Showing posts with label Imajinasi. Show all posts
Showing posts with label Imajinasi. Show all posts

Sayap Yang Patah...!!

_________________________________ Di sinilah sosok dia sekarang ini yang mulai sering bungkam dengan seribu masalah hidup dan cintanya, sejenak menemukan tempat persembunyianya yang di pagari sekat sekat sepi, yang akan mengingatnya dan turut menjadi saksi untuk sesuatu yang tidak dia sukainya. Antara marah, kecewa, menyesal adalah sebuah satu sangsi di mana dia tidak tahu sekarang harus kemana dan bagaimana mencari titik sebuah sikap agar bisa mendamaikan hati. Haruskah dia melawan sebuah kenyataan yang sudah di rusaknya sendiri, ataukah mengharapkan sesuatu yang tidak lebih dari menjual diri. Mungkin ada hal yang lebih dia senangi dengan tersenyum beberapa menit di setiap harinya. Tapi, pikir dia tidak cukup untuk bisa menjadi obat sakit yang di deritanya malam itu. Malam yang mengantarnya mengamputasi sebuah pemikiranya sendiri apakah yang disana sudah adil atau tidak...?


Dia mencoba bisa berlalu dengan masalahnya untuk sementara waktu saja, tapi dia terkesan belum mampu berlalu dari bayangan wajah itu. Wajah yang dia ketahui oleh hatinya sendiri sebagai penyemangat jiwa jiwanya yang sedang mulai bertunas dulu.

Mungkin dia sedang bertarung dengan jenjang waktu yang gelap, atau juga mencari pusaran waktu yang mengantarnya pada titik jejak pengakuan___ kalau takdir belum mampu hinggap menaungi kisah hidup dia. Bisakah "melupakan" adalah solusi yang bertanggung jawab? Yang bisa menjadi mati hatinya selama berhari hari bisa di sembuhkan. Hanya waktu yang lebih berani menjawabnya, karena waktu lah yang mudah mudahan mampu menjadi penasehat dia.

Hilangnya beberapa dolar menurut dia belum bisa menjadi bandingan yang sepadan dengan hilangnya harapan harapan dia. mungkin saat ini akan menjadi satu catatan dalam sejarah hidup dia sendiri meskipun harus di tulis dengan tanganya yang bergetar tidak wajar dalam banyak alasan.

Hingga kini satu satunya yang di cari dari sosok dia cuma satu yaitu semangat, hingga sekarang semangat itu berkali kali tumbang di simpang sebuah tepi jalan. Jalan hidup dia... entah sampai kapan dia mampu menjaga dirinya sendiri dari keterpurukan? Ataukah harus menunggu kembali dengan waktu agar tumbuh lagi sayap sayapnya yang sudah patah. Ataukah ada jalan lain yang mencari untuk mengerti tentang keadaan hati dia sendiri.

Hitungan hari tidak berkecukupan untuk membeli mahalnya harga hati. Hati yang merindukan pada sebuah nama yaitu kebahagiaan. Dia sendiri telah sadar sekarang bahwa waktu dan cinta adalah sesuatu yang mahal, dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memurahkanya dengan kesalahan dan kelalaian yang sama, meskipun barangkali dia sangat sadar dengan sikapnya sendiri waktu itu.

Wahai sahabat dia yang masih bisa membusungkan dadanya dengan nyala nyala cinta. Cukupkan dia dengan semangat dan harapanya menembus cakrawala baru. Gantilah sayap dia yang sudah patah di tempat sana. lebihkan dia dengan bekal perjalananya menuju dunia barunya. Halal atau tidak halal jalan yang akan di laluinya di lorong gelap sana, berilah dia berlipat lipat kertas putih berpijar yang siap menjadi sayap yang menyala nyala untuk menembus sekat dalam kegelapan.

Sekarang, di sinilah sosok ini yang sedang berusaha melunasi semua hutangnya karena kebodohanya. Melawan semua garis yang sudah menjatuhkan sebagai jalan kisahnya. Lalu seberapa hebat keinginan dia untuk menjadi seorang yang lepas dari kebungkaman karena tragedi cinta.

Hakul yakin, pikir dia mampu menjadi kesatria dalam parodi hidupnya sendiri. Karena semua yang sudah menjadi kesalahan dan kegagalanya berimbas pada munculnya tekad baru, semangat baru dan cinta baru.

Maka dia tidak perlu buru buru mengatakan pada dunia tentang kisahnya sekarang, cukup menjadi pengantar dia melawan semua rasa pahitnya menuju kebaikan (manis) yang masih di simpan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang masih di rahasiakan. sayap sayap yang patah itu___ mungkin akan menjadi pembelajaran untuk melangkah kepada kisah kisah dia selanjutnya.

Belajar Dari Sepasang Kekasih

"Saya ingin menikah muda dengan wanita yang saya cintai sekarang, Bukan karena saya ingin melakukan hal yang
selama ini dilarang oleh agama, tapi saya ingin menikmati pernikahan itu sendiri sebagai sebuah ibadah ". begitulah kira-kira kalimat yang pernah saya tulis di status facebook saya". Tapi yang saya pikirkan sekarang bukan saya takut karena alasan belum mapan dalam posisi karir, ataupun takut belum dapat restu buat nikah di usia muda, tapi lebih pada ketakutan saya itu karena udah pasti ibu bakal ngelarang saya buat menikah dengan wanita yang beda agama. Pasti ibu bakal marah besar karena selama ini ibu saya selalu pesan buat saya sendiri untuk menikah dengan wanita yg seiman, saya pun sebenarnya sangat memahami keinginan dan pesan ibu, karena naluri setiap ibu pasti selalu menginginkan kebaikan dan yang terbaik buat anak-anaknya termasuk saya sendiri.



Kebetulan pasangan saya juga selalu ngerti dengan posisinya sebagai penganut katholik, bahkan saya juga sering cerita mengenai apa saja yang sekarang menjadi ketakutan ibu mengenai keinginan rencana pernikahan saya. Gina adalah pasangan saya, dia cuma tersenyum menanggapi cerita saya tadi, karena selama ini gina juga selalu belajar dan masih banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang muslim, bahkan diam-diam dia juga sudah punya guru spiritualnya yang di dapatkan dari temanya sendiri. dan gina selalu berpesan kepada saya untuk selalu yakin bahwa kekuatan cinta akan menemui jalan terbaiknya sekalipun dengan hal--hal yg sedikit absurd.

Saya pun selalu yakin dan punya prinsip hidup untuk tidak mengecewakan keluarga khususnya ibu, terlebih kepada agama saya sendiri. Hingga kesadaran dari hati itu pernah muncul buat saya untuk mengislamkan gina sebagai calon pasangan saya nantinya, tapi tentunya akan menjadi sebuah dilema juga kalau di mana saya harus memaksakan kehendak gina apalagi mengenai masalah keyakinan, saya waktu itu sepenuhnya selalu percaya kepada proses yang sudah saya perjuangkan bersama gina.

Pastinya keluarga gina juga punya prinsip seperti ibu saya perihal masalah ini. saya pun selalu menemui jalan buntunya ketika masalah ini selalu di diskusikan bersama gina, tapi tetap berusaha untuk survive. memang kalau masalah seperti ini harus ada yang di korbankan salah satunya untuk berada pada satu jalan dan keyakinan yang sama. Untungnya gina selalu memahami pada posisinya sendiri sekarang, dan dia tidak pernah sekalipun menyerah dengan masalah ini, terlebih dan tentunya sedikit di tentang banyak keluarganya.

Hingga pada ahirnya hidayah itu sepertinya datang buat gina dan saya, dia menelpon saya untuk segera datang ke masjid Nurul-Huda deket kantor pos di mana saya dan gina pernah ketemu di sana untuk pertama kalinya. tanpa pikir panjang dan mempertanyakan alasanya sayapun bergegas memacu kendaraan motornya menuju lokasi dimana katanya dia berada di masjid.


Setelah sampai di lokasi yang di sebutkan, saya sedikit kaget karena di situ sudah banyak kerumunan orang yang sedang membetulkan motor yang sedikit ringsek yang sudah di tinggalkan pengendaranya. Saya pun paham dan cukup tahu itu motor siapa, setelah tanya-tanya sama orang sekitar dan dengan panik dan gemetaran sayapun langsung bergegas menuju rumah sakit hasil petunjuk dari orang orang sekitar. "mas mas sebentar mas.." saya tidak mempedulikan apa maksud dari orang tua bersorban tersebut memanggil saya karena yang ada di pikiran saya cuma bagaimana supaya saya bisa segera nyampai rumah sakit di mana gina di rawat.

Sampai di rumah sakit sayapun tidak bisa menahan rasa sedihnya setelah melihat orang yang terkasihi terbaring lemas dengan luka di kepalanya, tapi gina malah tersenyum setelah melihat saya masuk dari pintu kamar di mana dia di rawat.

"Saya ga papa kok, saya di sini tidak butuh orang yang bersedih, saya butuh orang-orang yang selalu tersenyum setelah melihat saya ada di sini " lirih gina dengan sedikit batuk. Saya pun tersenyum untuk memastikan gina bahwa dia tidak mengalami luka yang serius.

Hingga pada ahirnya sayapun terpaksa nginep di rumah sakit bersama keluarga gina juga. Gina hanya sedikit merintih di tengah malam dalam tidurnya. Saya pun lantas memanggil perawat di kantornya yang kebetulan masih belum tidur. wanita perawat tersebut begitu sopan dan terkesan murah senyum, sambil memegang tasbihnya dia selalu memastikan dengan tutur katanya yang keibuan bahwa kondisi gina baik-baik saja, dia menaruh tasbihnya di sebelah bantal gina untuk membetulkan dan memastikan kabel infusnya yang sedikit melilit.

Gina pun menanyakan pada suster sambil melirik tasbih tersebut. " kalau boleh nanya, emang ini apa sus?" Suster pun menjawab sembari senyum "ooh ini ya, hehe ini cuma tasbih buat menjaga supaya saya tidak tidur" gina pun tidak puas atas jawaban suster tersebut hingga dia tertidur lagi dengan pulas.

Di tengah tidurnya seolah gina menemukan sebuah hidayah, dia bermimpi di ajak oleh suster tersebut ke masjid Nurul-Hudda di mana dia mengalami kecelakaan, diapun menemukan cahaya bertuliskan syahadat sebagai kalimah Allah. begitulah mimpi yang dia ceritakan kepada saya.

Sampai pada ahirnya gina meminta saya untuk memanggil suster tersebut, dan pada alhamdulillah gina dan mungkin saya telah di pertemukan dengan hidayah, bimbingan atau petunjuk dari Allah SWT bahwasanya kekuatan cinta bisa merubah semua yang saya takutkan selama ini.

Kebahagiaan seakan terjawab saat gina meminta untuk menjadi seorang muslim di tengah kondisi sakitnya. Saya sedikit speechless buat menyikapi kabar bahagia tersebut. Setelah mendapat bimbingan dari suster tersebut lima hari kemudian gina langsung memutuskan untuk menjadi mualaf.

Lima bulan kemudian sayapun memutuskan untuk menikah yang di bangun atas dasar cinta bersama gina sebagai jalan ibadahnya, dan menurut saya Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa di majukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.
** beberapa tahun kemudian**
Sekarang saya pun di karuniai lima orang anak hasil pernikahanya dengan gina dan bersukur sekali karena sudah menjadi keluarga yang bahagia insya Allah. Sebaik baik perhiasan adalah wanita atau isteri solehah yang memberikan sakienah dalam kehidupan untuk meraih jannah...


Cerita ini ternyata fiktif dan cuma hasil dari sebuah imajinasi saya yang di latar belakangi dari keinginan saya untuk segera menikah☺

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More