Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

Rahasia Ubun-ubun dalam Alquran


Gambar otak manusia bagian depan yang disebut Allah dalam Al Qur’an Al Karim dengan kata nashiyah (ubun-ubun).

Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16)
Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah?
Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”


Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil penurut yang menerima perintah dari siapa saja.

Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang berbeda dari segi tempat dan fungsinya.

Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan kognisi.

Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan kesalahan, dan seterusnya. Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.

صورة للبروفسور كيث ال مور عالم الأجنة الكندي

Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo, ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis. Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun.

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarauh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak. Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah, “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)

Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”

Juga seperti doa Nabi SAW, “Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”

Juga seperti sabda Nabi SAW, “Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”

Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.

Makna Bahasa dan Pendapat Para Mufasir:

Allah berfirman,

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعَ بِالنَّاصِيَةِ(15)نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ(16)

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang berdusta lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 15-16)

Kata nasfa’ berarti memegang dan menarik. Sebuah pendapat mengatakan bahwa kata ini terambil dari kalimat safa’at asy-syamsu yang berarti matahari mengubah wajahnya menjadi hitam. Sementara kata nashiyah berarti bagian depan kepala atau ubun-ubun.
Mayoritas mufasir menakwili ayat bahwa sifat bohong dan durhaka itu bukan untuk ubun-ubun, melainkan untuk empunya. Sementara ulama selebihnya membiarkannya tanpa takwil, seperti al-Hafizh Ibnu Katsir.

Dari pendapat para mufasir tersebut, jelas bahwa mereka tidak tahu ubun-ubun sebagai pusat pengambilan keputusan untuk berbuat bohong dan durhaka. Hal itu yang mendorong mereka untuk menakwilinya secara jauh dari makna tekstual. Jadi, mereka menakwili shifat dan maushuf (yang disifati) dalam firman Allah, “Ubun-ubun yang dusta lagi durhaka” itu sebagai mudhaf dan mudhaf ilaih. Padahal perbedaan dari segi segi bahasa antara shifat dan maushuf dengan mudhaf dan mudhaf ilaih itu sangat jelas. Sementara mufasir lain membiarka nash tersebut tanpa memaksakan diri untuk memasuki hal-hal yang belum terjangkau oleh pengetahuan mereka pada waktu itu.

Sisi-Sisi Mukjizat Ilmiah:

Prof. Keith L Moore mengajukan argumen atas mukjizat ilmiah ini dengan mengatakan, “Informasi-informasi yang kita ketahui tentang fungsi otak itu sebelum pernah disebutkan sepanjang sejarah, dan kita tidak menemukannya sama sekali dalam buku-buku kedokteran. Seandainya kita mengumpulkan semua buku pengobatan di masa Nabi SAW dan beberapa abad sesudahnya, maka kita tidak menemukan keterangan apapun tentang fungsi frontal lobe atau ubun-ubun. Pembicaraan tentangnya tidak ada kecuali dalam kitab ini (al-Qur’an al-Karim). Hal itu menunjukkan bahwa ini adalah ilmu Allah yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, dan membuktikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.

Pengetahuan tentang fungsi frontal lobe dimulai pada tahun 1842, yaitu ketika salah seorang pekerja di Amerika tertusuk ubun-ubunnya stik, lalu hal tersebut memengaruhi perilakunya, tetapi tidak membahayakan fungsi tubuh yang lain. Dari sini para dokter mulai mengetahui fungsi frontal lobe dan hubungannya dengan perilaku seseorang. Para dokter sebelum itu meyakini bahwa bagian dari otak manusia ini adalah area bisu yang tidak memiliki fungsi. Lalu, siapa yang Muhammad SAW bahwa bagian dari otak ini merupakan pusat kontrol manusia dan hewan, dan bahwa ia adalah sumber kebohongan dan kesalahan.

Para mufasir besar terpaksa menakwili nash yang jelas bagi mereka ini karena mereka belum memahami rahasianya, dengan tujuan untuk melindungi Al Qur’an dari pendustaan manusia yang jahil terhadap hakikat ini di sepanjang zaman yang lalu. Sementara kita melihat masalah ini sangat jelas di dalam Kita Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarah dalam diri orang dan hewan.

Jadi, siapa yang memberitahu Muhammad SAW di antara seluruh umat di bumi ini tentang rahasia dan hakikat tersebut? Itulah pengetahuan Allah yang tidak datang kepadanya kebatilan dari arah depan dan belakangnya, dan itu merupakan bukti dari Allah bahwa Al Qur’an itu berasal dari sisi-Nya, karena ia diturunkan dengan pengetahuan-Nya.
sumber: eramuslim.com

Seringlah Berziarah Kubur


Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah lurus yang ahli ibadah. Imam Ahmad pernah mengatakan, bahwa tidak ada seorangpun tabi’in yang ucapannya bisa dijadikan hujjah, selain Umar bin Abdul Aziz. Ketika ajalnya sudah mendekat, dia meminta isterinya, Fatimah, “Keluarlah dari kamar ini, sebab aku melihat beberapa makhluk yang bukan bangsa manusia dan bukan pula bangsa jin, yakni malaikat”, lirihnya.


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾
نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kmau merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyang”. (QS : Fushilat : 30-32)

Lalu, Umar bin Abdul Aziz bersuara sangat lirih, “Ya Allah. Teguhkanlah kami dengan kalimat yang teguh, ketika arwah kami menyesakkan kami dan penderitaan kami amat berat, sehingga tidak ada tempat lari dan berlindung kecuali kepda-Mu”, ucapnya.

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء ﴿٢٧﴾

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. (QS : Ibrahim : 27)

Banyak orang yang ajalnya datang ketika maksiat mereka menggunung. Entah karena pembunuhan, zina, khamar, riba, nyanyian , tidak shalat lima waktu berjamaah, ataupun tidak peduli pada risalah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Laa ilaaha illallah, betapa lalainya mereka itu!
Sehabis ditangkap, Sa’id bin Jubair dibawa menghadap Al-Hajjaj.

“Siapa namamu?”, tanya Hajjaj mencomooh.

“Sa’id bin Jubair”, sahutnya.

“Bukan. Nama kamu adalah si Sial (Syaqi) bin Kusair”.

“Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau”, jawabnya.

“Celaka kamu .. celaka pula ibumu”, balas Hajjaj, sambil melanjtukan.

“Demi Allah. Kamu akan saya masukkan ke dalam api yang menyala-nyala”, teriak Hajjaj

“Kalau aku tahu kamu sanggup melakukannya, pasti engkau sudah aku jadikan tuhan”, sergah Sa’id.

“Bawa sini harta kekayaan”, datangkanlah emas perak, cetus Hajjaj.

“Hajjaj”, kata Sa’id, “Sekiranya kekayaan ini engkau kumpulkan untuk menyelamatkan dirimu dari azab yang pedih, alangkah bagusnya. Tapi, bila engkau melakukan itu untuk riya dan ingin disebut orang, demi Allah tidak akan ada gunanya disisi Allah sedikitpun”, tegas Sa’id.

“Bawa ke sini budak perempuan yang bisa menyanyi”, perintah Hajjaj.
Lalu, Sa’id menangis.

“Apakah lagunya enak”, tanya Hajjaj.

“Demi Allah. Bukan. Aku menangis lantaran ada budak yang diperkerjakan untuk sesuatu yang b ukan untuk itu ia diciptakan, dan lantaran kayu yang dijadikan alat musik untuk digunakan bermaksiat kepda Allah”, cetus Sa’id.
Sa’id membacakan firman-Nya :
“Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah”. (QS : 115)

“Banting ke tanah!”, teriak Hajjaj penuh amarah.

Tetapi, Sa’id menjawab, “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan megnembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pda waktu yang lain”. (QS : Thaha :55)

“Demi Allah. Sahya akan membunuh kamu dengan cara yang tidak eprnah digunakan orang”, kata Hajjaj.

“Hajjaj. Engkau boleh pilih cara sesukamu. Demi Allah, cara apapun yang engkau pilihl membunuhku, niscaya Allah juga akan membunuhmu dengan cara seperti itu”, cetus Sa’id.

Sebelum dibunuh, Sa’id berdo’a.
“Ya Allah. Jangan biarkan dia menindas siapapun setelah aku mati”, ucap Sa’id dengan lirih.

Kemudian, kepala Sa’id pun dipenggal oleh Hajjaj. Hanya beberapa bulan kemudian, Hajjaj meronta-ronta, karena sakit sampai Allah membinasakannya.

Tentu, hendaknya kita selalu mengingat kematian, yang akan datang setiap saat. Terkadang kita lalai dan lupa akan kematian, lupa peristiwa sesudah mati. Karena kita terperosok ke dalam maksiat, nafsu syahwat, syubhat, yang membuat Allah menjadi marah.

Diriwayatkan dari Maimun bin Mahram, ahli zuhud yang ahli ibadah dan alim, bahwa ia menggali sebuah lubang kubur di dalam rumahnya. Setiap malam ia masuk ke dalam kubur itu sambil menangis dan membaca al-Qur’an. Lalu, ia keluar lagi dan berujar kepada diri sendiri. ”Maimun sekarang engkau telah kembali ke dunia, kerjakanlah amal shaleh”, bisiknya dalam hati.

Mengingat mati bisa dilakukan dengan berziarah kubur. Seiring dengan berkembangnya peradaban, perkembangan budaya, berbagai macam godaan syahwat, ragam makanan yang lezat, corak pakaian dan barang-barang perabot, maka ziarah kubur jarang-jarang dilakukan. Akibatnya, kamatian pun dilupakan.

Ziarah kubur, mengucapkan salam kepada para penghuni makam, dan mendoakan mereka. Merenungi bagaimana pemusnah kenikmatan merenggut mereka, memasukkan mereka ke dalam liang yang gelap. Menarik mereka keluar dari rumah, gedung dan istana. Dahulu mereka makan minum, berfoya-foya, tertawa-tawa, mengendarai mobil mewah, menduduki jabatan tinggi, membangun gedung-gedung pencakar langit, dikawal tentara, dikerumuni banyak orang, bendera berkibar diatas kepala mereka, tetapi akhirnya semua direnggut dari tangan mereka, dan mereka dikuburkan ke dalam lubang-lubang yang sempti.

Dalam shahih Bukhari, Ibnu Umar ra, berkata Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menarik pundakku, “Di dunia ini jadilah engkau seperti orang yang asing atau musafir”. Hanya orang-orang yang segera bertobat yang bersiap-siap menghadapi kematian.

Sa’id Ibnu Musayyib, ketika sekarat berujar, “Alhamdulillah. Selama empat puluh tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, ketika muazin mengumandang azan”, ucapnya. Wallahu’alam.
sunber: http://www.eramuslim.com/

Bagaimana Penampilan Fisik Rasulullah?

Sebagai seorang Muslim, jelas, acuan kita hidup kita hanya pada Rasulullah saw saja, Sebenarnya, bagaimana kehidupan Rasulullah saw sehari-hari?

Jawabannya ada tertinggal dari banyak kutipan hadist yang ditinggalkan oleh beliau, Kehidupan Rasulullah adalah gambaran penampilan diri yang amat istimewa, baik secara personal maupun sosial. Secara fisik, sikap, tingkah laku, tutur kata, pemikiran, emosi hingga keikhlasan hati dan keluhuran jiwa beliau terpancar dalam sebentuk kepribadian yang nyata, menyentuh dan membekas begitu dalam pada sanak saudara, para sahabat, tetangga, dan bahkan musuh-musuhnya sekalipun.


Tak heran, tatkala sesudah Rasulullah wafat, ketika sahabat bertanya kepada Aisyah bagaimanakah gambaran Nabi saw selama hidupnya? Aisyah ra, tak mampu menahan linangan air mata penuh khidmat dan kerinduan yang mengigit sanubari saat berkata, “Segalanya begitu menakjubkan bagiku.” Dan di waktu lain beliau menjawab, “Sesungguhnya Akhlak beliau adalah Al-Quran.”

Secara fisik, Rasulullah juga digambarkan sebagai laki-laki yang kuat, berdada bidang, dan itu ditandakan dengan kuatnya beliau melakukan banyak ibadah, mengerjakan pekerjaan kasar laki-laki, dan bahkan ikut berperang. Tak ada pilihan terbaik dalam mencontoh penataan penampilan diri kecuali dari apa-apa yang Rasulullah ajarkan, sebagaimana terekam dalam berbagai kutipan hadis berikut:

Penampilan Jasmaniah Rasulullah

1. Sesungguhnya Allah itu indah dan senang dengan keindahan. Bila seseorang diantara kamu (bermaksud) menemui kawan-kawannya hendaklah dia merapikan dirinya. (HR Muslim)
2. Apabila kamu memelihara rambut, hendaklah dimuliakan (disisir, dirapihkan agar tidak acak-acakan). (HR Abu Dawud dan Ath Thahawi)
3. Siapa yang mengenakan pakaian, hendaklah kenakan yang bersih. (HR Arh-Thahawi)
4. Jangan meremehkan sedikitpun (enggan melakukan) perbuatan ma’ruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan wajah yang ceria. (HR Muslim)
5. Abu hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya pada wajah teman bicaranya dan Rasulullah tidak berpaling darinya sebelum selesai berbicara. (HR Ath-Thabrani)
6. Siapa yang tak memiliki keramah tamahan berarti ia tak memiliki kebaikan.(HR Muslim)

Kupas tuntas bagaimana siksa kubur

Dari Hani’ Maula Utsman berkata bahwa ketika Utsman bin Affan berdiri di depan kuburan, beliau Menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu, dikatakan kepadanya, “Diceritakan kepadamu tentang surga dan neraka kamu tidak menangis, tetapi kamu menangis dari ini.” Maka, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kuburan adalah awal rintangan dari beberapa rintangan alam akhirat. Jika sukses di alam itu maka setelahnya lebih mudah dan jika tidak sukses maka setelahnya lebih susah.’ Kemudian, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada pemandangan yang pernah saya lihat melainkan kuburan yang paling menyeramkan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).>>

Ketika seseorang hamba diantar ke kuburan dia disertai tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dan yang kembali pulang dua hal, yaitu harta dan keluarganya, sedangkan yang mengikutinya ham amalnya, seperti yang telah ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Suatu yang mengikuti mayat ada tiga, kembali pulang dua dan ikut bersamanya satu; diantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya, maka kembali pulang keluarganya dan hartanya dan yang tersisa (bersamanya) amalnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya berkata, “Ketika dinding rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam roboh sementara Umar bin Abdul Aziz pada saat itu sedang berada di Madinah, tiba-tiba telapak kaki salah seorang penghuni kuburan yang dikubur di rumah itu terlihat dan telapak kaki itu terkena sesuatu sehingga berdarah. Maka, Umar bin Abdul Aziz kaget sekali, lalu Urwah masuk ke rumah tersebut. Ternyata telapak kaki itu adalah telapak kaki Umar bin Khaththab. Maka, Urwah berkata kepada beliau, ‘Engkau jangan kaget, kaki tersebut adalah kaki Umar bin Khathab Radhiallahu ‘anhu. Lalu, beliau menyuruh membangun kembali dinding tersebut dan dikembalikan seperti keadaan semula.” (Lihat kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab, “Risalah Ahwalul Qubur”, hlm. 175).

Abu Umamah al-Bahili berkata, “Sesungguhnya kalian pada pagi dan petang berada dalam hunian yang meraup kebaikan dan keburukan. Dan, hampir-hampir kalian akan pergi meninggalkannya menuju hunian lain, yaitu kuburan, suatu hunian yang sangat menyeramkan dan rumah yang sangat gelap, tempat tinggal yang sangat sempit kecuali yang diluaskan Allah, kemudian kalian akan dibangkitkan pada hari Kiamat.” (Ibid., hlm. 258).

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata kepada salah seorang pendampingnya, “Wahai Fulan, Aku tadi malam tidak bisa tidur karena merenungkan sesuatu.” Dia berkata, “Apa yang sedang Engkau renungkan, wahai Amirul Mukmmin?” Beliau menjawab, “Aku sedang merenungkan kuburan dan penghuninya. Jika kamu menyaksikan mayat pada hari ketiganya di dalam kubur, niscaya kamu akan mendapatkan suatu bentuk sangat mengerikan walaupun sebelum mati dia sangat menawan hati. Kamu menyaksikan suatu hunian penuh dengan binatang binatang yang menyeramkan, badan yang mulai mengembung dan bernanah yang dibuat santapan cacing tanah, sedang tubuh mulai membusuk, kain kafan mulai hancur, sementara dahulu di dunia penampilannya sangat menawan, aroma tubuhnya sangat semerbak wangi dengan parfum dan pakaiannya sangat bersih dan indah.” Setelah itu beliau tersungkur pingsan.” (Ibid., hlm. 290).

Dari Yahya bin Abu Katsir bahwa Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu pernah berkhutbah, “Di manakah mereka yang berwajah rupawan, yang bangga dengan usia remajanya, yang silau dengan keperkasaannya, namun hal itu tidak pernah dipersembahkan untuk peperangan? Di manakah mereka yang telah membangun kota-kota besar yang dilindungi dengan benteng-benteng yang kokoh? Semuanya telah ditelan oleh masa dan semuanya akan menuju kepada gelapnya kuburan.” (Ibid., hlm. 295).

Umar bin Dzar berkata, “Andai kata orang yang sehat walafiat mengetahui tubuh penghuni alam kubur hancur lebur (dimakan cacing tanah), maka mereka akan sungguh-sungguh dan serius selama berada di dunia karena takut pada suatu hari, di mana hati dan mata tercengang karena ketakutan.” (Ibid., hlm. 296).

Abu Abdurahman al-Umari al-Abid berkata, “Wahai Para pemilik istana-istana yang megah! Ingatlah gelapnya hiburan yang menyeramkan, wahai orang-orang yang bergelimang kenikmatan dan kelezatan, ingatlah cacing tanah, darah campur nanah dan hancurnya jasad bersama tanah.” (Ibid., hlm. 260).

Derita dan Nikmat Alam Barzakh

Seorang muslim wajib beriman bahwa azab kubur merupakan perkara yang haq, dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kepada penghuni kubur tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya suatu perkara yang pasti. (Lihat Tahdzib Syarah Thahawiyah, hlm. 237).

Maka, Abu Abdullah berkata, “Azab kubur suatu yang hak dan tidak ada yang mengingkarinya, kecuali orang sesat dan menyesatkan.” (Lihat kitab ar-Ruh, Ibnul Qayyim, hlm. 76). Dan demikian itu berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma sahabat, maka kuburan merupakan liang dari taman surga atau liang dari jurang neraka sehingga ketika seorang hamba mati dan dimasukkan ke liang kubur berarti ia telah mengawali alam akhiratnya. Ketahuilah, para pembela kebenaran sepakat bahwa Allah menciptakan untuk sang mayat suatu kehidupan yang bisa berupa kesengsaraan dan kelezatan di alam kubur.(Lihat Syarah Fikih Akbar, Mullah al-Qari, hlm. 209). Dan seorang tidak tahu secara persis berapa lama ia harus tinggal di kampung hunian kuburan tersebut, kuburan adalah alam yang paling menakutkan setiap salafush shalih.

Dalam hadits Barra bin Azib Radhiallahu ‘anhu yang panjang, bahwa tatkala Rasulullah duduk di kuburan beliau bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab kubur.” Ucapan itu diulang hingga dua atau tiga kali, kemudian beliau menuturkan tentang kondisi mayat mukmin dengan bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya kemudian datanglah dua malaikat dan keduanya mendudukkannya lalu keduanya bertanya, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Maka ia menjawab, ‘Tuhanku adalah Allah. Keduanya bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Maka ia men jawab, ‘Agamaku adalah Islam.’ Keduanya bertanya lagi “Siapa orang yang diutus kepadamu?’ Maka ia menjawab ‘Dia adalah Muhammad sebagai utusan Allah’. Lalu keduanya bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?’ Ia menjawab, ‘Saya membaca Kitabullah lalu saya beriman dan membenarkannya.” Maka terdengarlah dari langit suara panggilan yang memanggil. ‘Jawaban hamba-Ku sudah benar. Maka hamparkanlah (permadani) dari surga dan bukakan pintu menuju arah surga serta berikanlah pakaian dari surga.” Beliau bersabda, “Maka masuklah ke alam kubur aroma semerbak dan wanginya surga lalu alam kuburnya diluaskan sejauh pandangan matanya.”

Beliau melanjutkan, “Maka datanglah seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan mengenakan wewangian lalu ia berkata, ‘Bergembiralah dengan sesuatu yang pernah dijanjikan kepadamu. Maka si mayat bertanya kepadanya, ‘Siapa kamu? Wajahmu datang membawa kebaikan.’ Maka ia menjawab, ‘Maka saya adalah amal shalihmu.’ Maka ia berkata, ‘Ya Allah, bangkitkan segera Hari Kiamat hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.”

Kemudian beliau menceritakan kematian orang kafir beliau bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya lalu datanglah dua malaikat dan mendudukkan­nya lalu keduanya bertanya kepadanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ la menjawab, ‘Ha… ha… saya tidak tahu’. Lalu keduanya bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Ha… ha… saya tidak tahu’. Keduanya bertanya lagi, ‘Siapa yang diutus kepadamu menjadi nabi?’ Ia menjawab, ‘Ha… ha saya tidak tahu.’ Maka terdengarlah suara panggilan memanggil dari alas langit, ‘Ia berdusta. Hamparkanlah permadani dari neraka, berikanlah pakaian dari neraka dan bukakanlah pintu menuju neraka.”

Beliau bersabda, “Maka masuklah panasnya dan racunnya neraka sehingga tulang rusuknya berantakan dan datanglah seorang lelaki yang berwajah buruk, berpakaian kumal dan berbau busuk. Lalu ia berkata, ‘bergembiralah dengan nasib buruk ini yang telah dijanjikan kepadamu sebelumnya.’ Si mayat bertanya, ‘Siapakah dirimu? Datang berwajah buruk? Ia menjawab ‘Saya adalah amal burukmu.’ Maka ia berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau bangkitkan hari Kiamat.”

Ada tambahan dari hadits Jarir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian dihadirkan orang buta dan bisu yang di tangannya terdapat cemeti terbuat dari besi. Andai kata digunakan untuk memukul gunung, maka gunung itu akan menjadi debu bertebaran.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Hakim).

Begitulah wahai Saudaraku, kenikmatan surga bisa sampai kepada hamba pada saat masih berada di alam kubur, dan demikian pula siksaan neraka sampai kepada hamba pada saat masih berada di alam kubur, hingga malaikat Israfil meniup sangkakala sebagai pertanda hari Kiamat tiba. Pascakematian bukan tempat peristirahatan namun alam pertanggungjawaban dan tempat untuk menghisab seluruh amal perbuatan, maka sang penyair berkata:

“Jikalau kita telah mati dibiarkan maka kematian menjadi tujuan setiap yang hidup.

Tetapi tatkala kita mati pasti dibangkitkan dan ditanya tentang segala sesuatu.”

Wahai Dzat pengambil nyawa dari jiwa manusia pada saat kematian, wahai Dzat Pengampun dosa, jauhkanlah kami dari siksa kubur.

Siksa Kubur Menimpa Jasad dan Ruh

Menurut pendapat yang shahih siksa kubur menimpa jasad dan ruh seperti yang telah ditegaskan dalam hadits-hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki atau wanita berkulit hitam, tukang sapu masjid meninggal dunia lalu dikubur pada malam hari, kemudian diberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda:

“Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah Azza wa Jalla memberi cahaya pada kuburan itu dengan shalatku atas mereka.” Maka beliau mendatangi kuburannya dan shalat atasnya. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ibnu).

Dan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata: “Pada suatu hari ketika Saad bin Muadz dikubur maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di hadapan kuburannya lalu bersabda: ‘Seandainya seseorang bisa selamat dari siksa kubur atau pertanyaan di alam kubur maka Sa’ad bin Muadz pasti selamat darinya, namun dia diimpit dengan sekali impitan kemudian dilonggarkan darinya.’” (Shahih diriwayatkan Imam at-Thabrani dalam al-Kabir (10827), Imam al-Haitsami dalam Majma Zawaid (4257) dan Silsilah Ahadits Shahihah (1695).

Menurut pendapat yang benar bahwa siksa kubur menimpa ruh dan jasad seperti yang telah ditegaskan Imam Ibnu Rajab, “Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa siksa kubur menimpa jasad dan ruh adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang mayat yang diimpit di alam kuburnya hingga tulang rusuknya hancur berantakan. Kalau siksa kubur hanya menimpa ruh saja maka tidak hanya khusus terjadi di alam kubur saja dan tidak perlu dinisbatkan kepadanya.” (Lihat kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab, risalah Ahwalul Qubur, hal. 192). Imam as-Subki berkata, “Kembalinya ruh ke jasad di alam kubur merupakan ketetapan (final) berdasarkan hadits shahih yang berlaku bagi semua mayat terutama bagi orang-orang yang mati syahid.” (Lihat Syarhus Sudur, Imam as-Suyuthi, hlm. 204).

Ibnul Qayyim berkata, “Jika kamu telah mengetahui beberapa pendapat yang batil, maka ketahuilah madzhab salaful ummah dan para imam sunnah (bersepakat) bahwa seorang hamba setelah mati berada dalam nikmat atau azab di alam kubur. Dan demikian itu menimpa ruh dan jasadnya. Dan setelah ruh berpisah dari badan maka ia terus berada dalam nikmat atau azab. Dan, terkadang menimpa badan sehingga ia mendapat nikmat atau azab. Kemudian, pada saat kiamat besar maka ruh-ruh tersebut dikembalikan ke badan lalu semuanya bangkit dari alam kubur mereka untuk menghadap Rabbul Alamin. Sedang kembalinya ruh ke jasad telah terjadi kata sepakat antara kaum muslimin, Yahudi dan Nasrani.” (Lihat kitab ar-Ruh, Ibnu Qayyim, hlm. 69).

Inilah yang dimaksud sabda Nabi, “Sesungguhnya nyawa orang beriman berbentuk burung yang bertengger di pohon surga hingga dikembalikan Allah ke jasadnya pada hari Allah membangkitkannya.” (Imam as-Suyuthi berkata bahwa hadits ini diriwayatkan Imam Malik, Ahmad, dan Nasa’i dengan sanad yang shahih. Imam Ibnu Katsir berkata hadits ini sanadnya shahih. (lihat Syarhus Sudur, hlm. 306 dan tafsir Ibnu Katsir tafsir surat Ali Imran ayat 169).

Bentuk-Bentuk Siksa Kubur

Bentuk dan macam siksa kubur banyak sekali, di antara bentuk dan macam siksa kubur yang menimpa para penghuninya adalah:

1. Alam kubur sangat gelap dan seram

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Dan, Allah Azza wa Jalla memberi cahaya pada kuburan itu dengan shalatku atas mereka.” (Telah berlalu takhrijnya).

2. Azab kubur dipukul dengan cemeti besi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di liang kubur dan para pengantar pulang maka ia mendengar suara terompah mereka. Datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya kemudian bertanya, ‘Apa komentarmu tentang Muhammad?’ Adapun orang mukmin menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihat tempat tinggalmu dari api neraka telah diganti oleh Allah dengan tempat tinggal dari surga.’ Maka ia bisa melihat keduanya. Dan adapun orang munafik dan orang kafir, maka ditanya, ‘Apa komentarmu tentang orang ini (Muhammad)?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak tahu. Aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan orang-orang.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak mengerti dan tidak tahu.’ Dan dia dipukul dengan gadam yang terbuat dari besi sekali pukulan. Maka ia berteriak kencang hingga didengar makhluk yang ada di sekitarnya, kecuali manusia dan jin!” (HR. Bukhari).

3. Azab kubur dengan diimpit bumi

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari ketika Saad bin Muadz dikubur maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di hadapan kuburannya lalu bersabda, ‘Seandainya seseorang bisa selamat dari siksa kubur atau pertanyaan di alam kubur maka Sa’ad bin Muadz pasti selamat darinya, namun dia diimpit dengan sekali impitan kemudian dilonggarkan darinya.” (Telah berlalu takhrijnya).

4. Azab kubur dengan dibelit ular berbisa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dikirim kepada orang kafir dua ekor ular, seekor ular dari arah kepalanya dan yang lainnya dari arah kakinya yang membelitnya dengan kuat, ketika tuntas maka kembali membelitnya hingga Hari Kiamat.” (Hasan diriwayatkan Imam al-Haitsami dan beliau berkata diriwayatkan Ahmad dan sanad hadits ini hasan. No: 3/180 [4284]).

5. Azab kubur dibakar dengan api

Sebagian penghuni kubur disiksa dengan api neraka pada pagi dan petang[1] sebagaimana firman Allah:

“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS al-Mu’min: 46).

6. Azab kubur untuk orang sombong

Di antara pemicu siksa kubur adalah sikap angkuh dan sombong, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ketika seseorang sedang berjalan, mengenakan pakaian yang merasa bangga diri dan rambut tersisir dengan baik, tiba-tiba Allah tenggelamkan ke bumi dan dia dalam keadaan sekarat hingga hari Kiamat.” (HR. Bukhari).

7. Azab kubur bagi koruptor dan pemakan harta haram

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain kecil dari harta ghanimah yang dia curi pada Perang Khaibar yang di luar pembagian ghanimah akan menjadi bara api (di alam kuburnya).” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Azab kubur bagi orang yang suka ghibah atau namimah dan tidak menjaga kencing

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya, keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa dalam perkara besar. Adapun yang pertama tidak menjaga dari percikan kencing dan yang kedua berjalan di muka bumi dengan namimah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pelepah kurma basah dan membelai menjadi dua lalu beliau menancapkan pada setia} kuburan satu pelepah kurma. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan itu?’ Beliau bersabda, ‘Mudah-mudahkan diringankan (siksa kubur) dari keduanya, selagi (pelepah kurma itu) belum kering.” (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Azab kubur bagi khatib gadungan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku pernah mendatangi sekelompok laki-laki pada waktu Isra’ Mi’raj-ku yang lisan mereka sedang dipotong-potong dengan alat pemotong dari neraka. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Jibril?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah para khatib dari umatmu yang memerintahkan manusia dengan kebaikan sementara melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Alkitab, apakah mereka tidak berpikir?’” (Shahih diriwayatkan Imam al-Haitsami dalam Majma Zawaid dan beliau berkata hadits ini diriwayatkan Abu Ya’la dan para perawinya adalah para perawi hadits shahih. (7/279) dan lihat Shahihul Jami’ no. 129).

10. Azab kubur yang menimpa pendusta, pezina, pemakan riba, meninggalkan shalat, dan orang yang menelantarkan al-Qur’an

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan tetapi, aku bermimpi didatangi oleh dua orang lelaki lalu keduanya memegang tanganku dan keduanya membawaku ke bumi yang disucikan, tiba-tiba aku dapati seorang yang sedang duduk dan seorang lagi sedang berdiri sementara di tangannya memegang tombak dari besi. Sebagian sahabat kami berkata, ‘Dari Musa.’ Tombak besi itu ditusukkan pada pojok mulut hingga tembus ke tengkuk. Kemudian ditusukkan pada pojok mulut sebelahnya seperti itu. Setelah pojok mulut pulih kembali maka disiksa lagi seperti itu. Aku bertanya, ‘Siapakah dia itu?’ Kedua orang itu berkata, ‘Pergilah.’ Maka kami pergi hingga bertemu dengan orang yang sedang tidur telentang dan seorang lagi berdiri di atas kepalanya dengan memegang alat pemukul atau batu besar lalu dihantamkan ke arah kepalanya. Ketika dihantam dengan batu maka batu tersebut terpental. Maka, orang itu pergi untuk mengambilnya dan tidaklah orang itu kembali melain­kan kepala tersebut rekat dan kembali seperti semula. Orang itu kembali kepadanya dan memukulnya.

Aku bertanya, ‘Siapakah dia itu?’ Keduanya berkata, ‘Pergilah!’ Maka kami pergi hingga sampai di suatu tempat yang berlubang besar seperti dapur roti bagian atas sempit sedangkan bagian bawah lebar. Dari arah bawah ada api yang menyala. Ketika api mendekat, maka mereka terangkat hingga mereka hampir keluar dan ketika api padam mereka kembali ke tempat semula. Dan di dalamnya terdapat kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam kondisi telanjang. Maka aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya berkata, ‘Pergilah!” Maka kami pergi hingga kami mendatangi sebuah sungai darah, sementara di tengah sungai ada seorang lelaki yang berdiri. Dan, di tepi sungai ada seorang lelaki yang di hadapannya ada batu­batu. Ketika orang yang di tengah sungai berenang ke tepi dan hendak keluar darinya maka orang tersebut melemparkan batu tepat pada mulutnya. Orang tersebut kembali ke tempat semula. Dan setiap orang tersebut ingin ke tepi dan hendak keluar maka dilempar dengan batu hingga kembali ke tempat semula. Aku bertanya, ‘Siapakah dia itu?’ Keduanya berkah ‘Pergilah.’ Maka kami pergi hingga kami sampai di suah taman yang sangat hijau. Dan di dalamnya terdapat pohon yang sangat besar dan di bawah pohon ada orang tua dan anak-anak. Sementara ada orang laki-laki yang dekat dengan pohon di tangannya memegang api yang dia nyalakan lalu dia membawaku ke atas pohon dan memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang belum pernah aku lihat suatu rumah sebagus itu. Di dalamnya terdapat kaum laki-laki tua, para pemuda, kaum wanita dan anak-anak. Kemudian keduanya membawaku keluar darinya dan menaikkanku ke pohon dan memasukkanku ke sebuah rumah yang lebih bagus dan lebih indah. Di dalamnya terdapat kaum lelaki tua dan para pemuda.

Aku berkata, ‘Kalian berdua telah membawaku berkeliling semalam suntuk, maka kabarkan kepadaku tentang apa yang aku lihat?’ Keduanya berkata, ‘Ya Adapun orang yang ditusuk pojok mulutnya adalah pendusta yang berbicara kedustaan. Lalu diambil suatu kabar darinya hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia dan dia disiksa sebagaimana yang kamu lihat hingga hari Kiamat. Adapun orang yang dihantam kepalanya dengan batu adalah orang yang diajarkan Allah tentang al-Qur’an lalu tidur di malam hari dan tidak mengamalkan (al-Qur’an) di siang hari maka dia disiksa hingga Kiamat. Mereka yang kamu lihat berada di lubang besar maka mereka adalah para pezina. Dan, orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah pemakan riba. Dan orang tua yang berada di bawah pohon adalah Nabi Ibrahim, sementara anak-anak yang berada di sekitarnya adalah anak-anak umat manusia. Dan, orang yang menyalakan api adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Rumah yang kamu masuki pertama kali adalah rumah hunian kaum mukminin secara umum. Adapun rumah berikutnya adalah rumah orang-orang yang mati syahid. Dan aku adalah Jibril sedang ini adalah Mikail. Maka angkatlah kepalamu.’ Maka aku mengangkat kepalaku tiba-tiba ke arah atas aku melihat seperti mendung. Keduanya berkata, ‘Itu adalah rumahmu.’ Aku berkata, ‘Biarkan aku masuk ke rumahku.’ Keduanya berkata, ‘Sesungguhnya kamu masih punya sisa umur yang belum kamu habiskan, jika kamu telah menyempurnakan umurmu, maka kamu akan memasuki rumahmu.” (HR. Bukhari).

Pemicu utama siksa kubur

Sebab-sebab yang memicu siksa kubur yang menimpa penghuni Alam Barzakh terbagi menjadi dua macam. Pertama, sebab umum yaitu mereka disiksa karena kejahilan mereka terhadap Allah, tidak menunaikan ketaatan dan melakukan kemaksiatan. Allah tidak menyiksa ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak menyiksa badan untuk selamanya selagi kondisi ruhnya demikian. Dan, siksa kubur dan azab akhirat menimpa seorang hamba akibat murka dan marah Allah kepadanya. Siapa yang perbuatan mengundang murka dan marah Nya di dunia dengan melakukan maksiat sampai mati belum sempat bertaubat, maka ia mendapat siksa kubur sesuai kadar murka dan marah Allah kepadanya.

Kedua, sebab khusus sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah tentang dua orang yang disiksa di alam kuburnya: orang yang pertama disiksa karena namimah di tengah manusia dan orang yang kedua disiksa karena tidak menjaga percikan kencing. Kemudian, beliau juga menyebutkan orang disiksa karena shalat tanpa bersuci, orang disiksa karena melewati orang teraniaya tapi tidak menolongnya, orang disiksa karena diberi al-Qur’an tapi tidak shalat malam dan tidak mengamalkannya, mereka disiksa karena berzina, mereka disiksa karena memakai harta riba, mereka disiksa karena malas shalat Subuh, mereka disiksa karena tidak mau membayar zakat, mereka disiksa karena menyulut api fitnah di tengah umat manusia, mereka disiksa karena sombong dan congkak, mereka disiksa karena beramal riya, dan mereka disiksa karena suka mengumpat dan menghina orang lain. (Lihat al-lrsyad ila Shahihal lqtiqad, Syekh Shalih al-Fauzan, hlm. 321–322).

Akan tetapi, mayoritas siksa kubur diakibatkan karena tidak menjaga percikan kencing, ghibah atau namimah sebagaimana yang dijelaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, kencing menjadi faktor utama dan dominasi siksa kubur seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kebanyakan azab kubur dari kencing.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Imam Qatadah berkata, “Sesungguhnya mayoritas siksa kubur berasal dari tiga perkara: ghibah, namimah, dan kencing.” (Lihat Syarhus Sudur, Imam as-Suyuthi, hlm.162). Sebagian ulama menyingkap alasan, kenapa mayoritas siksa kubur disebabkan percikan kencing, namimah atau ghibah. Karena kuburan adalah rintangan pertama kali akhirat dan di dalamnya terdapat berbagai macam kejadian sebagai rentetan peristiwa yang akan terjadi setelah hari Kiamat, baik berupa siksa atau pahala. Sedangkan maksiat yang dilakukan seorang hamba ada dua macam, yakni maksiat yang terkait dengan hak Allah dan maksiat yang terkait dengan hak hamba. Sementara hak Allah yang pertama kali dihisab adalah shalat dan hak hamba yang pertama dihisab adalah darah.

Adapun di Alam Barzakh diputuskan pembuka dan pemicu utamanya, sementara pembuka shalat adalah bersuci dari hadats dan najis sedangkan pembuka pertumpahan darah adalah namimah dan ghibah. Dan keduanya merupakan dosa paling mudah terjadi, sehingga awal perhitungan dan siksaan di alam Barzakh dimulai dengan kencing dan namimah atau ghibah. (Lihat kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab).

Hikmah azab kubur tidak didengar manusia

Adapun hikmahnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Lihat Majmu Fatawa Syekh Utsaimin, 8/482–483) sebagai berikut:

1. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalau bukan karena kalian saling mengubur orang yang mati maka aku akan berdoa kepada Allah agar kalian dapat mendengar siksa kubur.” (HR. Muslim).

2. Dalam rangka untuk menutup aib si mayit.

3. Tidak membuat gundah keluarga yang masih hidup, karena bila keluarga yang masih hidup mengetahui bahwa mayyit disiksa, pasti hidupnya akan gelisah dan tidak merasa tenteram.

4. Tidak memalukan keluarga yang masih hidup karena pasti akan berbicara “inilah nasib anakmu’ “inilah nasib orang tuamu” dan “inilah nasib saudaramu” dan seterusnya.

5. Bisa saja orang mendengar akan binasa karena bukan hanya sekadar teriakan, bahkan jeritan kencang yang membuat jantung pecah sehingga orang yang mendengar bisa pingsan atau mati.

6. Jika manusia bisa mendengar siksa kubur maka beriman terhadap siksa kubur merupakan perkara indrawi bukan lagi perkara gaib, sehingga nilai ujian akan hilang. Karena, manusia akan dengan mudah beriman dengan siksa kubur karena dia bisa menyaksikan dengan alat indranya. Tetapi bila siksa kubur perkara gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan berita wahyu maka hikmah beriman dengan perkara gaib menjadi suatu yang tampak nyata.

(Disalin dari buku Misteri Alam Kubur, penerbit Pustaka Imam Abu Hanifah, www.ibnumajjah.wordpress.com)


Dahsyatnya kekuatan Basmallah

Menyambung postingan saya tentang tausiyah yang kemarin, saya akan memberikan point dari Makna & Lafadz Basmalah, berikut ini riwayat-riwayat yang menjelaskan bagaimana Dahsyatnya Lafadz Basmalah bila diucapkan oleh seorang muslim dengan hati yang khusyu dan yakin, sehingga bisa merasakan kebesaran Allah dan membenarkan sabda Rasul-Nya .

1. Melemahkan Kekuatan Syetan dan
Mengecilkan Bentuknya Rasulullah SAW bersabda, dari Abdul Mulih, dari seorag lelaki ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah SAW di atas keledainya. Ketika keledainya itu tersandung aku berkata, “celakalah syetan! “

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah berkata seperti itu, karena syetan akan membesar sampai
sebesar rumah lalu berkata, “Aku telah membantingnya dengan kekuatanku. ” Akan tetapi bacalah Bismillah, karena jika kamu baca itu ia akan mengecil hingga sekecil lalat. ” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai, dan dishahihkan oleh Albani )

2. Memblokir Masuknya Syetan ke Rumah Rasulullah SAW bersabda, “Dan tutuplah pintu kalian seraya membaca Bismillah, karena syetan tidak akan mampu membuka pintu yang tertutup (dengan membaca Bismillah).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Membuat Syetan Muntah-Muntah Umayah bin Muhsin berkata, “Ketika Rasulullah SAW sedang duduk, ada seorang laki-laki sedang makan dan ia tidak membaca Bismillah sampai makannya hampir habis hanya tingal satu suapan. Lalu ketika dia menyuapkan suapan itu ke mulutnya, dia membaca, “Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu ” (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya). lalu tertawalah Rasulullah SAW , kemudian beliau bersabda, “Syetan masih terus makan bersamanya, tetapi ketika ia membaca Bismillah, syetan pun langsung memuntahkan apa yang ada di perutnya. ” (HR. Abu Dawud dan an- Nasai)

4. Memproteksi Diri dari Gangguan Syetan Sepanjang Hari Kata Utsman bin Affan, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca do ’a ini di saat sore tiba. Berikut doanya
"Dengan nama Allah (Bismillah), yang dengan nama-Nya tidak akan bisa membayakan sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (tiga kali). ” maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba
sampai pagi hari. dan barangsiapa yang membacanya di sore hari, maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai sore hari.” (HR. at-Tirmidzi)

5. Perisai Diri dari Kejahatan yang ada di Luar Rumah Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca “Bismillah, aku bertawakkal kepada Allah , tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah “, maka katakan kepadanya, “Kamu telah tercukupi dan terlindungi ”, dan syetan pun akan menjauh darinya. ” (HR. Abu Dawud )

6. Menutup Penglihatan Jin Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, “Yang bisa menutup aurat anak Adam dari pandangan mata jin, ketika hendak menanggalkan pakaiannya adalah hmembaca, “Bismillahilladzi la ilaha illa huwa ” (Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia).” (HR. Ibnu Sunni) Ali bin Abi Thalib berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagai penutup aurat anak Adam dari pandangan mata jin, ketika memasuki WC adalah membaca Bismillah.” (HR. at-Tirmidzi)

7. Melindungi Generasi dari Gangguan Syetan Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian hendak mendatangi istrinya
(menggaulinya), bacalah “Bismillah“, Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan
dari yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak). Karena bila Allah mentakdirkan bagi keduanya seorang anak, maka syetan tidak akan bisa
mencelakakannya selamanya. ” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

8. Memboikot Syetan yang ada Dalam Rumah Dari Jabir ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu membaca Bismillah pada saat masuk dan pada saat makan, maka syetan berkata (kepada teman-
temannya), “Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian. ” Tetapi jika seseorang masuk rumahnya dengan tidak membaca Bismillah, maka syetan berkata (kepada teman- temannya), “Kalian dapat bermalam ”. Bila ia tidak membaca Bismillah saat makan, syetan berkata (pada teman-temannya), “kalian dapat tempat bermalam dan makan malam. ” (HR. Muslim)

9. Mendatangkan Berkah Wahsyi bin Harb berkata, bahwa para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW , “Wahai Rasulullah, kami sudah makan, tapi kami tidak kenyang-kenyang. ” Rasulullah SAW bertanya, “Mungkin kalian makannya terpisah-pisah (sendiri- sendiri)?” Mereka menjawab, “Ya ”. Rasulullah SAW bersabda, “Maka berkumpullah kalian ketika makan, dan bacalah Bismillah, niscaya Allah akan memberkahi makanan kalian. ” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Semoga bermanfaat. Wa Allahu A ’lam.

Sumber: dinar islam.com & rumaysho.com
>>

Kisah menakjubkan tentang Al-Qur'an

Ayatullah Burujurdi r.a. merupakan salah seorang ulama yang berupaya keras untuk mempersatukan umat Islam yang telah tercerai- berai. Salah satu upaya yang beliau lakukan adalah ketika mendengar Ahli sunah menggembar-gemborkan isu bahwa al-Quran yang ada di tangan orang-orang Syi ’ah berbeda dengan yang ada di tangan mereka, beliau langsung mengundang seorang warga Irak
bermazhab Syi ’ah yaitu Karbalai Kadzim; seorang buta huruf dan tak kenal baca tulis yang berhasil menghafal al- Quran karim sekaligus.

Ketika Karbalai Kadzim datang ke Iran, Ayatullah Burujurdi menyuruhnya membaca seluruh al-Quran dan para hadirin menyimaknya dengan memegang al-Quran, ternyata apa yang di baca oleh Karbalai Kazim sama persis dengan al-Quran yang berada di
tangan umat Islam (baik Ahli sunah maupun Syi'ah)

Faidz Kasyani r.a. penyusun kitab tafsirnya Ash-Shafi, terheran-heran dengan sang hafiz, kemudian dia menyodorkan kitab tafsirnya tersebut kepadanya dan mengujinya dengan bertanya, apakah kitab ini adalah al-Quran? Karbalai Kadzim yang tidak mengenal tulis menulis itu menjawab bahwa ayat-ayat yang ada di dalamnya terpotong-potong dan tidak semuanya ayat-ayat al-Quran. (karena memang dalam kitab tersebut ada ayat-ayat al-Quran yang ditambahi oleh penafsiran). Faidz Kasyani semakin terheran-heran, lalu bertanya kepada, dari mana engkau dapat memahami tulisan al- Quran itu? Dia menjawab: Aku dapat memahaminya karena tulisan-tulisan al-Quran
terlihat seperti cahaya bagiku, adapun tulisan
yang lainnya hanya seperti hitam di atas putih,
hanya berbentuk coretan-coretan biasa. Inilah al-Quran yang sebenarnya dia bukanlah kitab biasa, namun dia adalah cahaya tuhan, hanya saja orang yang hatinya kotor tidak akan dapat melihat cahaya tersebut.Dan masih banyak lagi hafiz-hafiz bermazhab Syi ’ah yang telah membuktikan bahwa al-Quran yang berada di tangan mereka adalah Quran yang ada di zaman Rasulullah Saw, tanpa pengurangan dan penambahan sedikitpun. Kita juga beberapa tahun yang lalu dikejutkan dengan seorang hafiz cilik dari Iran, Alamul Huda Thaba’thabai. Di mana saat diundang para petinggi kerajaan Saudi arabia telah membuktikan bahwa al-Quran yang ada di Iran, yang ada di tangan orang-orang Syi ’ah sama dengan al-Quran yang ada di sana dan negara- negara Islam lain. Oleh karenanya, kalau saya boleh berpendapat, isu tahrif Quran yang dialamatkan kepada mazhab Syi ’ah adalah salah satu upaya dari jutaan upaya musuh-musuh Islam dan muslimin guna menyibukkan muslimi dengan Hasyiah (hal-hal sampingan) Quran dan lupa akan pesan-pesan yang terkandung di dalam kitab pedoman ini. Mari! sudah saatnya kita kembali kepada kandungan al-Quran. Kita campakkan semua tuduhan yang menodai Quran. Toh semuanya mengakui kitab ini turun kepada Rasulullah, memiliki 114 surah, yang diawali oleh Al-Fatihah dan diakhiri oleh An-Nas.
>>

Waspada kemunculan Dajjal

Seperti halnya semua nabi dan rasul sebelumnya, Nabi Muhammad saw. memprediksi kedatangan Anti- Kristus sebagai salah satu isyarat terakhir datangnya Hari Kiamat. Nabi saw. bersabda: Wahai manusia, tak akan ada huru-hara di muka bumi ini sejak masa
Adam yang lebih besar daripada huru-hara Dajal. Sesungguhnya setiap nabi yang dikirim Allah akan
memperingatkan umatnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi terakhir, dan kalian adalah umat
terakhir. Nabi Muhammad saw adalah nabi bagi
semua manusia, muslim maupun nonmuslim. Nabi
saw. menunjukan hadis ini bagi seluruh manusia
sehingga beliau berkata, “Wahai manusia!” bukan, “Wahai umat Islam!” atau “Hai orang-orang beriman!” Kemunculan al-Masîh al-Dajjâl (Dajal, Juru Selamat Palsu atau Anti-Kristus) merupakan peristiwa
yang menakutkan bagi seluruh manusia di muka
bumi, dan peristiwa tersebut akan terjadi pada akhir
zaman.



Dia akan merajalela di muka bumi dengan
“menyebarkan kerusakan di mana-mana ” dan meneror orang-orang beriman serta mengalihkan
mereka dari keimanan menuju kekufuran. Seribu empat ratus tahun yang silam, para sahabat sekalipun
khawatir dengan kedatangan Dajal. Dajal akan muncul
di antara Syam dan Irak, dan beberapa hadis
menyebutkan bahwa dia akan muncul di Khurasan,
Iran, bergerak cepat dan melintasi seluruh dunia: Al- Nawwâs ibn Sam ‘ân meriwayatkan bahwa suatu pagi Rasulullah bercerita tentang Dajal. Beliau terkadang menggambarkannya sebagai hal
yang remeh, dan terkadang sebagai hal yang
(dampaknya) sangat serius, dan kami merasa seolah- olah ia ada di rerimbunan pohon kurma.
Ketika kami menghadap beliau pada sore hari, dan
beliau menyaksikan tanda-tanda kecemasan di wajah
kami, beliau berkata, “Ada masalah apa ?” Kami menjawab, “Ya Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajal tadi pagi. Terkadang engkau
menggambarkannya sebagai sosok yang sepele dan
terkadang sebagai sosok yang sangat penting,
sampai-sampai kami berpikir bahwa ia sudah berada
dekat kami di rerimbunan pohon kurma. ” Kemudian beliau bersabda, “Aku mencemaskan kalian dalam berbagai hal selain persoalan Dajal. Jika ia muncul ketika aku berada di tengah-tengah
kalian, maka akan beradu argumen dengannya
mewakili kalian, namun jika ia muncul dan aku tidak
berada di antara kalian, salah seorang di antara
kalian harus beradu argumen dengannya atas nama
dirinya, dan Allah akan melindungi setiap muslim atas namaku. Sesungguhnya Dajal adalah seorang pemuda dengan
rambut dibelit dan salah satu matanya buta. Aku
menyerupakan nya dengan ‘Abd al-‘Uzzâ ibn Qathan. Jika di antara kalian ada yang sempat
bertemu dengannya, maka hendaklah ia membaca
ayat pertama surah al-Kahf. Ia akan muncul di antara
Syam dan Irak, dan akan menyebarkan kejahatan di
mana-mana. Wahai hamba Allah, tetaplah berada di
atas jalan kebenaran !” Kami bertanya, “Ya Rasulallah, berapa lama ia akan hidup di dunia?” Beliau menjawab, “Selama empat puluh hari, yang satu hari seperti satu tahun, satu hari
seperti satu bulan, satu hari seperti satu minggu, dan
hari-hari sisanya seperti hari-hari kalian. ” Kami berkata, “Ya Rasulullah, pada hari yang sama seperti satu tahun, apakah salat sehari sudah cukup
bagi kami ?” Beliau menjawab, “Tidak, kalian harus memperhitungkan waktunya (dan kemudian
melaksanakan salat). ” Kami bertanya, “Ya Rasulallah, seberapa cepat ia akan menjelajahi
bumi?” Beliau menjawab, “Seperti awan yang ditiup angin. Ia akan mendatangi sebuah bangsa dan
mengajaknya (kepada agama yang sesat), dan
mereka akan memercayainya dan mengikuti
ajakannya. Ia kemudian akan memberi instruksi kepada langit
dan kemudian hujan turun membasahi bumi dan
menumbuhkan tanaman. Kemudian pada sore
harinya, hewan-hewan yang gemuk akan datang kepada mereka dengan punuknya yang tinggi,
kantong susu yang penuh berisi, dan panggul yang
lebar. Ia kemudian akan datang ke bangsa lain dan
mengajak mereka (kepada agamanya yang sesat).
>>

Keutamaan mati syahid

Islam mengajarkan kita agar memandang kematian
sebagai suatu perkara yang tidak bisa dihindari.
Kematian merupakan taqdir yang sepenuhnya di
dalam rahasia pengetahuan Allah. Tidak ada
seorangpun yang tahu di bumi mana ia akan
menemui ajalnya. Demikian pula ia tidak tahu pada usia berapa kematian akan menghampirinya
”Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman ayat 34) Seorang mukmin tidak sepatutnya berfikir untuk
menghindari kematian apalagi lari daripadanya.
Sebab pada hakikatnya tidak mungkin hal ini
dilakukan. Cepat ataupun lambat kematian akan
menghampiri setiap manusia.


”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. ” (QS Ali Imran ayat 185) Bahkan Allah memperingatkan manusia bahwa
dirinya tidak mungkin menghindar dari kematian
sekalipun ia berusaha melakukannya sekuat tenaga
dan fikirannya. Kendati ia berusaha menghindarinya
dengan tinggal di dalam sebuah benteng yang super
kokoh bagaimanapun keadaannya.
”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam
benteng yang tinggi lagi kokoh. ” (QS An-Nisa ayat 78) Oleh karena itu maka Allah menyuruh seorang
mukmin untuk selalu memperbaharui komitmennya
dalam hidup di dunia yang fana ini dengan berikrar
bahwa segenap kesibukannya harus ditujukan hanya
untuk meraih keridhaan Allah. Baik itu yang
menyangkut sholatnya, berbagai ibadahnya, berbagai aktifitas hidupnya bahkan hingga kematiannya.
”Katakanlah: "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb
semesta alam.” (QS Al-An ’aam ayat 162) Maka seorang mukmin yang faham dan sadar akan
hal ini akan senantiasa berharap hidupnya berakhir
dalam keadaan husnul-khaatimah (happy ending/
akhir yang baik). Bahkan seorang mukmin akan mengembangkan the
art of dying (seni menjemput kematian). Dan di antara
salah satu seni terbaik dalam menjemput kematian di
dalam ajaran Islam ialah mengembangkan kerinduan
untuk meraih mati syahid. Di antara sahabat Nabi
Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu yang menjelang kematiannya berdoa: ”Ya Allah karuniailah aku mati syahid di bumi RasulMu
(Madinah).” Maka tidak lama semenjak doa dilantunkan Allah-pun mengabulkannya. Sehingga
ketika Umar memimpin sholat subuh tiba-tiba Abu
Lulu’ah Al-Majusi menusuk berkali-kali tubuh mulia Sang Khalifah dengan pisau belati sehingga darah
mengalir dengan derasnya dan tak lama kemudian
Al-Faruq menghadap Ilahi Rabbi dalam keadaan mati
syahid. Subhaanallah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Barangsiapa memohon
syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan
sungguh-sungguh, maka sungguh ia akan diberi
pahala seperti pahala mati syahid meskipun ia tidak
mati syahid." Yang satu ini sehingga ia berharap kepada Allah agar
dirinya dapat dihidupkan kembali ke dunia agar dapat
merasakan dirinya dibunuh musuh Allah berulang
kali. Apa sebenarnya yang menyebabkan seorang
mukmin merindukan mati syahid? Dalam sebuah
hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa satu-satunya kelompok manusia
yang setelah menemui ajalnya berharap dapat
dihidupkan kembali ke dunia hanyalah orang yang
mati syahid. Sedemikian mulianya kematian jenis ini.
(BUKHARI - 2586) : Telah bercerita kepada kami
'Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami
Mu'awiyah bin 'Amru telah bercerita kepada kami
Abu Ishaq dari Humaid berkata aku mendengar Anas
bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Tidak ada seorang hamba pun yang meninggal dunia, di mana di sisi Allah dia
mendapatkan balasan, yang lebih baik sehingga
membuatnya berhasrat untuk kembali lagi ke dunia
dan sungguh dia mendapatkan dunia beserta isinya
kecuali orang yang mati syahid karena dia melihat
keutamaan mati syahid. Sungguh dia menginginkan dapat kembali ke dunia kemudian dia (berperang) dan
mati syahid sekali lagi." Ya Allah, karuniailah kami mati syahid di jalanMu.
Amin ya Rabbal ’aalamiin
>>

Awas waswas!!

Dalam keadaan baju yang basah dan wajah yang
lelah ia berdiri di hadapan teman-temannya. Setelah
itu ia angkat kedua tangannya ke atas kepalanya , seraya berkata dengan lantang, “Allahu akbar !” Teman-temannya kaget dan mungkin saja
menertawakannya dalam hati. Ada apa dengannya?
Ia baru saja memenangkan perlombaan maraton?
Atau baru menyabet juara satu perlombaan renang?
Atau baru saja latihan jihad? Bukan. Bukan itu semua.
Ia sedang memulai shalat ketika itu!

Ia salah seorang teman saya, sebut saja Ridwan
(nama samaran). Setelah “menghilang” beberapa lama dari pondok pesantren, ia kembali lagi dalam
keadaan sudah tidak “normal” . Badannya jadi nampak kurus, mukanya sedikit pucat dan
pandangannya terlihat sayu, hanya sedikit gairah
hidup yang terpancar di matanya. Bukan itu saja,
banyak tingkah laku barunya yang membuat teman-
temannya mengernyitkan kening atau geleng-geleng
kepala. Bila di kamar kecil ia bisa menghabiskan waktu lebih
dari setengah jam hanya sekedar untuk buang air
kecil! Kalau buang air besar atau mandi? Tentu bisa
berjam-jam. Ketika hendak shalat, ia bisa
menghabiskan lima belas menit lamanya hanya
sekedar untuk berwudhu. Lalu ketika baru saja masuk shaff, ia sering membatalkan shalatnya, lalu
mengulang lagi “ritual” yang tadi dikerjakannya di kamar kecil dan di tempat wudhu. Karena “ritual” itu pula, ia jadi sering tidak mendapatkan jamaah
shalat dan itu terjadi di setiap shalat lima waktu. Bila shalat sendiri (karena masbuk), mungkin lima
menit lamanya ia habiskan hanya untuk takbiratul
ihram; ia mengulangnya berkali-kali dengan suara
yang keras! Begitu juga shalatnya, sangat lama.
Bukan karena membaca surat atau dzikir yang
panjang, tapi karena ia mengulang-ulang bacaan yang baru dibacanya, seakan bacaannya selalu salah! Bisa jadi orang-orang tertawa menyaksikan tingkah
lakunya yang serba aneh seperti itu, tapi saya justru
merasa kasihan dan prihatin dengannya. Sebab,
sebenarnya ia sedang menderita ketika itu. Saya bisa
merasakan penderitaannya, karena saya sendiri
pernah merasakan apa yang dirasakannya, meskipun tidak separah yang menimpanya. Ia tertimpa
penyakit yang menurut istilah fuqaha dinamakan
waswas. Waswas adalah keraguan yang ditiupkan
syaithan kepada seseorang sehingga seakan-akan
(keraguan itu) menguasai ibadahnya atau perkara din
lainnya. Penyakit itu awalnya terjadi pada satu masalah, tapi
lambat laun akan merembet ke masalah lainnya bila
tidak segera ditangani. Seperti yang pernah saya
rasakan beberapa tahun silam. Pertama kali terjadi
ketika shalat. Dalam suatu shalat, ketika sedang
membaca Al-Fatihah, saya merasakan lidah ini berat dalam mengucapkannya. Seolah-olah bacaan saya
kurang benar atau kurang fasih. Dan itu terjadi di
setiap shalat lima waktu. Tidak berapa lama setelah
itu, saya merasakan “keanehan ” lain lagi, yaitu dalam wudhu. Setiap berwudhu saya jadi sering ragu.
Kerap ada saja beberapa bagian anggota wudhu yang
terasa belum terbasuh, entah ujung jari atau tumit
kaki atau anggota wudhu lainnya. Waswas itu tidak berhenti sampai di sini. Setelah itu,
acap kali saya ragu dalam menghitung berapa kali
saya membasuh anggota wudhu: apakah sudah tiga
kali atau baru dua kali? Atau justru baru satu kali atau
malah belum di basuh sama sekali? Waswas seperti
itu memaksa saya untuk mengulang-ulang membasuh anggota wudhu (mirip seperti yang
dilakukan Ridwan) agar lebih “yakin dan tenang ”. Namun ketenangan kah yang saya dapatkan? Yang
terjadi justru sebaliknya. Makin sering keraguan dan
waswas melanda ibadah saya ini, bahkan merembet
pula ke ibadah lainnya. Tentu saja itu sangat
menyiksa, sebab bukan kelelahan fisik saja yang
terasa, tapi psikis ini pun turut berteriak. Waswas memang benar-benar merusak ibadah dan fisik
seseorang! Bukan hanya itu saja penderitaan yang dihasilkan
penyakit ini. Bila tidak segera ditangani dan diobati
Waswas juga bisa merusak perkara din lainnya, di
antaranya aqidah penderitanya! Dan itu yang dialami
Ridwan. Saking parahnya waswas yang menimpanya,
sampai keluar dari lisannya pertanyaan yang membuat saya merinding, “Apa benar ya, Allah itu di atas Arsy? “ Waswas sudah menyerang aqidahnya! Dan yang mengerikan juga (entah ini lebih atau
kurang mengerikan dari sebelumnya) waswas ini
bisa membahayakan nyawa penderitanya. Kakak
Ridwan bercerita bahwa suatu hari ketika curhat
dengannya Ridwan pernah mengutarakan
keinginannya untuk mengakhiri hidupnya, karena frustasi dengan penyakit waswasnya tersebut! Masih ada lagi efek mengerikan dari waswas. Ibnul
Qayyim dalam Ighatsatullahafan menyebutkan
bahwa penyakit waswas yang telah kronis itu bisa
membawa penderitanya menjadi seperti
Sufasthoiyyah yaitu kaum yang mengingkari sesuatu
yang konkret dan nyata. Bila mereka telah melakukan sesuatu yang disaksikan sendiri oleh mata mereka
dan didengar oleh telinga mereka serta dirasakan
oleh tubuh mereka, mereka menganggap bahwa
perbuatan itu hanya ilusi bukan hakikat yang
sebenarnya! Sangat mirip dengan orang gila!
Naudzubillah min dzalik.. Tidak ada suatu penyakit, kecuali pasti ada obatnya.
Demikian Nabi kita bersabda. Maka begitu pula dengan penyakit waswas ini, pasti ada obatnya. Dari
beberapa penjelasan Ibnul Qayyim dan beberapa
ulama lainnya, bisa disimpulkan obat waswas yaitu: 1. Memperbanyak dzikir dan memohon pertolongan
kepada Allah, di antaranya ta ’awudz (memohon perlindungan) dari syaithan. Sebab, penyebab
penyakit ini, tidak lain, tidak bukan, muncul dari
syaithan. Ialah yang memiliki andil besar dalam
memunculkan dan “mengembangbiakkan ” penyakit ini pada diri seseorang, disamping
kelemahan mental si penderitanya juga. 2. Melawan waswas itu dengan yakin.
Nabi sabda, “Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini? ‘ ‘Siapa yang menciptakan itu? ‘ , sampai ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu ?’ kalau sudah sampai keadaan begini, maka
memintalah perlindungan kepada Allah dan
berhentilah (mendengar bisikan itu). “ (HR. Bukhari: 3276 Muslim: 214) dalam riwayat lain: hendaknya ia
berkata, “Aku beriman kepada Allah, benarlah Allah dan Rasul-Nya. ” Tatkala seseorang mulai merasakan gejala penyakit
ini, maka ia harus segera melawannya dengan yakin.
Ketika sering ragu apakah keluar sesuatu dari
kemaluan tatkala selesai buang hajat, maka yakini
tidak keluar apa pun darinya. Ketika waswas muncul
saat berwudhu, sudah dibasuhkan tangan ini? Sudah terkena air kah tumit ini? Maka lawan dengan
yakin, ” Ya, saya sudah membasuh tangan dan tumit saya “ . Begitu juga dalam perkara ibadah lainnya, ketika waswas melanda, ia harus melawannya
dengan yakin. Setelah mencoba resep yang dinasihatkan para ulama
di atas, walhamdulillah, setelah sekian lama
dibelenggu waswas, akhirnya saya bisa sembuh dari
penyakit berbahaya ini. Saya bisa kembali menikmati
hidup dan ibadah dengan tenang tanpa ada waswas
dan keraguan. Karena itu, bagi yang telah terserang penyakit ini, segeralah diobati. Dan bagi yang belum
terserang-semoga saja tidak terjadi tentunya-
waspadalah!
Sumber: anung.com
>>

Pesan idul adha yang syarat makna

Pada hari ini seluruh umat Islam di dunia sedang
merayakan Hari Raya Idul Adha 1429 Hijriyah yang
merupakan salah satu bentuk syiar Islam yang paling
besar. Hari raya yang merupakan ekspresi syukur
kepada Allah subhanahu wa ta ’ala (SWT) atas selesainya sebuah jihad jasadi dan rohani yang
dilakukan oleh sebagian dari kita yang sedang
menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah dan
Madinah. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Sesungguhnya hari raya bukan hanya aktifitas ritual
atau rutinitas religi setiap tahun, namun ia merupakan
hari agung yang bermakna besar baik secara
hablumminannas (horizontal) atau hablumminallah
(vertikal), baik secara individual maupun kolektif, baik
spiritual ataupun sosial. Sebab hari raya Idul Adha adalah manifestasi dan realisasi dari dimensi spiritual
yang sangat dalam, menyelami perjuangan panjang,
pengorbanan dan kesabaran yang dilakukan oleh nabi
Ibrahim ’alaihis salam dalam menjalankan perintah- perintah Allah subhanahu wa ta ’ala, memperjuangkan ketauhidan, merintis generasi
terbaik (khairu ummat) yang dibimbing oleh Rasulullah
SAW. Apa yang diperjuangkan oleh nabiyullah Ibrahim AS
dalam memerangi kebodohan, kemistikan, kezaliman
dan kediktatoran dicatat dalam oleh Al-Qur ’an. Beliau tampil menjadi sosok yang terus berkorban
untuk menyebarkan risalah Allah dan menghidupkan
umat dengan nilai-nilai iman, tauhid dan pengorbanan
walau harus dipanggang dalam api yang menyala-
nyala. Pengorbanan tersebut tidak berhenti di sini, tetapi
lebih jauh lagi abu al-anbiyaa, Ibrahim AS bahkan
diperintah Allah agar rela mengorbankan belahan
jantungnya, Ismail AS, anak laki-laki yang sangat ia
cintai. Kita tidak bisa bayangkan betapa beratnya
perintah tersebut! Hal itu tidak mungkin akan dilakukan oleh seseorang kecuali atas dasar keimanan
tinggi, tawakkal yang sempurna, dan ketulusan hati
yang dalam sehingga Allah tebus ketaatan dan
keikhlasan tersebut dengan seekor domba. Sebuah
peristiwa yang kemudian Allah abadikan dengan
pujian yang baik bagi generasi berikut dengan berkurban di saat musim haji dan hari raya Idul Adha. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Apa yang terjadi pada diri nabi Ibrahim AS, tentu tidak
terjadi secara tidak sengaja dan tanpa desain. Bila kita
renungkan secara seksama rangkaian peristiwa yang
meliputi nabi Ibrahim dan putranya Ismail AS yang
kelak melahirkan Rasulullah SAW di tanah Makkah,
sesungguhnya semuanya telah didesain oleh desainer super (super designer) yaitu Allah SWT. Sebuah misi dan proyek besar ini diawali dari sejak
nabi Ibrahim meninggalkan negeri Irak yang terkenal
subur, menuju Hijaz/Jazirah Arab yang gersang dan
tandus sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur ’an: ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebahagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau
(Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang
demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka bersyukur. ” (Ibrahim : 37). Apa yang terjadi di atas, sesungguhnya menegaskan
adanya proyek dan kontrak besar yang terjadi antara
Allah dan nabi Ibrahim AS. Dan sebagai bagian dari hal
tersebut—dengan kekuasaan Allah —di hari tua nabi agung ini mendapatkan keturunan yaitu Ismail dan
Ishak yang ia doakan agar senantiasa melahirkan
keturunan yang selalu mendirikan shalat. Doa ini
kemudian direspon Allah dengan kelahiran nabi Isa AS
dan khatamu al-nabiyyin, Muhammad SAW yang
membawa ajaran Islam yang menyempurnakan ajaran anbiya sebelumnya. Sekali lagi, proses penempatan nabi Ibrahim di Makkah
dengan mendirikan Ka ’bah, melahirkan nabi Ismail kemudian nabi Muhammad SAW merupakan skenario
besar dan desain agung yang diinginkan oleh-Nya agar
lahir kemudian masyarakat yang dijuluki oleh Al-
Qur’an sebagai khairu ummat (sebaik-baik umat) yaitu umat Islam. Skenario dan desain yang diinginkan
oleh Allah ini kemudian diabadikan dan
disimbolisasikan dalam praktek yang diteladankan
oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh umatnya dari
dahulu, sekarang dan di masa mendatang dalam
prosesi ibadah haji yang dilaksanakan di tanah suci Mekkah-Madinah. Maka lantunan seruan yang menggema di tanah suci
adalah kata-kata ’labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka...! (Di sini aku memenuhi
panggilan-Mu ya Allah, saya berada di sini...tiada
sekutu bagi-Mu ya Allah) sesungguhnya adalah ikrar
dan proklamasi kesiapan masing-masing jama ’ah haji untuk menghadirkan kembali kontrak Ilahi antara
nabi Ibrahim dan Allah tersebut dalam mega proyek
yang disiapkan oleh Rabbu al-Izzah untuk selalu
melahirkan generasi-generasi imani dan Qur ’ani. Di sinilah substansi esensial dari prosesi haji
sesungguhnya yang harus dimaknai baik oleh mereka
yang menjalankannya atau bagi umat yang
merayakan hari raya Idul Adha di negeri masing-
masing. Ikrar individual yang dilakukan oleh jemaah
haji untuk selalu siap mengagungkan asma Allah, siap mengulangi sikap taat, ikhlas, tawakkal dan ber-
taqarrub kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh nabi
Ibrahim, hendaknya juga dapat dihadirkan oleh setiap
individu Muslim di manapun mereka berada. Sebab
tanpa dapat memaknai hari raya ini dengan hal
demikian, sesungguhnya kita telah kehilangan substansi esensial dari Idul Adha. Dengan Idul Adha, Allah melatih dan menempa
umatnya agar senantiasa berkemauan tinggi,
berkorban dan bersabar dalam mendekatkan diri
kepada Allah dan sesama manusia, karena hanya
dengan yang demikian umat ini dapat menapaki
tangga menuju kejayaan dan kegemilangan. Semua ini tidak dapat dihadirkan secara mudah, tetapi
membutuhkan penempaan diri, pelatihan kejiwaan
agar amalan yang berat dapat menjadi ringan. Hal demikian yang telah diteladankan oleh Rasulullah
SAW kepada bangsa Arab sehingga mereka
berbondong-bondong masuk Islam yang tampil
sebagai agama yang membebaskan manusia dari
berbagai belenggu sosial, politik, ekonomi dan lain
sebagainya. Dengan didasari oleh prinsip-prinsip Al- Qur’an, Rasulullah berhasil menghadirkan umat yang bekerja keras, rasional, peduli, jujur, komitmen,
amanah, mementingkan orang lain dan cinta damai.
Kondisi ini kemudian berhasil memelejitkan bangsa
Arab pada zaman dahulu yang dicatat oleh sejarah
sebagai pemimpin dunia ilmu pengetahuan dan
peradaban. Ilmu pengetahuan dan peradaban yang dibangun di atas dasar persaudaraan, kebebasan dan
keadilan. Oleh karenanya, umat Islam yang sedang menunaikan
ibadah haji atau yang sedang merayakan Idul Adha,
seyogyanya dapat menyelami makna dari misi dan
proyek besar Allah di atas serta mengkaji lebih dalam
lagi tentang kontrak agung antara Allah dan nabiyullah
Ibrahim dalam menghadirkan khairu ummat. Kita diharuskan untuk terus menerus menebar kebaikan,
berjuang memerangi kebodohan, kemiskinan,
kezaliman dan kediktatoran serta menebar peduli,
empati, berbagi, terus mendekatkan kepada Allah dan
mendekatkan diri antar sesama manusia
sebagaimana diteladankan oleh nabi Ibrahim dan nabi Muhammad SAW selama hidup mereka. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Masing-masing kita terus melantunkan takbir, tahmid,
dan tahlil dari sejak tadi malam. Lantunan takbir,
tahmid, dan tahlil yang merupakan manifestasi dari
rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat
yang kita dapati. Takbir, tahmid, dan tahlil ini
sesungguhnya punya spektrum makna yang sangat luas sekali. Oleh karenanya ketika kita pergi ke tempat
shalat Ied dan pulang darinya hendaklah dilakukan
dari jalan yang berbeda agar gaung takbir, tahmid dan
tahlil tersebut dapat didengar oleh seluruh semesta. Oleh karenanya seorang yang tergolong kaya akan
sejenak melupakan ketergantungan dan
keterbelengguan dengan harta, merendahkan hati
menyongsong kebenaran dan keagungan Allah
karena menyadaari bahwa seluruh orang yang ada di
sekitarnya adalah saudara. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Hari raya secara sosiologis juga memberi ruang yang
lebar kepada anak-anak untuk bersenang gembira,
memfasilitasi kaum dhuafa agar meraih kemudahan
dan kelapangan, hari di mana para kerabat dan
keluarga dapat bertemu dalam ikatan persaudaraan,
empati dan kebajikan, hari di mana kaum Muslimin dipertemukan dalam toleransi dan saling kunjung
mengunjungi berbagi cerita sukses, hari di mana para
sahabat dapat memperbaharui rajutan cinta dan
kedekatan, di hari di mana para tetangga dapat
memperbaharui kedekatan relasi dan kerjasama
karena mereka adalah saudara kita yang paling dekat. Pada hari ini, masyarakat diingatkan dan dilatih untuk
peduli terhadap haknya para dhuafa dan kaum papa.
Dengan demikian, membentanglah spektrum
keceriaan di hari raya ini ke seluruh anak bangsa dan
kenikmatannya dapat membanjiri setiap rumah
tangga yang ada. Dan keceriaan akan menembus seluruh relung-relung hati masyarakat, baik anak atau
orang tua, muda atau tua, wanita atau laki, karyawan
atau majikan dan lain-lain. Pada hari ini, kemuliaan dan keikhlasan hati untuk
berkurban tumbuh bersemi dan diharapkan tidak
berhenti di sini tetapi dapat berkembang dan berlanjut
hingga di masa mendatang. Dengan demikian, sikap
ikhlas beramal, berkurban dan berbagi dengan hati
ikhlas yang penuh dengan cinta kasih dapat menghiasi kehidupan kita berbangsa, bernegara dan bahkan
berkonstitusi di tengah kondisi bangsa dewasa ini.
Semua ini merupakan wujud nyata dari proyek besar
Allah yang diawali oleh nabi Ibrahim dan
disempurnakan oleh Rasulullah dengan menghadirkan
’rahmatan li al-alamin’ Islam ke seluruh bumi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More