Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Batas Ruang Privasi




Kalau mau berbicara pada hal yang paling pribadi pun, rasanya saya tidak pernah bersungguh sungguh untuk membuka semuanya disini, bukan karena saya tidak bisa menyajikan sesuatu yang lengkap, tapi lebih pada hal2 yang bisa mempengaruhi saya untuk tetap dengan pakem tulisan dengan karakter saya sendiri. Ya begitulah saya, karena manusia selalu mempunyai ruang privasinya masing2, itu hak saya atau hak mereka2 juga dengan pilihanya dengan segala rahasia dan alasanya, barangkali ini bukan sesuatu yang salah, bukan juga kemudian di anggap sebagai sikap yang anti mainstream. Kalopun tetep maksa saya di bilang terlalu menutup diri, ahh itu pernyataan yang cenderung tidak betul yang hanya bisa keluar dari mulut orang2 yang rasa ingin tahunya terlalu gede. Kaya maksa. Hehe Seiring bumi yang sudah makin tua pada akhirnya munculah fenomena baru banyaknya orang2 kepo. haha! *bukan saya

Sejak kali pertama saya bisa duduk menyanggah badan saya sendiri dengan tegap, baru kali ini dan barusan kemarin-- saya ketiban pelajaran hebat soal proses kedewasaan seseorang. Orang yang baru saya kenal, terlebih tidak pernah tahu wujud rupa dan perangainya kaya gimana, maksa sekali buat nanya ini itu tentang kepribadian seseorang, tentang masa lalu seseorang, tentang apapun yang punya tendensi seperti ingin tahu banyak. Terkesan semangat banget seperti orang lagi di sibukan dengan deadline tesis tugas skripsi. Hehe

Bukan tidak mau membuka diri atau tidak welcome kepada orang yang baru dikenal, tapi lebih pada menjaga diri saja dari satu hal yang di anggap perlu untuk tidak membagikan masalah2 pribadi saya kepada sembarangan orang. Satu catatan yang barangkali bisa saya pegang sampai sekarang, saya hanya lebih pada bersikap selektif aja untuk bisa memilih orang yang dinilai punya kedekatan secara emosional, kedekatan yang memang sudah menjadi satu paket dari arti dan makna sebuah kepercayaan. Intinya lebih pada bagaimana cerdas memilih orang jika harus menitipkan sebuah masalah pribadi.

Dari sikap orang2 seperti itu, saya melihatnya layaknya seorang detektif atau paparazi. padahal sih sebenernya bukan sepenuhnya di nilai sebagai sesuatu yang negatif, tapi lebih pada sebuah kepantasan, etis atau tidak etis. Lah kalo tiba2 saja ada orang yang baru dikenal kemudian dia lantang melemparkan pertanyaan tentang gajinya berapa atau agamanya apa, siapapun risih untuk sekedar memberikan jawaban. Malah kalo di Amerika sana orang yang menanyakan umur saja di anggapnya sebagai sesuatu yang tidak pantas. Dinilai terlalu masuk ke ranah pribadi, sehingga orang merasa privasinya terganggu..

Seperti halnya ketika saya meminjam hape teman saya sendiri, ini sekedar contoh: lalu kemudian membuka beberapa file dan folder terlalu jauh, istilahnya mengobok obok kepemilikan orang lain, apalagi kalo sampai membuka isi SMS, jelas itu melanggar kode2 kesopanan dan kepatutan, bukanya tanpa alasan: karena disitu ada ruang privasi, ada batasan dan ada hal2 yang tidak etis buat di lakukan (masuk terlalu jauh), istilah bahasa orang jaman dulu mah namanya ' pamali '. Betul apa betul? Hehee..

Tuhan saja untuk urusan tertentu kadang selalu merahasiakan untuk tidak bisa di ketahui oleh siapapun... Jadi, berhubung kita2 sebagai manusia yang sudah lepas dari pengaruh zaman kehidupan nomaden, Attitude itu harus di pakai. Jangan sampai hanya gara2 ingin tahu banyak tentang masalah pribadi artis tertentu, termasuk semua yang di pakainya, lantas kemudian kita lupa dengan nomer celananya sendiri. Itu hanya sebentuk kecil efek buruk dari seorang yang punya label kepo. tidak baik untuk di tiru. Intinya sih segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sederhanakan saja, apapun.


Salam.




Imyu, 05032014

gambar dari sini 

Melangkah

Gambar dari sini


Setibanya di punggung pagi, yang kebetulan baru lepas menceritakan serangkaian mimpi. Ia dengan segera memungut beberapa semangat untuk kemudian menjadi pendamping raga ini dalam misi suci tentang hijrah dan melangkah. Membujuk nasib baik itu untuk kembali dalam kedekatan, dan kemudian meminta sekumpulan sukur itu kembali menjadi modal sebagai senjata buat hari itu juga; bahwa aku hari ini masih ingat akan tentang kedekatanku dengan Tuhan.

Di seberang sana, aku harap ada sesuatu yang bisa menemukan pesan__setibanya langkah itu menjadi dekat dengan kata jeda. Mengunyah semua yang sudah aku dapat, dan sisanya tidak semuanya aku telan menyisakan tulang belulang. Karena firman Tuhan sering kali menyisakan sebentuk sabdanya; pada akhirnya hidup itu bukan tentang bagaimana mencari sesuatu dengan jumlah sebanyak banyaknya, tapi untuk berbagi sesuatu dengan pesan manfaat sebanyak banyaknya.

Semua hal baru sekiranya di awali dengan serangkaian langkah, cukup dengan awalan kata Basmallah, yang kemudian mengunyah ikhtiar tanpa ada kata menyerah, memaknai jihad yang lelah dengan tetap memelihara asa, cinta, dan percaya; bahwa Tuhan sedang mempersiapkan dan menawarkan sesuatu yang indah di ujung hari sana.

Melangkah, sebuah pekerjaan yang sederhana. Awalnya sebait modal tentang niat, mimpi dan cinta. Dan barangkali kesungguhan yang sudah di persiapkan. Semuanya tidak melulu mengajarkan bagaimana mengejar dan menghasilkan sesuatu yang terbaik. biarkan proses dari jejak jejak langkah itu membagikan kabar baik. Sekiranya Tuhan tidak sedang gemar melihat semua hambanya pada hasil akhir. Tapi lebih pada mau mengamati setiap pijakan dari proses bagaimana manusia itu bisa melewati semua permasalahanya dengan baik.

Setibanya sore, yang mengharuskan langkah itu menjadi jeda merenda potongan langit jingga, lelah dan dahaga sedang mengumpulkan sisa tenaganya yang sudah mulai kaku di makan tumpukan waktu. Untuk kemudian menjadi hal yang baru hasil dari semangat yang terus menumbuh, dan tumbuh.

Langkah, adakalanya kaki ini kaku dan lelah. Terkadang hanya menyisakan keganjilan yang belum sempat di genapkan. Setibanya doa itu datang memberi jawaban pada setiap kaki itu tak pernah lelah menyambung langkah. Maka di situlah sekumpulan langkah itu di persiapkan untuk sebuah penjelasan dan menjelaskan; bahwa__ proses__ itu menjadi cara cara Tuhan dalam mempersiapkan kebaikan bagi tiap umatnya.

Makin banyak langkah, makin banyak pula kesempatan untuk menemukan langkah berikutnya yang lebih ringan. Atau sekedar menawarkan sebentuk senyum.




Salam

RM/YF

Bahasa Indonesia Dan Kita



Bahasa adalah sekumpulan kata yang mampu mepersatukan sekumpulan anak manusia, seperti kita. Ya, kebutuhan akan pentingnya bahasa tidak lepas dari tuntutan pada terus majunya peralihan sesi peradaban, sekaligus sebagai alat untuk kebutuhan yang titahnya antara lain buat mempersatukan semua anggota komponen bangsa dan negara. Termasuk indonesia sendiri yang sudah memproklamirkan dan menasionalkan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan negara indonesia. Simbol dari negara yang di lingkari pulau pulau dari sabang sampai merauke.

 Negara kita tercatat memiliki begitu beragam banyak bahasa. Negara yang sudah di bentang banyak pulau, di bedakan banyak suku, adat, budaya dan agama, dan semuanya adalah bagian dari jejak jejak perjuangan yang mengantarkan pada terlahirnya kemerdekaan buat semua warga negara indonesia, yang semuanya sudah terikrar lewat sumpah pemuda. Yang mengaku dengan berbahasa satu, yaitu bahasa indonesia. 

Bahasa indonesia yang sedianya sudah masuk sebagai identitas dari sebuah bangsa, barangkali manfaatnya sudah banyak di rasakan. Terlebih ada begitu banyak pengaruh positifnya bagi keberadaan kita di ruang alam merdeka. Salah satunya menjadi alat pemersatu semua penduduk negri. dari bahasa pula cara berpikir kita menjadi sedikit maju setelahnya melewati banyak dekade. Karena bahasa selalu mengantarkan pada setiap kebutuhan anak bangsa, yang ingin merdeka dari semua bentuk ketertinggalan.

 Bahasa indonesia juga di rasakan punya manfaat lebih buat diri saya pribadi. salah satunya, yang sudah bisa mengantarkan saya menjadi seperti sekarang, setidaknya saya menjadi sedikit tahu bagaimana saya menulis menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar, saya juga sedikit punya kemampuan bagaimana bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa indonesia yang bisa di pahami banyak orang, dan saya pikir; bahasa itu bisa menyederhanakan sesuatu yang dulu di anggap masih jauh dari kata paham dan tidak mengerti.

 Kebetulan, saya sendiri di rumah dalam keseharianya tidak melulu memakai bahasa indonesia, alias lebih sering memakai bahasa jawa. Di tengah situasi seperti itu, saya menjadi tersadarkan akan pentingnya bahasa indonesia. Untuk itu perlu kiranya buat saya untuk bisa berbuat lebih guna memaksimalkan kebutuhan saya sendiri dalam menuangkan misi tentang bagaimana belajar bahasa indonesia dalam porsi yang yang seharusnya. Untuk hal hal tertentu, sampai sekarang pun saya selalu membiasakan untuk memakai bahasa indonesia, baik untuk keperluan menulis di blog, di twitter ataupun di media sosial lainya. Bahkan tidak jarang pula saya malah lebih nyaman memakai bahasa indonesia ketika berkirim sms dengan teman yang keseharianya lebih sering memakai bahasa jawa. Itu lebih pada punya tujuan agar tulisan saya bisa cepat di terima dengan cukup pakai pemahaman yang sederhana.

 Bahasa indonesia adalah bahasanya kita, bahasa ibu dari semua bahasa yang ada di seantero indonesia. Jadi sudah sewajarnya saya lebih termotivasi untuk bisa mempelajari lebih jauh lagi bagaimana bisa menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, baik ketika bahasa itu di terjemahkan lewat lisan, maupun ketika bahasa indonesia itu harus saya tuangkan lewat media tulisan. seperti menulis artikel sekarang, yang sudah saya coba dengan mengemas bahasa se indonesia mungkin.

 Kapan saya bisa berbahasa Indonesia? Untuk pertama kalinya saya kenal bahasa indonesia itu ketika saya masuk Sekolah Dasar atau Taman Kanak- Kanak, maka tidak haren jika apa yang sudah saya dapat dari semua ilmu yang sudah saya ikat semuanya berawal dari peran bahasa indonesia. Sejatinya bahasa indonesia itu pula yang secara tidak langsung mampu membawa sekaligus membangun pada diri pribadi saya menjadi lebih dewasa. Meski masih ada banyak faktor lain yang kesemuanya bisa saling menyempurnakan lewat beberapa peran yang tdak selalu sama.

 Saat masuk Sekolah Dasar, pada umumnya kita sudah di wajibkan dan berikan materi pelajaran bahasa indonesia, meski hanya sebatas pengenalan ataupun pembelajaran bagaimana bisa membaca dan menulis dengan kerangka yang benar. Ketika kita memulai mendapatkan materi pelajaran lain, bahasa indonesia itu akan mengantarkan pada porsinya untuk kebutuhan masing masing murid dalam menterjemahkan apa yang sudah di sampaikan oleh para gurunya. Laksana nyawa yang memberi usia lama untuk semua para manusia, bahasa indonesia selalu menjadi kunci dari terlahirnya komunikasi yang baik antara murid dengan gurunya, ataupun ketika komunikasi itu terbentuk antara murid dengan materi pelajaranya.

 Tapi fakta menyuguhkan hal lain, seiring makin mudahnya kebutuhan kita akan mendapatkan akses internet, seiring dengan meluasnya peran media dalam mempengaruhi kehidupan berbangsa dan negara, Akhir akhir ini bahasa indonesia seolah sudah TERJAJAH oleh bahasa asing yang di nilai atau disikapi oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang punya nilai gengsi dan gaul. Ada yang beranggapan, rasanya orang akan kelihatan lebih cerdas jika di tengah pidatonya ia selalu menyelipkan kata kata dengan di bumbui sedikit bahasa asing, seperti halnya para pejabat negri ini yang seringkali muncul di layar televisi. Padahal tidak semua orang akan mengerti maksud dari apa yang sudah di sampaikan setelahnya pemakaian bahasa asing tersebut. Contoh lain kian banyak pada apa yang sering terlihat di media sosial facebook, mungkin mereka beranggapan akan lebih terlihat gaul jika menulis kata " Boring " dari pada kata " Bosan ". Atau barangkali orang akan lebih kelihatan keren jika memakai kata bijak-- dalam bahasa inggris-- dari pada mengharuskan pada pemakaian bahasa indonesia asli.

 Bahasa indonesia juga faktanya seperti sudah " terkontaminasi " oleh bahasa bahasa baru yang kadang tidak mengartikan yang seharusnya. Seperti yang pernah di pakai oleh Syahrini dengan " Sesuatunya ", sampai sekarangpun saya tidak pernah mengerti maksud dari tujuan pemakaian kata Sesuatu itu untuk keperluan sebuah kalimat yang punya tujuanya seperti apa. Bahkan terkadang sama sekali tidak nyambung dengan maksud dari tujuan kalimat itu sendiri. Itulah jika sebuah bahasa baru sudah menjadi budaya di kalangan anak muda, tidak lagi masalah selama orang yang mereka ikuti adalah seorang artis terkenal, meski bahasa itu sendiri harus berbenturan dengan kaidah bahasa indonesia yang sebenarnya, mereka tetap akan mengikuti. Barangkali Sebuah hal yang tidak melulu kita anggap sebagai kewajaran. Beberapa fakta di atas, mungkin di nilai tidak sebangun dengan apa yang sudah di cita citakan dulu lewat isi inti dari tercetusnya sumpah pemuda.

 Untuk lebih peduli lagi dengan bahasa indonesia, sebagai warisan yang sepatutnya untuk terus kita jaga. Mari kita pulihkan tentang kesadaran pada bagaimana kita menjaga bahasa indonesia dari kemungkinan terkikisnya sebuah makna yang jauh dari makna bahasa indonesia itu sendiri. Minimal kita bisa membiasakan pada pemakaian bahasa indonesia dengan kata kata atau istilah yang sudah di bakukan. Bahasa dan kita senantiasa akan mengantar pada keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mari budayakan dan membiasakan dengan menempatkan bahasa indonesia sesuai pada porsinya.


Tulisan ini di ikutsertakan pada lomba penulisan di kompasiana

Jejak Karya


Apa yang sudah bisa kita "tinggalkan", kalau besok besok kita tidak bisa menulis lagi untuk waktu beberapa hari kemudian? Apa juga yang sudah bisa kita "wariskan" jika saja pada kemudian waktu, kita tidak lagi punya ruang untuk memuntahkan segala bentuk potensi, dan kemampuan imaji yang sudah Tuhan berikan untuk di maksimalkan. serupa titipan Tuhan untuk bisa kita gali dengan sebaik baiknya. Atau untuk selamanya kita tidak pernah lagi punya kesempatan untuk bisa menaklukan dunia dengan terlebih dahulu menyuguhkan sebuah maha karya?

Ya, Pertanyaan itu mendadak muncul dengan sendirinya, seiring sikap iri saya sama orang-orang yang sudah bisa melahirkan banyak sekali karya karya besar, yang kemudian sebagian dari kemasan karya terbaiknya tersebut bisa terus di nikmati oleh banyak orang (dari zaman ke zaman). Meski pemilik dari maha karyanya sudah tinggal menyisakan nama dan pusara. Sebenarnya dunia sudah leluasa__ menawarkan arena besar__ untuk di buktikan oleh kita dengan sebuah jawaban. Seperti yang sudah pernah di hidangkan oleh Chairil anwar dan Leonardo Da Vinci di hulu zaman dan sampai sekarang.

Dari situ kemudian saya mencoba menggali apa yang bisa saya bagikan untuk orang lain, walopun saya sadar tak punya banyak kemampuan untuk itu. Yaaa, minimal pada hal yang punya dampak paling terkecil sekalipun. Sukur sukur nantinya bisa punya manfaat untuk orang orang sekitar, atau paling tidak bisa membuahkan motivasi ganda guna bisa di tularkan buat orang lain atau saya sendiri pada akhirnya.

Yah, dari menulis adalah salah satunya, kalau boleh saya menyebut ini adalah wadah dari salah satu yang coba saya bahas tadi--yang tentunya bisa punya dampak lebih untuk membangun serupa gunukan motivasi__ yang dulu sempet di buat kehilangan sepotong-semangatnya karena banyaknya menu media lain yang buru buru saya rampungkan pada saat hari itu juga. Kesan maksa? Gak juga, lebih karena alasan yang hanya bisa di pahami oleh saya sendiri. Terkesan Egois memang...

Jika saja orang lain itu sudah melihat sebanyak apa yang sudah saya lihat juga. tapi tidak, untuk berapa banyak yang sudah saya kerjakan meskipun kelihatan tak menyisakan dan menyajikan apa apa. Jejak karya boleh tak terlihat, tapi semangatnya itu yang harus di hidupkan terus. Jaga jaga jika saja semangat itu tidak lagi mendapat pasokan yang lebih, lebih banyak dari yang dulu pernah kami timbun berkamar kamar. Hingga kemudian bisa membuktikan, bahwa hasil dari semangat itu kini sudah hadir dan pernah ada. juga diakui. Tidak perlu saya sebutkan hasilnya serupa apa dan bagaimana.

Jejak karya, adalah persembahan waktu__dalam mengikat setiap yang punya hajat untuk mendeskripsikan isi kepalanya dengan memunculkan sesuatu yang sudah di gubah plus punya nilai positif. Kalau hasil itu kemudian pada akhirnya memancing kritik dari orang lain, maka saya cukup menamakanya sebagai bagian dari kerja anak anak tangga (yang terus menaiki tangga yang lebih tinggi), berarti ada orang yang sudah memperhatikan saya dan turut berterimakasih... Kalau hasil itu memunculkan sedikit apresiasi dari orang lain, maka itu adalah bonus, Satu paket dengan pendapatan semangat baru yang coba saya ikat dengan semangat saya yang lain.

Jejak karya, seperti halnya ada pada diri seorang chairil anwar, atau pada sosok yang begitu melegenda macam Leonardo Da Vinci. Nama, dan mahakaryanya akan tetap selalu di kenang dan disimpan, hingga menembus barisan-barisan sejarah dan peradaban.

Dengan menulis, membuktikan bahwa kita pernah hadir dan ada. Dan dengan melukis membuktikan, bahwa kita pernah mampu memaksa imaji itu untuk keluar guna membawa pesan dan pembuktian.




***(YF)
_________________________________________________
**Ilustrasi gambar diambil dari sini






Hitam - Putih


Hitam dan putih adalah sebuah perwujudan dari sebuah perbedaan. Namun keduanya kerap di sandingkan dalam menguatkan perbedaan yang terlalu menganga. Mungkin jadi terlihat kurang bersih jika putih harus berdiri di atas warna lain selain warna hitam. Rasanya tidak elegan, jika hitam harus berdiri kokoh di atas pijakan warna yang sama. Ataupun menjadi kuranglah lengkap, jika salah satu keduanya tidak di sandingkan dalam memenuhi kebutuhan untuk punya misi menggambar sesuatu di atas kanvas. Saya rasa, baik hitam maupun putih semuanya sepakat untuk saling membutuhkan agar satu sama lain bisa saling melengkapi, menserasikan, dan memenuhi sebuah objek yang kemudian terlihat masygul di lumat mata


Seperti halnya pada papan tulis berwarna hitam, barangkali akan sangat memenuhi rasa nyaman jika harus menggunakan kapur berwana putih untuk punya tujuan memudahkan orang lain dalam keperluan membacanya. Begitupun dengan whiteboard, akan lebih jelas dan bijak jika memilih warna hitam sebagai pilihan untuk warna spidolnya kemudian.

Dari bentuk proses kamus hidup bartahun tahun, hitam kerap di kaitkan dengan sesuatu yang tidak baik dan negatif. padahal jelas, warna hitam juga punya sisi lain dalam hal kemanfaatan. Manfaat untuk sosok warna putih, manfaat dalam bahasa manusia dengan alamnya, manfaat dalam mencirikan sesuatu dengan  kebendaanya, ataupun pada hal yang paling sederhana sekalipun; bahwa, salah satu ciri fisik dari orang indonesia adalah rambut hitam sebagai satu dari sekian banyak kecirianya.

Hitam, terlanjur menjadi sesuatu yang di cap punya embel embel negatif. seperti pengusaha hitam, buku hitam, ilmu hitam ataupun lembah hitam. Semuanya adalah nama lain dari serupa musuh kita. Kita tidak ingin punya identitas diri sebagai orang yang di cap buruk dan negatif. Padahal kita juga bisa bercermin dan belajar dari sesuatu yang punya nama serupa hitam.

saya sendiri juga sebenarnya bisa belajar dengan sosok hitam, ketika kemudian-- kaca yang berwarna hitam dan semakin bertambahnya kehitaman pada kaca tersebut-- maka akan memunculkan sisi kehebatanya serupa cermin yang bisa memantulkan sekaligus menghidupkan warna lain, bahkan rupa manusiapun akan berwujud nyata tanpa rekayasa.

Hitam belum tentu di anggap murah dan bekas, hitam pada awalnya hanya sebuah nama lain dari warna warna di jagat raya, hitam kemudian harus terlanjur di kaitkan dengan barang barang yang tidak punya harga. barang bekas, berpenyakit, dan itu rasis. Tetapi, tentu saja itu bukanlah kabar gembira.

Putih lebih beruntung, lebih punya citra yang baik dalam status identitasnya di mana-mana, kerap di lambangkan sebagai simbol kesucian, kebersihan dan kebaikan. Terkadang kita tidak jarang pernah di suguhkan salah satu ayat kalimat yang mempertemankan putih dengan suci, Putih dengan bersih, dan putih dengan kejujuran.

Jika saja seisi di kolong langit ini tidak pernah mau berkawan menghadirkan hitam dan putih, mungkin akan mematahkan penegasan dari kenyataan bahwa dunia itu penuh dengan warna warni. Hitam putih selalu menjadi pelengkap dari keduanya. Ia bersahabat dalam setiap kesempatan, berkolaborasi dalam ruang abu abu, bermetaforsosis dengan alam sekitar, dan--dari perkawinan keduanya kemudian lahirlah sebuah perbedaan perbedaan. Perbedaan yang menjadikan keduanya saling mengingatkan untuk tidak terpisahkan sampai bumi tak bermatahari. Tak berputar lagi.

Hitam-putih, tidak melulu selalu berseteru. Tapi terkadang, selalu menjadi hal yang menarik bila bisa di sandingkan, selalu menjadi hal yang alamiah jika harus di bandingkan, sekaligus -- menjadi hal yang layak untuk di jadikan pembelajaran dari keduanya.






Memuliakan Pembaca



Tak ubahnya peran media dalam menyuguhkan segala informasinya ke halayak luas, dunia blogsphere yang membentuk komunitas berbasis pada sekumpulan orang orang yang hobi menulis juga mestinya harus punya peran yang lebih, di mana setiap semua yang sudah kita tulis nantinya di harapkan menyelipkan manfaat, setidaknya untuk bisa berbagi dan membagikan setiap persembahan jejak tulisanya dengan banyak orang. dalam kapasitas dan identitasnya sebagai bagian dari penduduk dunia mayantara.


Bebas nulis, tidak harus bebas bebas amat sebenarnya... artinya lantas kemudian bukan berarti menghalalkan segala cara buat bebas nulis tentang segmen apapun. dengan kata lain supaya lebih pada punya rambu rambu seperti mata bijak sebagai " terjemahan" sikap kehati hatian kita saat dimana kita sudah di beri peluang untuk sebebas mungkin buat menuangkan setiap buah dari mengunyah ide dan gagasanya dalam lembaran lembaran artikel. Karena tulisan seseorang sedianya bisa sedikit punya gambaran yang mencerminkan kepribadian si penulisnya (seseorang). Dan tidak jarang pula salah satu dari sekian banyak orang pernah tergiring pada pusaran masalah hanya karena akibat dari tulisanya sendiri.

Saya, yang sudah genap satu tahun lebih dalam upaya memelihara blog sederhana ini, kalau mau jujur rasanya belum punya banyak makna yang bener bener ber-manfaat, minimal sudah punya efek positif buat orang lain yang sudah pernah membacanya, yang mana kemudian dan kemungkinan saya hanya di sibukan pada mencari point-point tertentu yang sifatnya lebih mementingkan dan menguntungan diri sendiri. Itu sebetulnya sudah di akui saya sedari kemarin loh hehe. Kalaupun ada yang sudah merasa di beri porsi lebih setelah membaca tulisan di Rumah Petuah ini, saya ucapkan seraya mengucap sukur, merasa berterimakasih juga, sekaligus Alhamdulillah. Karena apa apa yang sudah saya tuangkan dan di hidangkan disini sedikit bisa di terima dengan atau tanpa memberi komentar sekalipun. Karena semuanya berawal dari niat yang tak lain dan tak bukan adalah untuk berbagi dan ukhuwah.

Beberapa hari kemarin, setibanya saya nyangkut di alamat blog orang lain, pernah mendapati tulisan yang kemungkinan berisi hanya sebatas sebuah curhatan seseorang yang sedang menjadi bagian dari masalah atau memang sudah terjebak sama masalah. Awalnya hanya menceritakan sikap labil dan kelemahan dia sendiri sampai yang punya tujuan untuk berhenti dari dunia tulis menulis, dan entah dengan memakai alasan apa sampai ujung ujungnya saya banyak menemukan tulisan tulisan tadi yang berorientasi pada point untuk menjustifikasi orang lain secara personal dengan tendensi yang negatif. Dari situ saya jadi sedikit kurang nyaman kalau sekiranya mau ngasih komentar pun, karena harus di tuntut untuk bersikap senetral mungkin. Yang akhirnya saya hanya ngasih komentar sesedikit mungkin berupa ajakan dan anjuran sok bijak untuk tetap bersemangat.

Mencoba buat di compare, sedikit beda pada saat kemarin kemarin, pas ketika perjalanan blogwalking saya tergiring pada sebuah halaman blog, pada situasi di mana saya merasa nyaman berlama lama membaca setiap artikelnya, bahkan sampai belain buat membedah sebagian archive-nya. Ada banyak bahan yang bisa di adopsi yang kesemuanya menyuguhkan tulisan yang bermanfaat, entah itu manfaat buat orang lain terlebih lagi bermanfaat buat si penulisnya sendiri.

****
Memuliakan pembaca adalah saat di mana mereka para pembaca merasa nyaman, memuliakan pembaca adalah saat di mana mereka paham dan tahu maksud dari arah tulisan yang sudah di bacanya. Terlebih jika ada banyak menu menu manfaat setelahnya mereka membaca-- entah itu berupa sekedar informasi, motivasi, inspirasi, ataupun yang cenderung hanya berbasa basi.

Bisa juga memuliakan pembaca adalah di saat para mereka (pembaca) sudah merasa mendapatkan sebuah dorongan untuk berjalan pada roda evolusi kesadaran. Pada sikap untuk gemar menebarkan kemaslahatan yang akhirnya membentuk komunitas yang menebarkan kesemuanya menuju pada lahirnya masarakat yang terbiasa menyebarkan dan melakukan tindakan yang maslahat. Semuanya akan tersaji indah jika saja proses pekerjaan menulis bisa di lakukan dengan di barengi sikap untuk memuliakan pembacanya.




Tebarkan Ilmu Dengan Selembar Tulisanmu


Ilmu adalah ibarat mutiara di tengah timbunan pasir, ilmu adalah ibarat cahaya di tengah sepotong malam, ilmu adalah ibarat sahabat di tengah keterasingan.

kalau mau di pikir lebih runut jauh ke alam pikiran yang paling jernih, yaa, harusnya saya bisa lebih bersukur dengan apa yang sudah saya kerjakan sejauh ini, terutama dalam niat dan konsens saya untuk tetap terus menulis sebagai Salah satu bentuk usaha saya buat sekedar memelihara blog sederhana ini. adalah menjadi hal yang sangat penting buat kita, khususnya saya yang notabene di tuntut untuk tetap terus menulis dengan mengambil cerita atau tema macam apapun yang sekiranya bisa di ukur dengan kemampuan saya sendiri, atau paling tidak dalam hitungan beberapa hari setidaknya saya bisa menelurkan sebuah tulisan. Terlebih jika saja tulisan tersebut bisa bermanfaat buat orang banyak. Jujur, itu saja sudah cukup untuk sekedar menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya secara pribadi.

Ketika kita membaca beberapa tulisan orang lain, maka akan ada banyak kemungkinan kemungkinan yang kita peroleh. kemungkinan itu hadir ketika sudah mendapatkan ilmu baru, mendapatkan pelajaran dan bisa belajar dari semua yang sudah kita baca, atau minimal bisa mendapat banyak manfaat yang mana kemudian bisa di konversi dalam bentuk yang lebih nyata setelahnya kita membaca. begitupun ketika kita sudah menyelesaikan sebuah tulisan, tidak harus yang bisa menginspirasi atau mengandalkan karya bernarasi. dari cerita yang sederhana saja kadang akan terselip kalimat kalimat yang berhasil menularkan energi positif untuk mentransfer berupa semangat dan ilmu baru bagi orang yang membacanya. salah satunya berupa ilmu yang bisa bermanfaat buat banyak orang.

Katanya ilmu itu bertebaran di mana mana, berserakan di banyak kejadian dan peristiwa kecil, menyelinap di tengah kisah dan cerita, sampai ke dasar kolong jembatan. pun pada fenomena jatuhnya sehelai daun kering ke tanah saja bisa menyelipkan pelajaran berharga buat di tularkan pada tataran proses kehidupan nyata banyak manusia. yang mana kemudian, dari kegiatan menulis lah jalan lain yang sekiranya bisa mengantarkan kita buat sedikit menyampaikan ilmu ilmu apapun buat orang lain. hal ini bukan saja menyangkut ilmu ilmu agama secara ritual, namun yang non ritual pun memiliki dimensi yang luas untuk di pertimbangkan yang kemudian bisa menularkan sebagai sesuatu yang punya manfaat lebih.

Ilmu non ritual, atau ilmu umum yang di ajarkan buat orang lain juga merupakan bentuk kemanfaatan tersendiri. terlebih jika dengan ilmu itu orang lain bisa mendapatkan life skill (ketrampilan hidup). Lalu dengan bekal life skill itu ia mendapatkan nafkah untuk sarana ibadah dan menafkahi keluarganya. lalu nafkah itu bisa menjadikan anaknya bersekolah dan bekerja hingga bisa menghidupi keluarganya, bermanfaat bagi masarakat, dan seterusnya, Maka ilmu itu akan menjadi pahala jariyah baginya. Ilmu yang bisa menolong sampai sesudah kematianya.

Rasulullah saw bersabda, bahwa ada tiga hal yang tidak akan putus amalanya walaupun orang tersebut sudah meninggalkan kita untuk kembali kepada penciptanya, yaitu: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang shaleh. mungkin ilmu yang bermanfaat disini adalah ilmu yang memiliki manfaat buat orang lain dalam menuju ketakwaanya kepada Allah swt. bukan menuju pada kefasikan. bisa saja kita menulis tips tips tertentu, atau menulis berupa ajakan dan anjuran ataupun himbauan yang sifatnya bisa menimbulkan orang lain merasa di berikan manfaat yang lebih oleh apa yang sudah kita tulis. sepertinya mudah buat di pahami yang kemudian bisa di kerjakan, namun kesadaran tersebut kadang sering di kalahkan oleh minimnya pola pikir.

Orang yang sadar akan manfaat dan pentingnya berbagi ilmu buat orang lain, maka ia akan dengan segenap hati untuk terus bisa " menebarkan " ilmunya ke penjuru bumi. Ia tidak pelit dengan ilmu yang sudah di pegangnya-- di milikinya. ia akan merasa senang jika melihat para orang lain bisa mengerjakan apa yang sudah ia tulis. Ia akan merasa gembira jika bisa melihat para orang lain, lebih mengerti dan memahami sebuah persoalan dari yang sebelumnya pernah terlilit dalam kungkungan kebodohan.

Mensyi' arkan ilmu yang bermanfaat tidak harus lewat aktivitas pendidikan formal ataupun mimbar mimbar dakwah, ilmu juga bisa kita tuangkan hanya lewat sebuah tulisan yang manakala tulisan tersebut bisa membawa pengaruh positif bagi para orang yang membacanya (sukur sukur membawa manfaat bagi orang lain). Kita mencoba berusaha, bukan hanya melulu menjadi seorang pengekor, namun sesekali mencoba untuk bisa menjadi motivator. bukankah petuah bijak pernah membentangkan kalimatnya, bahwa kedudukan orang yang tanganya di atas akan lebih mulia dari pada orang yang tanganya di bawah.

Allah juga sangat senang terhadap orang yang berusaha untuk belajar, namun, Allah akan jauh lebih senang terhadap orang yang terus belajar yang kemudian bisa mentreatment atau membagikan ilmunya buat orang lain. tebarkan ilmu dengan selembar tulisanmu. Ilmu sebesar apapun akan tidak punya manfaat yang lebih jika saja ilmu ilmu itu tidak di rasakan oleh orang lain sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Tulisan apapun, entah itu penting atau tidak, minimal akan punya makna bagi si penulisnya. alangkah bersukur jika di kemudian hari tulisan tersebut bisa punya manfaat besar bagi orang lain. Semoga saja, semua yang sudah kita tebarkan lewat sebuah tulisan, bisa memberi masukan buat menambah ilmu orang lain, sekaligus jumlah tabungan amal baik kita. semoga bisa bermanfaat.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More