak oleh tujuan dan alasan apapun, karena hal tersebut adalah sebuah kepercayaan besar dari ibunya.


Nampak dari semua sikapnya, ayu seolah sudah menjadi pribadi yang hebat. Jauh lebih hebat dari usianya sekarang. Ayu juga teguh dalam memegang prinsip hidupnya selama ini. jujur, tanggung jawab, setia dengan sebuah amanat dan tidak pernah menghalalkan cara cara yang menurut dia sendiri sebagai sesuatu yang di nilai salah. gadis yang hampir semua perintah ibunya sepertinya menurut dia sendiri adalah pekerjaan yang paling mulia. Sambil menelusuri lorong jalan gang sempit bersama utami, dalam perjalanan pulangnya kedua bocah ini lantas terlibat dalam obrolan khas anak murid SD yang kebanyakan menceritakan tema dan kejadian seru di dalam kelasnya. Begitulah cara dua sahabat ini dalam sebagian aktifitas keseharianya, Sesekali keduanya bergantian minum es dalam botol plastik yang sama. Saat tibanya di depan rumah utami, persis di ujung gang yang hendak berbelok, ayu pun di ajak untuk sekedar main sebentar, tapi lagi-lagi ayu menolak semua tawaran tersebut karena sebuah alasan yang hampir sama, yaitu dengan dalih amanat dari seorang ibu. Buat ayu sendiri, sepertinya kata seorang ibu adalah sebuah sabda. dan amanat sendiri adalah pesanan dari Tuhan. ”Maaf mii, lain kali aja ya... ini amanat ibu. Kata ibu selesai pulang sekolah uangnya buru buru buat beli beras. Jadi kasian aja kalau ibu harus menunggu kelamaan”. Cuma bentar ko yu, bilang aja sama ibu kamu kalau ada tugas kelompok gitu dari guru. Timpal teman ayu setengah memaksa. Ayu nampak punya sikap tidak setuju dengan alasan mencoba membohongi ibunya sendiri. ”Maaf sekali lagi maaf ya mi, ayu jadi ingat sama amanat ibu tempo hari, katanya jangan suka membiasakan berbohong. termasuk untuk sebuah alasan yang kecil sekalipun”. Teman ayu mendadak melongo pertanda kagum sama penjelasan dan semua alasan ayu selama ini. Alasan yang selalu bersumber dari perkataan ibunya sendiri. amanat dan semua pesan baik ibunya adalah emas bagi setiap langkah bocah perempuan ini. Buat ayu, amanat di rasa sangatlah penting. kilauan materi dan hegemoni dunia terkadang bisa mengaburkan arti dari sebuah amanat. di situlah sesungguhnya dia sedang belajar. Belajar dari bagaimana mengemban amanat yang bermanfaat.


”Ternyata kamu pinter banget memegang amanat, tiap hari dapat berapa amanat yu dari ibu kamu? Hehe, tau begini sih, ayu jadi presiden aja buat gantiin presiden sekarang ”......



(fiksi)

Rezeki Tidaklah Harus Berupa Uang


Semua kebutuhan yang menyangkut hajat hidup banyak orang sepertinya tidak bisa di lepaskan dengan yang namanya kebutuhan dasar yang salah satunya berupa materi, materi adalah hasil konversi dari rejeki. Banyak orang berpikiran biasanya rejeki yang di maksud adalah berupa materi dan uang ataupun harta benda. Padahal jarang yang menyadari sekaligus di sadarkan kalau nikmat hidup sehat juga bagian dari sebuah rejeki yang harus di syukuri. Bagaimana bisa hidup bahagia dan nyaman ketika kita sudah di kelilingi banyak timbunan materi, hidup serba berkecukupan, tapi di sisi lain hak hidupnya tidak di naungi dengan nikmat sehat. Tentu akan menjadi berpikir, bener juga ya kata orang orang bahwa sehat itu mahal. Kalau sudah di hadapakan dengan kondisi yang sudah sakit__ untuk bisa sembuh ya tentu harus ke dokter. Jangankan ke dokter, kadang pakai jasa mantra dukun cuma modal komat kamit saja harus pakai uang. Nah benang merahnya adalah uang juga reward dari sebuah rejeki. berkesimpulan, rejeki itu tidaklah harus berupa uang. Sehat, selamat, bahagia, sejahtera, dan segala karunia Allah di dunia ini adalah rezeki yang harus di syukuri.


Ada seseorang selalu terlihat sehat, dalam artian beliau ini jarang sakit___ yang hampir setiap harinya selalu di sibukan dengan pekerjaanya sebagai karyawan salah satu perusahaan swasta, dengan penghasilanya yang tidak lebih dari sebuah keluarga sederhana, yang akan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya bersama isteri dan satu putra semata wayangnya. Beliau ini terkesan ulet dan di kenal jujur sehingga apa yang menjadi kebiasaan beliau dalam cara cara kerjaanya telah mengundang simpati dan penghargaan yang kemudian mendapat kepercayaan penuh dari pihak atasan. mungkin bisa di artikan maksimalkan dulu cara cara kerja anda maka materi juga akan mencari anda. Kurang lebih seperti itu jalan yang coba di peroleh dari bapak tadi.

Sebelum mendapat gaji dan posisi jabatan pekerjaan yang lebih tinggi dari sebelumnya, bapak tadi pernah berdoa, tapi dalam setiap haru biru doanya, hanya selalu materi dan materi yang seringkali di minta setiap kali beliau menggumamkan dalam doanya. bahkan sepertinya tidak pernah bersyukur apa yang sekarang sudah di peroleh salah satunya berupa nikmat sehat. sesungguhnya karena sehatlah sebenarnya beliau sudah bisa bekerja dengan baik. Ketika beliau tadi semakin sukses dengan pekerjaanya, ketika sudah mampu terbeli semua barang mewahnya dan ketika sudah menemukan jalan hidup bahagianya. Ketika itu pula beliau lupa dengan menjaga kesehatanya.

Dapat gaji besar? Mungkin semangat itulah yang mendasari beliau untuk terus bekerja dan bekerja sehingga lupa pada kebutuhan raganya yang harus istirahat. Selalu punya orientasi pada materi yang harus memaksanya lupa pada kebutuhan yang sama pentingnya, yaitu hidup sehat.

Karena terlalu totalitas pada pekerjaanya yang tidak kenal lelah. Pada akhirnya bapak tadi harus jatuh sakit yang kemudian memaksanya harus drop dan masuk rumah sakit. Seolah kebahagiaan hasil dari kesuksesan tersebut cuma mampir beberapa hari saja. Sekarang hanya di tempat tidur yang sebelumnya selalu berada di ruangan kerja yang nyaman, sekarang hanya berada di kamar pesakitan yang tadinya selalu ada di belakang setir mobil yang serba mewah. Barangkali Beliau tadi baru sadar setelah jatuh sakitnya__ kalau sebelumnya tidak pernah bersyukur atas nikmat hidup sehatnya. Beliau tadi juga baru paham kalau sehat juga adalah rejeki yang harus di minta dalam setiap doanya. Karena selama ini beliau selalu meminta materi, pekerjaan dan jabatan yang menjadi isi dari setiap doa doanya.

***********************

Sekelumit dari kisah yang kurang enak di atas memang hanyalah cuma bentuk fiksi, tapi dari jalan cerita tersebut seolah sudah menjadi sebuah potret nyata yang sering kita lihat di keseharian masarakat kita. itulah hasil dari tata kelola hidup yang tidak punya ballance, selalu mengutamakan satu sisi tapi di sisi lain sangat mudah di lupakan. Banyak yang sudah di butakan oleh materi sehingga mau berpikir buat kesehatan dirinya sendiri saja kadang kurang di penuhi. Kalau sudah jatuh, rata rata mereka baru menyadari sekaligus di sadarkan.


Tersadarkan Dari Kisah Seorang Kakek


Setelah seorang kakek tua tersebut menempuh perjalanan hidup lebih dari masa usia lansianya, ada pemandangan tak lazim yang coba di gambarkan dari keseharian kakek tadi untuk sekedar menghabiskan sedikit sisa sisa usia rentanya. Sepertinya Hampir saban hari di saat kondisi kesehatanya yang masih terus membaik, kakek yang sehari harinya terkesan tidak bisa melepaskan kacamatanya tsb selalu terlihat serius manakala duduk dengan segelas kopi hitamnya yang di letakan di samping papan bidang catur yang sudah menjadi teman setianya. Sambil melipat kakinya bersila di teras warung kopi dengan teman lawan mainya, dan dengan sesekali meluruskan lututnya karena kesemutan akibat terlalu lama duduk menyimpulkan kakinya, kakek tadi terrrus asyik dengan hobi main caturnya yang bahkan sampai menghabiskan waktu berjam jam hanya ada di sebuah warung kecil dekat pinggir sebelah rumahnya. Punya kesan seperti merasa tidak ada yang salah dengan keseharian kakek tadi yang memaksanya hampir melupakan semua bentuk tanggung jawabanya sebagai seorang suami, dan bentuk kewajibanya sebagai orang yang masih di berikan kesehatan dan umur yang sebegitu panjangnya.


Suatu ketika di saat sebuah warung kopi tersebut mulai nampak sepi karena di bunuh oleh dinginya larut malam, ada sosok bocah kecil (rio) berdiri tegap yang tidak lain adalah cucu dari kakek tersebut meminta kakek nya untuk bergegas pulang karena merasa waktunya buat istirahat. bocah laki laki polos ini terkesan dan terlihat begitu cerdas sekaligus perhatian sama kakeknya.

" kek kakeeek... Kata nenek nya suruh pulang dulu... waktunya tidur..." kata cucu tsb sambil membuka sedikit mulutnya yang menguap karena sedikit ngantuk.

" Iya bentar uhuk.. uhuuk.. Udah rio pulang duluan sana kakek pulang nyusul " jawab kakek sambil memegang lehernya karena batuk.

" tuh kan batuk mulu, buruan kakek pulaaang. Itu artinya kakek kurang istirahat " balas bocah tadi sambil melangkah maju memegang tangan kiri kakeknya.

" iya iyaa, udah pulang duluan aja sana. bentar lagi juga kakek pasti pulang ... ". Kakek tadi mencoba menimpal sedikit kesal dengan sesekali membetulkan kacamatanya.

" Harusnya kakek sadar, kakek belum sholat kan? " bocah tadi mencoba sedikit protes.

" iya iyah.. Sholat gampang yg penting malam ini kakek bsa menang lawan pak midun dulu hehe... rio pulang duluan aja ya.. Uhuk.. Uhuk..Kekek janji pasti pulang ". jawab kakek sambil sedikit menyimmpul ketawanya.

Karena merasa tugas dari neneknya yang sudah tersampaikan, lantas bocah tadi langsung bergegas pulang menuju rumahnya. Setelah beberapa jam kemudian, apa yang di alami kakek tersebut saat batuk seolah menjadi tanda atau awal dari sebuah malapetaka. Sontak orang orang yang ada di sekitaran warung kopi tsb merasa kaget setelah kakek tadi tersungkur dan terkapar setelah mencoba membuang dahak dari mulutnya akibat di serang tiga kali batuknya. Sang kakek pun pada akhirnya langsung meninggal di tempat kejadian.


********
“Setiap mahkluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu di kembalikan ”. Al Anbiya ayat 35.

Mati itu rahasia Allah. karena itu, penting bagi kita untuk sesekali meluangkan waktu untuk sekedar mengenali identitas diri kita sendiri sebagai manusia yang berakal. mengenai kematian, kita sudah di suguhkan Banyak kisah kecil sebagai sebuah contoh nyata. tepat sekali buat muhasabah diri. Menyadarkan kita bahwa semua yang hidup pasti akan mati Karena kematian itu adalah pasti. Lalu pada saat kapan, dimana dan dengan cara bagaimana kita akan menemui akhir hayatnya kesemuanya tidak ada yang tahu.

Ada orang yang meninggal di saat ada di dalam masjid saat sedang beribadah, ada yg karena sakitnya, banyak juga yang meninggal mendadak ketika ada di perjalanan ataupun di rumah. Bahkan banyak dari mereka yg meninggal dalam kekufuran. Kesemuanya punya jalan dan bekal amal sendiri sendiri tidak terkecuali apa yang sudah terkisahkan dari sepenggal riwayat seorang kakek tadi. Berhari harinya selalu di sibukan dengan hobi main catur, maka sungguhlah kurang beruntung meninggalnya pun saat sedang bermain catur. Tidak kah ini sebuah jalan akhir yang kurang baik yang semata di orientasikan pada kenikmatan dunia yang jauh dari pesan ridho Allah. Wallahualam bisawwab...

Mudah mudahan dengan sering membayangkan kematian, yang terpahat dari jalan cerita di atas. kita bisa mempersiapkan bekal amal ibadah kita sebaik-baiknya. Menyempurnakan shalat sekaligus memperbaiki kekhusyuanya. Semoga keseharian kita bisa di isi dengan amalan dan kebaikan sebagai sunatulloh untuk menyempurnakan ibadah wajib kita di sepanjang gelaran sisa sisa usia kita. Pun perlu di ingat karena ini adalah tentang sebuah kepastian.


(fiksi)

Sayap Yang Patah...!!

_________________________________ Di sinilah sosok dia sekarang ini yang mulai sering bungkam dengan seribu masalah hidup dan cintanya, sejenak menemukan tempat persembunyianya yang di pagari sekat sekat sepi, yang akan mengingatnya dan turut menjadi saksi untuk sesuatu yang tidak dia sukainya. Antara marah, kecewa, menyesal adalah sebuah satu sangsi di mana dia tidak tahu sekarang harus kemana dan bagaimana mencari titik sebuah sikap agar bisa mendamaikan hati. Haruskah dia melawan sebuah kenyataan yang sudah di rusaknya sendiri, ataukah mengharapkan sesuatu yang tidak lebih dari menjual diri. Mungkin ada hal yang lebih dia senangi dengan tersenyum beberapa menit di setiap harinya. Tapi, pikir dia tidak cukup untuk bisa menjadi obat sakit yang di deritanya malam itu. Malam yang mengantarnya mengamputasi sebuah pemikiranya sendiri apakah yang disana sudah adil atau tidak...?


Dia mencoba bisa berlalu dengan masalahnya untuk sementara waktu saja, tapi dia terkesan belum mampu berlalu dari bayangan wajah itu. Wajah yang dia ketahui oleh hatinya sendiri sebagai penyemangat jiwa jiwanya yang sedang mulai bertunas dulu.

Mungkin dia sedang bertarung dengan jenjang waktu yang gelap, atau juga mencari pusaran waktu yang mengantarnya pada titik jejak pengakuan___ kalau takdir belum mampu hinggap menaungi kisah hidup dia. Bisakah "melupakan" adalah solusi yang bertanggung jawab? Yang bisa menjadi mati hatinya selama berhari hari bisa di sembuhkan. Hanya waktu yang lebih berani menjawabnya, karena waktu lah yang mudah mudahan mampu menjadi penasehat dia.

Hilangnya beberapa dolar menurut dia belum bisa menjadi bandingan yang sepadan dengan hilangnya harapan harapan dia. mungkin saat ini akan menjadi satu catatan dalam sejarah hidup dia sendiri meskipun harus di tulis dengan tanganya yang bergetar tidak wajar dalam banyak alasan.

Hingga kini satu satunya yang di cari dari sosok dia cuma satu yaitu semangat, hingga sekarang semangat itu berkali kali tumbang di simpang sebuah tepi jalan. Jalan hidup dia... entah sampai kapan dia mampu menjaga dirinya sendiri dari keterpurukan? Ataukah harus menunggu kembali dengan waktu agar tumbuh lagi sayap sayapnya yang sudah patah. Ataukah ada jalan lain yang mencari untuk mengerti tentang keadaan hati dia sendiri.

Hitungan hari tidak berkecukupan untuk membeli mahalnya harga hati. Hati yang merindukan pada sebuah nama yaitu kebahagiaan. Dia sendiri telah sadar sekarang bahwa waktu dan cinta adalah sesuatu yang mahal, dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memurahkanya dengan kesalahan dan kelalaian yang sama, meskipun barangkali dia sangat sadar dengan sikapnya sendiri waktu itu.

Wahai sahabat dia yang masih bisa membusungkan dadanya dengan nyala nyala cinta. Cukupkan dia dengan semangat dan harapanya menembus cakrawala baru. Gantilah sayap dia yang sudah patah di tempat sana. lebihkan dia dengan bekal perjalananya menuju dunia barunya. Halal atau tidak halal jalan yang akan di laluinya di lorong gelap sana, berilah dia berlipat lipat kertas putih berpijar yang siap menjadi sayap yang menyala nyala untuk menembus sekat dalam kegelapan.

Sekarang, di sinilah sosok ini yang sedang berusaha melunasi semua hutangnya karena kebodohanya. Melawan semua garis yang sudah menjatuhkan sebagai jalan kisahnya. Lalu seberapa hebat keinginan dia untuk menjadi seorang yang lepas dari kebungkaman karena tragedi cinta.

Hakul yakin, pikir dia mampu menjadi kesatria dalam parodi hidupnya sendiri. Karena semua yang sudah menjadi kesalahan dan kegagalanya berimbas pada munculnya tekad baru, semangat baru dan cinta baru.

Maka dia tidak perlu buru buru mengatakan pada dunia tentang kisahnya sekarang, cukup menjadi pengantar dia melawan semua rasa pahitnya menuju kebaikan (manis) yang masih di simpan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang masih di rahasiakan. sayap sayap yang patah itu___ mungkin akan menjadi pembelajaran untuk melangkah kepada kisah kisah dia selanjutnya.

Belajar Dari Sepasang Kekasih

"Saya ingin menikah muda dengan wanita yang saya cintai sekarang, Bukan karena saya ingin melakukan hal yang
selama ini dilarang oleh agama, tapi saya ingin menikmati pernikahan itu sendiri sebagai sebuah ibadah ". begitulah kira-kira kalimat yang pernah saya tulis di status facebook saya". Tapi yang saya pikirkan sekarang bukan saya takut karena alasan belum mapan dalam posisi karir, ataupun takut belum dapat restu buat nikah di usia muda, tapi lebih pada ketakutan saya itu karena udah pasti ibu bakal ngelarang saya buat menikah dengan wanita yang beda agama. Pasti ibu bakal marah besar karena selama ini ibu saya selalu pesan buat saya sendiri untuk menikah dengan wanita yg seiman, saya pun sebenarnya sangat memahami keinginan dan pesan ibu, karena naluri setiap ibu pasti selalu menginginkan kebaikan dan yang terbaik buat anak-anaknya termasuk saya sendiri.



Kebetulan pasangan saya juga selalu ngerti dengan posisinya sebagai penganut katholik, bahkan saya juga sering cerita mengenai apa saja yang sekarang menjadi ketakutan ibu mengenai keinginan rencana pernikahan saya. Gina adalah pasangan saya, dia cuma tersenyum menanggapi cerita saya tadi, karena selama ini gina juga selalu belajar dan masih banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang muslim, bahkan diam-diam dia juga sudah punya guru spiritualnya yang di dapatkan dari temanya sendiri. dan gina selalu berpesan kepada saya untuk selalu yakin bahwa kekuatan cinta akan menemui jalan terbaiknya sekalipun dengan hal--hal yg sedikit absurd.

Saya pun selalu yakin dan punya prinsip hidup untuk tidak mengecewakan keluarga khususnya ibu, terlebih kepada agama saya sendiri. Hingga kesadaran dari hati itu pernah muncul buat saya untuk mengislamkan gina sebagai calon pasangan saya nantinya, tapi tentunya akan menjadi sebuah dilema juga kalau di mana saya harus memaksakan kehendak gina apalagi mengenai masalah keyakinan, saya waktu itu sepenuhnya selalu percaya kepada proses yang sudah saya perjuangkan bersama gina.

Pastinya keluarga gina juga punya prinsip seperti ibu saya perihal masalah ini. saya pun selalu menemui jalan buntunya ketika masalah ini selalu di diskusikan bersama gina, tapi tetap berusaha untuk survive. memang kalau masalah seperti ini harus ada yang di korbankan salah satunya untuk berada pada satu jalan dan keyakinan yang sama. Untungnya gina selalu memahami pada posisinya sendiri sekarang, dan dia tidak pernah sekalipun menyerah dengan masalah ini, terlebih dan tentunya sedikit di tentang banyak keluarganya.

Hingga pada ahirnya hidayah itu sepertinya datang buat gina dan saya, dia menelpon saya untuk segera datang ke masjid Nurul-Huda deket kantor pos di mana saya dan gina pernah ketemu di sana untuk pertama kalinya. tanpa pikir panjang dan mempertanyakan alasanya sayapun bergegas memacu kendaraan motornya menuju lokasi dimana katanya dia berada di masjid.


Setelah sampai di lokasi yang di sebutkan, saya sedikit kaget karena di situ sudah banyak kerumunan orang yang sedang membetulkan motor yang sedikit ringsek yang sudah di tinggalkan pengendaranya. Saya pun paham dan cukup tahu itu motor siapa, setelah tanya-tanya sama orang sekitar dan dengan panik dan gemetaran sayapun langsung bergegas menuju rumah sakit hasil petunjuk dari orang orang sekitar. "mas mas sebentar mas.." saya tidak mempedulikan apa maksud dari orang tua bersorban tersebut memanggil saya karena yang ada di pikiran saya cuma bagaimana supaya saya bisa segera nyampai rumah sakit di mana gina di rawat.

Sampai di rumah sakit sayapun tidak bisa menahan rasa sedihnya setelah melihat orang yang terkasihi terbaring lemas dengan luka di kepalanya, tapi gina malah tersenyum setelah melihat saya masuk dari pintu kamar di mana dia di rawat.

"Saya ga papa kok, saya di sini tidak butuh orang yang bersedih, saya butuh orang-orang yang selalu tersenyum setelah melihat saya ada di sini " lirih gina dengan sedikit batuk. Saya pun tersenyum untuk memastikan gina bahwa dia tidak mengalami luka yang serius.

Hingga pada ahirnya sayapun terpaksa nginep di rumah sakit bersama keluarga gina juga. Gina hanya sedikit merintih di tengah malam dalam tidurnya. Saya pun lantas memanggil perawat di kantornya yang kebetulan masih belum tidur. wanita perawat tersebut begitu sopan dan terkesan murah senyum, sambil memegang tasbihnya dia selalu memastikan dengan tutur katanya yang keibuan bahwa kondisi gina baik-baik saja, dia menaruh tasbihnya di sebelah bantal gina untuk membetulkan dan memastikan kabel infusnya yang sedikit melilit.

Gina pun menanyakan pada suster sambil melirik tasbih tersebut. " kalau boleh nanya, emang ini apa sus?" Suster pun menjawab sembari senyum "ooh ini ya, hehe ini cuma tasbih buat menjaga supaya saya tidak tidur" gina pun tidak puas atas jawaban suster tersebut hingga dia tertidur lagi dengan pulas.

Di tengah tidurnya seolah gina menemukan sebuah hidayah, dia bermimpi di ajak oleh suster tersebut ke masjid Nurul-Hudda di mana dia mengalami kecelakaan, diapun menemukan cahaya bertuliskan syahadat sebagai kalimah Allah. begitulah mimpi yang dia ceritakan kepada saya.

Sampai pada ahirnya gina meminta saya untuk memanggil suster tersebut, dan pada alhamdulillah gina dan mungkin saya telah di pertemukan dengan hidayah, bimbingan atau petunjuk dari Allah SWT bahwasanya kekuatan cinta bisa merubah semua yang saya takutkan selama ini.

Kebahagiaan seakan terjawab saat gina meminta untuk menjadi seorang muslim di tengah kondisi sakitnya. Saya sedikit speechless buat menyikapi kabar bahagia tersebut. Setelah mendapat bimbingan dari suster tersebut lima hari kemudian gina langsung memutuskan untuk menjadi mualaf.

Lima bulan kemudian sayapun memutuskan untuk menikah yang di bangun atas dasar cinta bersama gina sebagai jalan ibadahnya, dan menurut saya Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa di majukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.
** beberapa tahun kemudian**
Sekarang saya pun di karuniai lima orang anak hasil pernikahanya dengan gina dan bersukur sekali karena sudah menjadi keluarga yang bahagia insya Allah. Sebaik baik perhiasan adalah wanita atau isteri solehah yang memberikan sakienah dalam kehidupan untuk meraih jannah...


Cerita ini ternyata fiktif dan cuma hasil dari sebuah imajinasi saya yang di latar belakangi dari keinginan saya untuk segera menikah☺

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More