Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Karena Sahabat Adalah Rahmat




##
Ketika jalan pendakian mimpi aku kehilangan peta petunjuk, kehilangan banyak tenaga untuk bisa sampai di titik bijak. Ada sahabat yang akan selalu siap mengingatkan, ada sahabat yang akan selalu memberi jalan untuk bisa sampai disana 


Ketika aku kehilangan sepotong harapan soal cita-cita, ketika aku kehilangan mimpi berkali-kali. Selalu ada sahabat yang akan setia memberi harapan baru, selalu ada sahabat yang siap memberi tali semangat yang lebih kuat 


Ketika aku merasa ada di titik yang terbawah, ketika aku merasa tertinggal jauh disini sendirian. Ada sahabat yang siap berdiri memberi bahu untuk kapanpun, ada sahabat yang setia mununggu sampai dimanapun 


Pun, ketika aku bersinggah pada ketinggian puncak kesombongan, ketika aku mulai lupa dengan teman dan sahabat lamanya. Ada sahabat yang akan tetap membuka pintu rumahnya dengan senyum 


Ketika aku terlalu bodoh, ketika aku terlalu banyak menelan kesalahan berkali-kali, kepada sahabat aku bisa belajar tentang semuanya 



Terimakasih Tuhan, karena sahabat adalah rahmat * senyum


Al-Hasan Al-Bashri berkata: Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki Syafaat pada hari kiamat





@rumahpetuah
Ilustrasi gambar: darisini


Hujan Yang Kesekian




Ini tentang hujan yang kesekian

Tentang janji yang belum bisa di tunaikan

Tentang kenangan yang tidak bisa akan tergantikan

Dan tentang bunga cinta yang sedang merangkai kembali lewat beberapa tangkainya.


Ini tentang hujan yang kesekian

Tentang risalah yang belum lagi membagi kisah romantisnya

Tentang rasa yang kembali mendapatkan kehangatanya

Dan, tentang beberapa rindu, yang akan terus menjadi akar bagi pohon pohon cintanya.


Satu lagi tentang hujan

Tentang sepasukan pemilik hati,

Yang akan terus setia menjadi pecinta hujan.







Imyu musim hujan, 24 november 2013

Aku Semisal Debu Di Luasnya Selangkangan Langit


gambar dari google



...... Sepetak langit di artikan tanda luas pada awal mulanya alam di hadirkan Tuhan, Bagi mereka yang acap kali enggan menutup lama kitab-kitab tuanya. Aku dipaksa memahami, dengan melipat dahi berkali-kali, meski dengan segala tingkat baik buruknya pemahaman yang aku beli..... 

...... Luasnya kerajaan bumi di artikan perwakilan dari sifat Tuhan dengan seluruh maha besarnya, Bagi mereka yang membiasakan rajin membuka kitab Tuhan-nya dalam diam. Aku ingin itu setuju, berbicara pada bahasa manusia yang akan menjadi seperti debu, dengan segala tingkat luas dan sempitnya pemahamanku...... 

 ...... Kehadiran awan di artikan tanda hujan tiap kali tangan Tuhan tidak pernah jeda membungkus diam, bagi mereka yang enggan menghapus beberapa pesan Tuhan dalam sepotong kejadianya. Aku hanya mengaminkan, mencari bahasa dan pesan lain yang siap saya telan...... 

 Karena aku semisal debu di luasnya selangkangan langit..




-yayack faqih-

Buku Tua



-- BUKU TUA --

Seperti pada cemburunya siang kepada malam yang di lingkar bulan
Seperti pada bungkamnya bulan
Yang di usir malam ke punggung pagi
Seperti pada gagahnya siang
Yang mengeja langit di mimbar sore
Seperti pada kemunculan bulan
Yang memukul malam ke peluk gelap
Hadirnya selalu di dapuk utk kembali
Tanpa pernah takut pada hal dan hasil yang sama,
Tanpa pernah menyerah pada yang seharusnya
Begitupun sekembalinya yg kesekian

Buku tua,
Jubahnya membungkus semangat
Sepasukan aksaranya menghitung jeli
Di hulu diamnya mengulum arti
Anak lembarnya di khatamkan

Buku tua,
Setua malam ini yang sedang di pungut sepi
Lembarnya menguning
Mengering dan pesing.
Hingga tidak sedikit di sudutnya memunculkan kata kata yang asing.

Hadirnya,
Pelan di eja membelah terjemah
Semburatnya memangku sejarah
Tiap katanya membasuh noktah
Setelahnya mengirim marwah
Dan, buku ini adalah untuk melawan lupa.


**buku peninggalan ayah (tafsir--bachtiar surin)
Indramayu 5 oktober 2013


Juragan Penantang Langit






Pada senilai uang

Yang kerap kau pajang garang di ujung pedang

Pada sepetak wajah yang menyusun sombong setinggi bukit

Yang kerap kau habiskan dgn menantang langit


Jika satu pertanyaan melahirkan 5 jawaban, cukupkan dua pertanyaan yang bisa kau telan tanpa dendam 

Dari segumuk lumpur mana kau dapati batang emas itu?

Jika sekarung harta warisan kau perlakukan dgn kepongahan

Dari mana pula perahu besi berdayung mahal itu?

Jika satu satunya kebangganmu adalah senyum tentang pengumuman

Akulah yang pantas menantang langit,

Begitu kata juragan..







Yayack faqih(bukan juragan), 25 august 2013


Gambar dari google

Sebungkus Cinta Kutitipkan Di Atas Meja Tuhan





Seperti pada kebiasaan keringnya tanah yang tidak pernah mampu membeli hujan...

Ia coba membayarnya dengan mengajak angin-angin, dan awan, dengan membentuk sekumpulan mendung untuk kemudian menjadi hujan...

Begitu juga ketika marwah cinta ini belum mampu membuka halaman hatinya, Ia mencarinya dengan berlembar lembar ketulusan yang di titipkan di meja Tuhan.

Cinta datang tepat di pinggiran siang, lalu ia menyapanya dengan pelan pelan... Penuh kesederhanaan... Dan, disitulah pada soal cinta kehendak Tuhan campur tangan..






--yayackfaqih (rumah petuah)

Hujan Dan Firman Tuhan



-- Hujan Dan Firman Tuhan --


Sepasukan langit di artikan sebentuk awan 
Bagi mereka mereka yang menabung doa tanpa diam 
Aku paku di makan bungkam, sesekali membungkus iman 
Meski memangku rindu, yang tak di cumbu hujan berminggu minggu 

Sekawanan awan di artikan pesan dari Tuhan 
Bagi mereka mereka yang menimbun banyak harapan 
Aku patuh mengeja barisan firman Tuhan 
Di rahim awan, banyak anugerah yang di titipkan oleh hujan 

Di pinggiran siang, Aku berbisik kepada awan 
Menanyakan siapa itu hujan? 
Aku ingin kenal lebih dari teman 

Di tepian petang, Setelah titik bunyi hujan 
Aku memungut satu jawaban 
Awan membisik pelan, sangat pelan 
Hujan itu untuk kalian 

Jika tak suka hadirnya hujan 
Matikan lisan memagut diam 
Jika tak cinta datangnya hujan 
Niscaya Tuhan mana yang kau percayakan 

Aku bangun dari diam 
Dalam jejak doa yang membumikan 
Aku baca seporsi firman Tuhan 
Pelan pelan di lumat lisan 

Ayat ayat tentang alam 
Terkemas suci dalam Al-Qur'an 
Jika hujan tak lagi membagi peran 
Nikmat Tuhan mana yang hendak kau doakan 

Setelahnya hujan datang 
Nikmat Tuhan mana yang hendak kau dustakan?





Puisi ini di ikut sertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi






Gambar dari google

Kepada Daun


----------
Sumpah di dahan 
Untuk tidak menjadi beban
Memesan pada ranting
Untuk bersahabat sampai mengering


Daun tak pernah takut
Pada rumput yang siap menyambut
Daun juga tak pernah lupa
Pada tanah yang siap menyapa


Jatuhpun tak lantas mati
Ia mengering mencumbu tanah
Sepeninggalnya menjadi dupa
 Meninggikan bait bait doa


Pada waktunya yang telah tiba
Ia hafal dengan akan takdirnya
Siap beteman angin di kala muda
Siap menyapa angin di kala tua


Pada daun yang di tundung angin
Awal daun yang menghebatkan
Jatuh sungkur kapar di tanah
Tidak menyalahkan siapa siapa





gambar dari google
11 desember 2012
RM/YF

Sang Pembeli Hujan





-- Sang Pembeli Hujan -- 

Satu, dua atau tiga bulan terakhir. Rasa pada penantian itu seolah menjadi makin jauh dari ribuan tentang harapan. Jauh dari yang terus kami doakan untuk beberapa bulan. Dari rindu akan aroma tanah yang basah, dari kekeringan yang tak kunjung di tamu hujan, dari kepanasan yang sukar untuk menjadi kesyukuran, dan dari firman firman Tuhan yang terasa sulit untuk di artikan. Biarkan pesan lewat mendung itu menjadi munculnya setitik harapan akan segera datangnya turun hujan.

Lewat hujan, Tuhan seperti sedang menterjemahkan dengan tangan dan cara Tuhan sendiri. Melalui pesan pesan magisnya lewat kejadian di perankan alam, yang mengharuskan hamba seperti kita untuk menjadi lebih tergerak memunculkan upaya untuk berpikir, lalu mensyukuri apa yang sudah di tetapkan. Jikapun ada yang tidak menjadi halal untuk bisa di laksanakan, sejatinya-- Tuhan akan membuka ruang lain yang menggiring kita untuk mencarinya di ladang lain. Bukan memangku tangan dengan segudang harapan.

Seperti pada sebuah penantian tentang kapan itu hujan? Yang tak pernah mau memberi tahu kapan ia akan datang, yang tak pernah minta izin kapan ia akan pamit dari langit-- menyambangi bumi.

Kapan datangnya hujan? sebegitu rindukah bumi ini akan siraman makna sederhanamu yang sedang membagi peran? Biarkan awan awan itu sedang bekerja untuk di bagi esok hari. jika saja esok harinya lagi-- hujan ternyata bisa menyapa, itu adalah jawaban dari sang pembeli hujan, Yang membayarnya dengan sebentuk doa dan harapan.





 gambar dari google

Pendosa Malam




Dalam setiap sesiapa yang menyapa aku dalam kebosananku, di tiap kesempatan itu pula senyumku hanya menyudut di bekas senyuman esok lalu. Hanya bisa membawa pada apa yang kemarin menjadi catatan buruk aku, dengan segala kesadaranku.

Ingat malam itu, kalau sepasukan dosa aku mulai berbaris bergilir peran. Pada malam itu juga kesadaran aku mulai berkurang saat dimana peran naluri sudah kalah telak oleh sepasukan emosi yang terus menguasai. 

Pendosa malam, menjadi stempel aku yang sudah di laknat malam atas sesuatu yang sudah aku perankan. Memerankan tokoh tokoh yang sudah di vonis buruk oleh tangan tangan Tuhan.

Ahh, buruk rupa menjadi cermin aku di mata-Mu, rupanya nyali aku yang memikul dosa telah menjadikanku buruk sangka, kepada siapa saja. Hingga jatuhku-pun sekonyong konyong harus menyalahkan mereka. Sampai malam itu menjadi buta untuk menjelaskan tentang dosa anak manusia.

Bulan hanya bisa menjadi penyedap malam, tak mampu mengubah rasa tawar dari rasa anyir yang berkepanjangan. Pendosa malam, nama itu sudah menjadi tanggungan yang siap menjadi teman teman, saat di mana semua kesiapan belum di tunggangi dengan kesadaran dan iman.

Izinkan aku mengganti peran dengan segala kesanggupan dan kesiapan, dari pendosa malam menjadi sang pengumpul kalam kalam Tuhan.




** RP/YF
Imyu, 11 oktober 2012
Gambar dari Google

Membungkus Pesan Ke Langit Surga





Hanya sebatang
Satu bilangan
Tegap memajang
Dan telanjang
Yang meniup garang dalam terang
Yang teronggok kokoh dalam ruang
Yang melawan alam di samar bulan

Maksud ia melempar arti
Meski hanya membasuh sepi
Dalam sepotong jari jari
Pantang takut meleleh mati
Ia tandang merahkan malam
Mencumbu malu ke hulu bintang

Tertatih di tamu angin
Lenyap punah mengancam usia
Bukankah usia aku begitu cepat
Kata api, di badan lilin
Dalam lirih ujarnya yang di ikat sepi

Hanya sebatang
Memangku firman Tuhan
Hanya telanjang
Nyalamu menitipkan pesan
Memberi terang siapa insan
Kumandangkan malam
Membesarkan nyala kunang kunang

Sungguh manfaatmu beribu ribu
Meski tubuh terpaku satu

Setelahmu di gilir mati
Terangmu mengabadi
Manfaatmu tak punya jeda untuk di hitung
Meski kata para mereka...
Badan bulatnya gemar mematung

Hanya sebatang
Satu bilangan
Dan telanjang
Titipan nyalanya...
Membungkus pesan ke langit surga



gambar dari google




Ragu



Terdiam, hanya isi yang bisa menghebatkan
Itupun cuma sekumpulan pertentangan antara keputusan iya dan tidak.

Mata hanya bisa menatap lurus tak bermaksud
Tak pernah mampu mengunyah nyali
Sesekali berkedip
Mensyairkan kehendak tanpa bertindak

Bibir hanya bisa menimbun sepotong keinginan
Melumat yang bukan ingin di buat
Menyimpan sarat sarat tujuan
sedikit melaksanakan, tanpa menuntaskan

Ragu, jejakmu memikul langkah yang mulai berat memangku kiblat.
Di separuh jalan panjang
Memutar kehausan yang sering sering
membiaskan yang sudah pantas, menggandakan yang sudah tunggal.

Aku di persimpangan jalan
Tak ada kawan yang menuntun jalan
Hanya lakumu yang membawaku, laku yang benar benar tak bisa membasuh malu.

Mana ragu itu? titipkan saja pada dalamnya kantong para benalu
Enyahkan dan tinggalkan ia
Sampai suara suara itu memuntahkan firman berayat jelas....





Posted :
Indramayu, 31 juli 2012 (Rm-Yf)
Sumber gambar dari sini




Menjaga Sepotong Malam Di Punggung Shubuh





Dari sepersekian episode waktu yang terus memutari hari dan paginya, ia serupa dahan kecil yang akan terus menjaga hijaunya daun dari keringnya pada kemudian waktu. pada saat dimana daun itu akan rapuh dan jatuh. Adalah di usia paruh baya, begitu ia sering di bincangkan sebagai manusia shubuh oleh para tetangganya. Nama lain dari penyebutan panggilan itu seolah penterjemahan dari atribut dirinya pada stempel sisi spiritual.

Tidak ada yang mesti di banggakan dari diri seorang bapak setengah baya ini, kecuali seruan seruan kata hatinya dalam mengantarkan kebutuhan jiwanya ke jelaga pendopo malam, Membungkus serakan dosanya yang tak terhitung jumlahnya, Ia selalu membayar panggilan hatinya, menjaga sepotong malamnya di setiap menuju punggung shubuhnya. Berburu menuju sudut tempat sujud dengan seutas tali berisi biji bijian yang berantai, menghitungnya dengan pelan dan kekhusyuan. Beriringan dengan penyebutan ayat ayat yang melanggengkan asma Tuhan. Membangunkan orang orang yang sedang setengah terjaga. Tentu itu adalah pesan yang menggembirakan.

Dalam tiap kali mengeja malamnya, dirinya tidak sedikitpun merasa terintimidasi oleh ketakutan macam apapun, semuanya bisa ia lunasi laksana membayar sekarung kurma dengan selembar uang bernilai tunai. Ia selalu mempesiang harinya dengan satu misi manusiawi: ingin hidup selama mungkin dengan ikhtiar dan bekerja. Dan mempersunting waktu malamnya dengan melagukan kalam kalam illahi yang mem-bumi. Seraya doa doanya menembus ke hulu langit memotong sekumpulan hitam tak berjingga.

Saya hanya bisa membayangkan, mencontoh pada diri saya apa yang sudah ia kerjakan sebagai pekerjaan ibadahnya, menerapkan pada diri saya apa yang sudah ia lakukan... harusnya saya punya kekuatan lebih untuk bisa memanfaatkan apa yang sudah ia dapatkan. Sayangnya untuk saat sekarang, ikhwal dari kebutuhan tadi masih terjadi tawar menawar antara keinginan dan keengganan, antara niat dan membatalkan, antara kemauan dan ketidakmampuan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Rabb (Tuhan) kita turun di setiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman : Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya”. (HR. Al-Bukhari no. 1145, 6321 dan Muslim no. 758).

Masih terlalu sulit untuk membiasakan bangun tidur sebelum waktu menuju shubuh. Tulisan ini sengaja saya posting tepat pada jam menunjukan pukul 14:30. Tepat selisih kurang lebih 11 jam dimana Tuhan turun dari langit dalam titik terendahnya. Semoga menjadi awal dari kebutuhan untuk kebiasaan memanfaatkan waktu sepertiga malam.



Gambar di ambil dari sini

Jalan Pulang



Awan pekat di artikan tanda petaka untuk sebuah sisa usia, bagi mereka yang telah tenggelam menuju jalan pulang. Saya hanya tergugu meskipun ragu bahwa benda itu jatuh ke dasar alam melagu pilu.

Badai adalah harga usia untuk sebuah jalan pulang menuju haribaan. Saya mendiamkan sebagian anggota tubuh guna menggerakan tubuh yang lain, mulutpun melagukan nada rindu akan semua sisa sisa petunjukMu.

Musibah adalah keharusan untuk sebuah agenda Tuhan, bagi mereka mereka yang menyerahkan nyawanya. Cukup saya maknai seperti serupa alam sedang menghawatirkan kita. Serupa alam memperingatkan kita akan pesan alam sendiri sedang mengabarkan duka. Sebagai ketetapan sang maha kuasa.

Jalan pulang adalah akhir dari kembalinya kita, bagi mereka mereka yang sudah terbentuk dari tanah. Saya hanya menghawatirkan pada sekembalinya perjalanan menuju pulang, saat di tanya para penunggu rumah, kita sudah mendapatkan apa saja?





Indramayu, 17-05-2012 ***(YF)




Lelaki Ombak



Misteri hidup para mereka penghuni tanah suatu saat akan bisa di ungkap walau pada saat yang begitu lama. Ya, manusia manusia pilihan adalah mereka yang tidak pernah mengukur sesi kebahagiaan hidupnya dengan kebahagianya seorang diri.

Lelaki ombak. Dia tahu benar mana yang harus di hadapinya semata untuk melunasi sebuah kewajibanya. Pun jikalau harus menabrak karang yang kokohnya sekuat benteng perang. Ia akan haramkan pangku tangan untuk cepat cepat singsingkan dua lengan.

Lelaki ombak. kuatmu adalah pesan untuk berkata tidak pada rasa menyerah. Hajar, mundur, hajar lagi dan mundur lagi. Tidak pantas untuk kau katakan tidak bisa. Harus bisa, bisa untuk siapa? Mereka para manusia manusia penghuni tanah raya. Mereka pasir pasir yang keberadaanya tak mau di usir. Mereka para batu karang yang bisa belajar dari kedatanganya.

Lelaki ombak, bijakmu menyamaratakan ketidak adilan, menyamakan ruang perbedaan, dan menutupi lubang kecemburuan. Sikapmu tak lain hanya pada sebatas bentuk pesan dari sebuah perjuangan-- yang mestinya tidak ada kata akhir sebagai kesudahan.

Lelaki ombak. Sikapmu yang berkali kali menerjang batu karang, mencumbui berjuta butiran pasir dalam telanjang, terkadang berteman dengan pasang dan sesekali membawa haru biru bak peristiwa menang di gelanggang perang.

Lelaki ombak, meski kau tak pernah bisa melumasi seisi pantai, meski kau hanya bisa bertenaga karena angin angin, seperti pada hubunganmu dengan mahluk alam raya lain. Pasir pasir lah yang hendak mereka berucap terimakasih. Seraya membawa pada kehangatan hidup, bahwa kiranya ombak akan selalu bersahabat dengan angin angin, bersahabat dengan pasir pasir, bersahabat dengan para penghuni penghuni tanah yang siap menyegerakan hadir setelah lahir.

*
*
*
*
Imyu, 8 maret 2012


Lihatkan Saya Dengan Neraka-Mu


Dari cara pengambilan penulisan judulnya, mungkin terkesan punya pesan gagah-gagahan, ada serupa sikap mengecilkan apa yang di sebut dengan siksa api neraka, semoga di hindarkan dari semuanya. naudzubillahmindalik! Tapi bukan itu esensinya, saya hanya mencoba menjawab kebutuhan untuk berkawan dengan sikap kehati hatian saya sendiri sebagai seorang hamba yang lemah di hadapan-Mu, sebagai seorang hamba yang tak punya kuasa apapun atas semua kehendak-Mu.

Atau lebih pada mencoba bekawan dengan sensasi hangatnya air mata saat terjun mengalir ke tebing pipi tanda penyesalan akan minimnya bekal amal baik saya, Mencoba berkawan dengan sikap yang memberi pesan untuk mawas diri di saat masuk pada pusaran jagat bumi yang mulai rapuh ini. Terlebih, untuk mencoba berkawan dengan sikap kewaspadaan terhadap ego saya sendiri yang terkadang mudah di pengaruhi dan terseret oleh hal hal yang memberi pesan kurang baik.


Terbuktikan, bahwa kenyataanya kita hanya di sibukan dalam bentuk sikap yang lebih cenderung mengepulkan asap asap dupa dunia. Yang mulai terkontaminasi oleh aroma dapur dapur maksiat, terhipnotis oleh menjalarnya budaya barat, mengagungkan materi dari pada keselamatan diri, bahkan sampai tergerus oleh zaman berlambang manusia yang kehilangan akal warasnya. Semuanya muncul seiring dengan menipisnya umur bumi.



Lihatkan saya dengan api neraka-Mu, niscaya mampu membawa ketakutan ini menjadi pelindungku dari timbunan dosa dosaku.


Lihatkan saya dengan api neraka-Mu, niscaya mampu mengambil pesan kebesaran-Mu ini untuk mengecilkan jumlah dosa dosaku.


Lihatkan saya dengan api neraka-Mu, niscaya dua mata ini menjadi ketakutan untuk segera berlindung di balik jubah jubah ibadahku.


Lihatkan saya dengan api neraka-Mu, karena sebaik baiknya manusia terpilih adalah hamba yang takut akan siksamu. Dan menyegerakan untuk lebih dekat dengan kuasa-MU.
Gambar di ambil dari sini



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More