Showing posts with label religi. Show all posts
Showing posts with label religi. Show all posts

Pada Titik Sekarang, Kita Sudah Mendapatkan Apa Saja?

Aktifitas keseharian yang kerap meng-kudeta hampir sepanjang hari, membuat terasa kian mahal untuk hanya sekedar mencari waktu kosong di tengah padatnya rutinitas hidup. akan menjadi hal yang biasa buat kita, kalau saja ada acara yang di rasa itu sangat penting, maka umumnya akan punya kesepakatan untuk memilih hari " H " yang tidak jauh-jauh jatuh pada pilihan hari sabtu ataupun minggu. karena hari hari tersebut kerap di anggap banyak orang sebagai hari libur ataupun waktunya untuk beristirahat. meski tidak semua orang akan merasakan hari libur tepat pada hari akhir pekan. itulah siklus hidup yang akan terus memutar dan berputar mengitari putaran waktu hingga di pertemukan dengan masanya. Masa di mana kita akhirnya sudah menemukan sesuatu atau paling tidak sudah mendapatkan sesuatu


Setiap menit pada hari ini, atau pada beberapa jam kemudian, dan tenggat waktu satu atau dua hari kedepan, mestinya kita akan menemukan perubahan hidup entah itu satu hal yang punya nilai kecil ataupun perubahan yang punya pengaruh besar. dan baik tidaknya hasil dari perubahan itu bergantung dari pintar pintarnya kita untuk menyikapi semua bentuk perubahan tersebut. mau gak mau pada setiap jengkal langkah kita, saya rasa akan menjadi hal yang merugikan kalau saja pada titik di mana kita sudah melangkah jauh, tapi toh pada titik kordinat tertentu justru kita tidak mendapatkan apa apa. artinya tidak ada sesuatu yang kita dapatkan sebagai sebuah hal yang punya nilai positif. jelas sebenarnya itu sangat merugikan.

Hari libur bukan berarti di artikan sepenuhnya sebagai hari untuk bermalas malasan, bukan juga lantas kita tidur seharian penuh untuk menghabiskan jatah waktu libur di rumah. di luar dan di mana saja, atau juga di ujung sana, tentu akan ada banyak hal yang pada awalnya terlihat biasa, untuk kemudian bisa di rubah sebagai hal yang menjadi luar biasa, akan tetapi sudahkah kita merasa perlu untuk merubah? perlu atau tidak perlu saya pikir ini adalah pertanyaan yang cukup klasik. saya cukup berpegang pada kamus hidup, bahwasanya hidup itu tidak ada yang tidak bisa, yang ada hanya mau atau tidak mau. mau berubah atau tidak? tentunya kita juga punya sikap yang serupa untuk mengamini hal itu. tapi sedianya kadang semua kemauan menjadi terasa malas buat di kerjakan.

Kata ustadz kondang Aa Gym; bukankah seharusnya perubahan itu bisa kita lakukan mulai dari yang paling kecil, dari diri sendiri dan mulai dari saat ini. tidak ada misi dan mimpi seseorang yang harus bergantung kepada peran dari orang lain, dan tidak bijak kalau kita mau berubah justru lantas kita mengharapkan peran bijak dari orang lain. yang di tuntut adalah sikap untuk memilih buat tujuan hidup kita sendiri karena hidup itu adalah pilihan.

Seperti waktu hari minggu kemarin, saya memilih untuk bangun pagi-pagi sekali. dari yang mulai benerin kabel internet, beresin batu bata buat jalan motor yang mulai kena musim becek, ataupun nyari bahan di toko buku buat garapan lukisan sesi ke tiga. Saya rasa semuanya bermanfaat sekaligus ada hasil, dan semuanya adalah hasil dari pilihan saya, karena sedari dulu saya suka mewanti wanti buat diri sendiri. sederhananya ada semacam target tertentu, buat satu minggu kedepan saya harus mendapatkan sesuatu ah, atau untuk satu bulan kedepan saya harus bisa mendapatkan sesuatu nih, saya pikir sepertinya rugi banget kalau saya sudah punya banyak waktu luang tapi pada akhirnya justru tidak di gunakan sebaik mungkin untuk sesuatu yang punya manfaat. Istilahnya mubadzir kalau saya punya perjalanan waktu satu minggu, justru saya malah tidak mendapatkan sesuatu apapun. Istilahnya punya jatah waktu kosong itu jangan sampai menjadi sia sia.

Tapi untuk satu minggu belakangan ini Alhamdulillah yah setidaknya saya sudah mendapatkan banyak hal, entah itu rejeki, buah karya baru, nilai pelajaran hidup, atau pada hal yang terkecil sekalipun. seperti sudah menemukan tulisan bagus hasil dari membaca artikel teman, atau karena rajin membaca tulisan banyak orang lalu kemudian saya bisa menangkap ide sehingga bisa menelurkan sebuah artikel. atau juga sudah menangkap pelajaran hidup__dari kejadian di banyak tempat__ seperti dalam perjalanan saya kemarin. Kesemuanya bisa di sikapi sebagai sebuah hasil dari pilihan hidup saya. dan tepat hari ini saya juga akhirnya sudah mem-publish satu buah artikel lagi. yang mudah mudahan bisa bermanfaat. bagaimana dengan pengalaman perjalanan anda, dalam satu minggu terakhir ini anda sudah mendapatkan apa saja?

Mario Teguh adalah Seorang Muslim Sejati


Tak disangka-sangka Motivator ulung pembawa acara Golden Ways di Metro TV ternyata seorang muslim sejati. Mungkin selama ini kita menyangka beliau adalah seorang yang beragama nasrani atau budha bahkan banyak yang menyangka sebagai seorang pendeta, karena dalam setiap acaranya Mario Teguh selalu mengunakan kata “Tuhan” untuk menggantikan kalimat “Allah”. Fakta Mario teguh seorang muslim atau beragama islam terungkap tatkala Metro TV menyiarkan acara Mario Teguh pada Minggu 19 Juli 2009 yang topiknya seputar ibadah Umrah yang dipandunya. Terlihat Mario teguh sedang berada di Madinah sambil mengenakan pakaian berhaji dan bertasbeh.

Jati diri Mario Teguh sebagai seorang muslim juga diperkuat dengan wawancara yang dimuat di situs sufinews.com


Berikut artikel yang sudah dilansirkan oleh sufinews.com tentang keislaman Mario Teguh.

Formula yang anda tawarkan seperti Emotional Question (EQ) nya Daniel Goldman, begitu?

Kira-kira begitulah. Tapi saya mengistilahkannya dengan Emotional Intelegents atau Kecerdasan Emosi.

Jabarannya seperti apa?

Banyak cara yang ditawarkan orang dalam melatih responcibility seorang klien. Ada orang yang dilatih untuk berespon agresif terhadap stimuli. Ada juga yang berlatih merespon dengan cara melarikan diri. Ada pula yang menggunakan pendekatan bersembunyi atau mencari pembenaran diri pada apapun. Pada pendekatan yang terakhir ini apapun dibenarkan sebagai dukungan terhadap kebenaran diri karena mendapat serangan dari lingkungan. Nah paradigma ini yang biasanya dibangun dalam budaya. Sehingga muncul budaya kalau tidak setuju diam saja, nanti kalau sudah keterlaluan baru kita bereaksi. Nah ini mengakibatkan sekelompok orang untuk diam selama tidak setuju dan kalau sudah tidak tahan baru bereaksi dengan reaksi yang lebih agresif dan anarkis.

Kecerdasan emosi itu bukan semata kemampuan seseorang mengendalikan emosi pada tempat dan waktu tertentu. Dalam Kecerdasan Emosi seseorang dibekali semacam peta baku yang menjadi “rujukan” untuk respons terhadap spekuli, atau respons terhadap hubungan. Seorang anak yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dihina sebab dalam dirinya sudah ada peta bahwa hanya orang yang rendah saja yang marah ketika direndahkan orang lain. Seseorang yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dikatakan bodoh oleh pihak lainnya sebab dalam Peta Emosi yang dimilikinya ada petunjuk bahwa hanya orang bodoh saja yang mengatakan orang lain bodoh. Kalau secara kolektif bangsa ini di isi oleh individu-individu yang bereaksi positif terhadap apapun yang terjadi dilingkungan kita, yakinlah kehidupan berbegara dan berbangsa ini akan lebih damai dan syahdu.

Jadi, penyemangatan yang kita bicarakan adalah penyemangatan yang memiliki muara pada pengertian-pengertian baik dan positif, bukan dari acara hingar bingar seperti musik keras atau teriak-teriak atau loncat-loncat atau melalui obat atau minuman yang membantu artificial kita untuk merasa kelihatannya seperti bersemangat. Penyemangatan yang demikian ini sesaat saja sifatnya.

Di Jepang ada sebuah toko barang antik yang disediakan untuk para eksekutif yang tengah dilanda amarah. Disitu, orang boleh memecah berbagai jenis keramik yang ada dengan harapan setelah itu orang akan merasa lega karena amarahnya telah ditumpahkan pada barang-barang yang dipecahnya. Anda menghindari pendekatan macam ini?

Ya. Seperti yang saya katakan barusan, pendekatan macam itu temporal saja sifatnya. Dan ini bukan pemecahan. Marah hanya bisa diobati dengan memaafkan. Menahan amarah tanpa memaafkan hanya akan menambah penyakit saja.

Tapi dalam konsep tasawuf, memaafkan itu harus dilatih terus menerus seiring dengan tumbuhnya “kedewasaan ruhaniah” seseorang. Masih dalam konteks tasawuf, memaafkan itu hasil perjuangan dari pengendalian kekuatan ghadhab (amarah) yang berada diantara dua tekanan; pengecut dan pemberang. Bagaimana menurut Anda?

Nah disinilah letak perbedaan antara Ilmu Kejiwaan Barat dengan Ilmu Kejiwaan dalam agama.

Ilmu Kejiwaan Barat tidak menyertakan komponen keyakinan yang murni sebagai mekanisme manusia sebagai sebuah sistem, sedang Ilmu Kejiwaan dalam agama menyertakan proses bahwa manusia itu bagian dari sebuah keberadaan yang lebih besar, yakni Tuhan. Dan apa yang Anda
sampaikan itu adalah bagian dari Ilmu Kejiwaan dalam agama.

Apa yang Anda katakan itu memang sudah seharusnya demikian bagi orang yang sudah mengakui keberadaan Tuhan. Karena kalau kita sudah menerima Tuhan, semua waktu, tempat, keadaan dan kesempatan dipersembahkan hanya untuk Tuhan. Alasan kita tersenyum di pagi hari kepada isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin mengabdi kepada-Nya.
Kembali pada “memaafkan” yang Anda katakan, dia sebenarnya akibat dan bukan sifat.

Memaafkan adalah sebuah peralihan dari pusat ego kepada altruisme. Orang-orang altruis dalam al-Quran disebut sebagai orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinun; red). Semakin jelas disini bahwa memaafkan tak bisa direkayasa secara artificial dengan upacara pemutihan seperti acara halal bi halal misalnya. Serupa dengan memaafkan, kesabaran pun demikian. Ia bukan sifat tapi akibat. Ya, akibat dari karena ia mengerti resiko, mengerti reaksi yang tidak proporsional. Orang yang penyabar dan pemaaf itu sebenarnya cermin dari pengertian luas yang ia miliki. Karenanya kalau ada orang dilahirkan enggak bisa marah, itu bukan
kesabaran tapi ketidaknormalan.

Saat memberikan terapi atau memotivasi, diantara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?

Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya “peta” yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!

Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.

Kenapa ?

Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya!” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.

Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loh. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loh! Maksudnya, jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulkan agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita.

Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.

Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?

Ha…ha…ha…ya jelas tidak sama toh, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidaksamaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsoft. Masih ada toh?

Mas orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toh!? Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?

“Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam cermin,” begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

Anda ingin mengatakan bahwa dibalik cermin tersebut ada impian masa depan dan perencanaan strategis, begitu ?

Ya, tepat sekali. Salah satu pengamatan penting yang dapat ditemukan pada suatu perusahaan atau individu adalah perusahaan yang dapat mengetahui nilai utamanya dan dapat membuat perencanaan ke depan serta mengetahui apa yang harus dikerjakan dalam mencapai misi dan visi perusahaan.

Demikian pula dengan “perusahaan” Anda. Anda harus memiliki “impian” masa mendatang serta membuat perencanaan strategis yang harus dijalankan sesuai dengan proses yang direncanakan, sehingga Anda bisa mengerjakan apa yang harus Anda kerjakan dan bukan yang Anda senang kerjakan.

Jadi, menurut anda apa asset paling utama untuk perusahaan dan indvidu ?

Asset yang paling utama bagi suatu perusahaan dan individu adalah reputasi. Pemasaran adalah persaingan antar persepsi yang ada dibenak pelanggan dan bukan persaingan antara produk yang sebenarnya. Jadi, reputasi dan persepsi suatu perusahaan atau individu adalah sesuatu yang amat penting dalam mencapai kesuksesan.

Jika ditemukan kegagalan, dimana letak masalahnya?

Saya melihat hanya sales people yang gagal, yang disebabkan karena mereka banyak menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang kurang memberikan nilai-nilai kunci pada perusahaan kehidupan mereka. Sebaliknya, bagi para sales people yang sukses, umumnya mereka
fokus pada aktifitas yang banyak memberikan nilai-nilai tambah dalam perusahaan kehidupannya.

Termasuk memberi nilai tambah estetika untuk perusahaan yang bernama Republik Indonesia karena kemerosotan perilaku bangsanya yang terjadi disana-sini?

Ha…ha…ha… Dalam sekali anda! Tapi memang benar, pengalaman estetika itu memang menjadi soal yang mendesak bagi masyarakat kita akhir belakangan ini. Sehingga mata pendidikan estetika pun menjadi pendidikan yang layak diakselarasi. Estetika bukan sebatas menyangkut kesenian semata, ini adalah peristiwa kebudayaan. Estetika itu awalnya adalah ketakjuban manusia dihadapan alam. Lalu alam itu mengajarkan bermacam-macam persoalan agar manusia meniru dan menduplikasinya. Sejak itulah lahir peristiwa kesenian.

Didalam kesenian jiwa manusia diperkenalkan kepada nilai-nilai yang lebih luhur. Dari keluhuran seni, manusia tergerak untuk mencari pengalaman yang lebih tinggi dan bertemulah dengan pengalaman reliji. Dari seni pindahlah mereka kepada agama. Dari sekedar pengalaman estetik maka menginjaklah manusia kedalam pengalaman relejius.

Sama seperti para ahli tasawuf saat membahas cahaya dari proses manusia bahwa hidup adalah sebuah tamsil agung tentang perjalanan seorang manusia menembus lorong dirinya sendiri, tanpa kawan, tanpa bekal, tanpa lentera…..?

Ha…ha…ha…. Anda lebih paham soal itu. Kembali kepada pendidikan estetika tadi, itulah pendidikan yang hasilnya akan kita nikmati dalam bentuk nilai kepatuhan publik kepada hukum, tertib sosial, sikap mental masyarakat yang hidup dan menjunjung tinggi kedaulatan umum. Dan bangsa ini akan menjadi bangsa yang peka terhadap alam dan kemanusiaan.

Sekaligus menjadi bangsa yang tampil lebih kuat dihadapan hasutan budaya pop dan tidak mudah memuja sesuatu yang sejatinya biasa-biasa saja cuma karena ia di populerkan oleh media massa ?

Ya. Hasil pendidikan itu membuat bangsa ini mudah mengenali sesuatu yang sejatinya indah dan gerah ketika melihat limbah.

Dengan cara apakah pendidikan estetika ini harus dijalankan?

Oleh karena estetika itu lebih luas dari hanya mengenali lukisan cantik, tidak mudah memang untuk menyingkapnya. Tapi jika mau sederhana mulailah dari diri kita dan masing-masing komponen bangsa untuk kemudian para pemimpin yang besar visi estetik nya dan kesuksesan pun siap untuk dijelang.

Apa arti sukses menurut anda ?

Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya.

Hanya saja itu semua bukan kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian sulit menemukan kesuksesan-kesuksesan yang pernah diraihnya.

Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.

Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, “Biarlah kita sekarang susah, asal nanti kita sukses”. Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana anak tangganya?

Bukankah untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?.

Ada pepatah yang mengatakan, “Sukses akan melahirkan sukses yang lain.” Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

Tapi sayang, umumnya, masyarakat kita menilai sukses seseorang dari ukuran-ukuran materi seperti merek mobil yang digunakan, mewahnya rumah yang dimiliki dan lain sebagainya.

Bagaimana komentar Anda ?

Ini jelas penilaian yang harus diluruskan sebab akan ada akibatnya; jika tidak kaya atau bergelimang harta maka seseorang tidak dikatakan sukses. Sehingga pada akhirnya berlomba-lomba setiap orang untuk mencari kekayaan yang lepas dari cara yang halal atau yang haram karena ia takut kalau dikatakan tidak sukses. Jika kekayaan itu sudah diraihnya, pasti ia mudah terlena dengan kekayaan itu. Dengan angkuh, ia mengklaim bahwa kekayaan yang ada padanya itu hasil jerih payahnya sendiri. Ia lupa bahwa kekayaan sesungguhnya bukanlah sebab melainkan akibat dari sukses yang diraihnya. Hemat saya, orang yang angkuh dengan apa yang dicapainya sebenarnya dia tidak berencana untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan yang lain.

Tandanya apa sich seseorang yang terjebak pada keangkuhan atau kesombongan?

Konon tidak seorang pun bisa masuk sorga kalau hatinya tinggi, arogansinya besar dan harga dirinya bengkak. Orang-orang arogan tidak bisa masuk sorga. Kira-kira begitulah secara spiritual. Tetapi didunia pekerjaan pun orang-orang yang kemudian masuk dalam jebakan kesombongan dan arogansi ditandai dengan perasaan luar biasa hebat, perasaan paling top, perasaan paling hebat, bahkan lupa sebenarnya dia sudah merasa lebih besar dari pada sejatinya. Perusahaan-perusahaan dan orang-orang demikian biasanya mulai mengalami proses penjatuhan atau proses penurunan.

Jadi, sombong itu awal dari kejatuhan individual maupun kejatuhan perusahaan?

Ya, awal dari kejatuhan individual atau kejatuhan perusahaan adalah ketika mereka lupa diri, arogansi dan sombong. Itulah yang bisa diungkapkan dari sejarah bisnis. Pada banyak produk-produk yang dulu terkenal, pemimpin besar, market leader, tapi kemudian sekarang hilang dari peredaran. Kenapa? Jawabanya adalah ketika mereka terjebak dalam kesombongan yang membuatnya rasa puas diri.

Dengan kata lain, sebaliknya, jika kita ingin maju kita harus rendah hati?

Iya.

Rendah hati yang anda maksud?

Ya, dia sejenis perasaan dimana kita bukan yang paling top, meski barangkali kita sudah duduk di tempat yang top.

Maksudnya ?

Bisa saja seorang duduk dikursi Presiden misalnya, Gubernur misalnya, pokoknya sudah paling top. Lalu dia tetap menunjukkan kerendahan hati, itu rendah hati namanya. Sebaliknya, jika seseorang duduk pada tempat yang tinggi, seperti pada jabatan-jabatan itu, namun ia arogan, maka orang tersebut berubah menjadi tirani, berubah menjadi dictator, bahkan fasis.

Seseorang yang duduk dikedudukan tinggi tetapi rendah hati maka dia berubah menjadi pelayan, orang tersebut menyenangkan kita. Jadi sekali lagi, seorang yang rendah hati tidak merasa sudah paling tinggi meskipun barangkali dia sudah ditempat paling tinggi. Dengan kata lain, kerendahan hati adalah tidak menuntut apa yang tidak patut bagi kita sesuai dengan kedudukan kita. Mendahulukan orang lain dengan menolak mendahulukan apa yang patut bagi kita sesuai dengan kedudukan kita, itu kerendahan hati. Kerendahan hati adalah sebuah syarat dimana kita bisa belajar lebih lanjut. Ketinggian hati adalah sebuah kondisi dimana kita tidak belajar lagi karena sudah merasa paling top, paling pinter, paling luar biasa.

Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu ‘Atha’illah, yang mengatakan, “Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya.” Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?

O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri sendiri, “Aku masih ingin belajar”, “Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku”, “Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”.

Jika ditilik dari kehidupan kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?

Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.

Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin.

Kita, atau persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

Anda punya pengalaman keberislaman Anda?

Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya.

Pengalaman lain ?

Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loch, kok ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario!?”

Jika sebagaian dari kita umat Muslim bisa menyampaikan dakwah sperti Mario Teguh, sudah tentu stigma negatif tentang Islam akan berkurang, Mau…?

Sumber : sumbawanews.com

Seringlah Berziarah Kubur


Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah lurus yang ahli ibadah. Imam Ahmad pernah mengatakan, bahwa tidak ada seorangpun tabi’in yang ucapannya bisa dijadikan hujjah, selain Umar bin Abdul Aziz. Ketika ajalnya sudah mendekat, dia meminta isterinya, Fatimah, “Keluarlah dari kamar ini, sebab aku melihat beberapa makhluk yang bukan bangsa manusia dan bukan pula bangsa jin, yakni malaikat”, lirihnya.


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾
نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kmau merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyang”. (QS : Fushilat : 30-32)

Lalu, Umar bin Abdul Aziz bersuara sangat lirih, “Ya Allah. Teguhkanlah kami dengan kalimat yang teguh, ketika arwah kami menyesakkan kami dan penderitaan kami amat berat, sehingga tidak ada tempat lari dan berlindung kecuali kepda-Mu”, ucapnya.

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء ﴿٢٧﴾

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. (QS : Ibrahim : 27)

Banyak orang yang ajalnya datang ketika maksiat mereka menggunung. Entah karena pembunuhan, zina, khamar, riba, nyanyian , tidak shalat lima waktu berjamaah, ataupun tidak peduli pada risalah Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Laa ilaaha illallah, betapa lalainya mereka itu!
Sehabis ditangkap, Sa’id bin Jubair dibawa menghadap Al-Hajjaj.

“Siapa namamu?”, tanya Hajjaj mencomooh.

“Sa’id bin Jubair”, sahutnya.

“Bukan. Nama kamu adalah si Sial (Syaqi) bin Kusair”.

“Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau”, jawabnya.

“Celaka kamu .. celaka pula ibumu”, balas Hajjaj, sambil melanjtukan.

“Demi Allah. Kamu akan saya masukkan ke dalam api yang menyala-nyala”, teriak Hajjaj

“Kalau aku tahu kamu sanggup melakukannya, pasti engkau sudah aku jadikan tuhan”, sergah Sa’id.

“Bawa sini harta kekayaan”, datangkanlah emas perak, cetus Hajjaj.

“Hajjaj”, kata Sa’id, “Sekiranya kekayaan ini engkau kumpulkan untuk menyelamatkan dirimu dari azab yang pedih, alangkah bagusnya. Tapi, bila engkau melakukan itu untuk riya dan ingin disebut orang, demi Allah tidak akan ada gunanya disisi Allah sedikitpun”, tegas Sa’id.

“Bawa ke sini budak perempuan yang bisa menyanyi”, perintah Hajjaj.
Lalu, Sa’id menangis.

“Apakah lagunya enak”, tanya Hajjaj.

“Demi Allah. Bukan. Aku menangis lantaran ada budak yang diperkerjakan untuk sesuatu yang b ukan untuk itu ia diciptakan, dan lantaran kayu yang dijadikan alat musik untuk digunakan bermaksiat kepda Allah”, cetus Sa’id.
Sa’id membacakan firman-Nya :
“Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah”. (QS : 115)

“Banting ke tanah!”, teriak Hajjaj penuh amarah.

Tetapi, Sa’id menjawab, “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan megnembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pda waktu yang lain”. (QS : Thaha :55)

“Demi Allah. Sahya akan membunuh kamu dengan cara yang tidak eprnah digunakan orang”, kata Hajjaj.

“Hajjaj. Engkau boleh pilih cara sesukamu. Demi Allah, cara apapun yang engkau pilihl membunuhku, niscaya Allah juga akan membunuhmu dengan cara seperti itu”, cetus Sa’id.

Sebelum dibunuh, Sa’id berdo’a.
“Ya Allah. Jangan biarkan dia menindas siapapun setelah aku mati”, ucap Sa’id dengan lirih.

Kemudian, kepala Sa’id pun dipenggal oleh Hajjaj. Hanya beberapa bulan kemudian, Hajjaj meronta-ronta, karena sakit sampai Allah membinasakannya.

Tentu, hendaknya kita selalu mengingat kematian, yang akan datang setiap saat. Terkadang kita lalai dan lupa akan kematian, lupa peristiwa sesudah mati. Karena kita terperosok ke dalam maksiat, nafsu syahwat, syubhat, yang membuat Allah menjadi marah.

Diriwayatkan dari Maimun bin Mahram, ahli zuhud yang ahli ibadah dan alim, bahwa ia menggali sebuah lubang kubur di dalam rumahnya. Setiap malam ia masuk ke dalam kubur itu sambil menangis dan membaca al-Qur’an. Lalu, ia keluar lagi dan berujar kepada diri sendiri. ”Maimun sekarang engkau telah kembali ke dunia, kerjakanlah amal shaleh”, bisiknya dalam hati.

Mengingat mati bisa dilakukan dengan berziarah kubur. Seiring dengan berkembangnya peradaban, perkembangan budaya, berbagai macam godaan syahwat, ragam makanan yang lezat, corak pakaian dan barang-barang perabot, maka ziarah kubur jarang-jarang dilakukan. Akibatnya, kamatian pun dilupakan.

Ziarah kubur, mengucapkan salam kepada para penghuni makam, dan mendoakan mereka. Merenungi bagaimana pemusnah kenikmatan merenggut mereka, memasukkan mereka ke dalam liang yang gelap. Menarik mereka keluar dari rumah, gedung dan istana. Dahulu mereka makan minum, berfoya-foya, tertawa-tawa, mengendarai mobil mewah, menduduki jabatan tinggi, membangun gedung-gedung pencakar langit, dikawal tentara, dikerumuni banyak orang, bendera berkibar diatas kepala mereka, tetapi akhirnya semua direnggut dari tangan mereka, dan mereka dikuburkan ke dalam lubang-lubang yang sempti.

Dalam shahih Bukhari, Ibnu Umar ra, berkata Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menarik pundakku, “Di dunia ini jadilah engkau seperti orang yang asing atau musafir”. Hanya orang-orang yang segera bertobat yang bersiap-siap menghadapi kematian.

Sa’id Ibnu Musayyib, ketika sekarat berujar, “Alhamdulillah. Selama empat puluh tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, ketika muazin mengumandang azan”, ucapnya. Wallahu’alam.
sunber: http://www.eramuslim.com/

Bagaimana Penampilan Fisik Rasulullah?

Sebagai seorang Muslim, jelas, acuan kita hidup kita hanya pada Rasulullah saw saja, Sebenarnya, bagaimana kehidupan Rasulullah saw sehari-hari?

Jawabannya ada tertinggal dari banyak kutipan hadist yang ditinggalkan oleh beliau, Kehidupan Rasulullah adalah gambaran penampilan diri yang amat istimewa, baik secara personal maupun sosial. Secara fisik, sikap, tingkah laku, tutur kata, pemikiran, emosi hingga keikhlasan hati dan keluhuran jiwa beliau terpancar dalam sebentuk kepribadian yang nyata, menyentuh dan membekas begitu dalam pada sanak saudara, para sahabat, tetangga, dan bahkan musuh-musuhnya sekalipun.


Tak heran, tatkala sesudah Rasulullah wafat, ketika sahabat bertanya kepada Aisyah bagaimanakah gambaran Nabi saw selama hidupnya? Aisyah ra, tak mampu menahan linangan air mata penuh khidmat dan kerinduan yang mengigit sanubari saat berkata, “Segalanya begitu menakjubkan bagiku.” Dan di waktu lain beliau menjawab, “Sesungguhnya Akhlak beliau adalah Al-Quran.”

Secara fisik, Rasulullah juga digambarkan sebagai laki-laki yang kuat, berdada bidang, dan itu ditandakan dengan kuatnya beliau melakukan banyak ibadah, mengerjakan pekerjaan kasar laki-laki, dan bahkan ikut berperang. Tak ada pilihan terbaik dalam mencontoh penataan penampilan diri kecuali dari apa-apa yang Rasulullah ajarkan, sebagaimana terekam dalam berbagai kutipan hadis berikut:

Penampilan Jasmaniah Rasulullah

1. Sesungguhnya Allah itu indah dan senang dengan keindahan. Bila seseorang diantara kamu (bermaksud) menemui kawan-kawannya hendaklah dia merapikan dirinya. (HR Muslim)
2. Apabila kamu memelihara rambut, hendaklah dimuliakan (disisir, dirapihkan agar tidak acak-acakan). (HR Abu Dawud dan Ath Thahawi)
3. Siapa yang mengenakan pakaian, hendaklah kenakan yang bersih. (HR Arh-Thahawi)
4. Jangan meremehkan sedikitpun (enggan melakukan) perbuatan ma’ruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan wajah yang ceria. (HR Muslim)
5. Abu hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya pada wajah teman bicaranya dan Rasulullah tidak berpaling darinya sebelum selesai berbicara. (HR Ath-Thabrani)
6. Siapa yang tak memiliki keramah tamahan berarti ia tak memiliki kebaikan.(HR Muslim)

Kupas tuntas bagaimana siksa kubur

Dari Hani’ Maula Utsman berkata bahwa ketika Utsman bin Affan berdiri di depan kuburan, beliau Menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu, dikatakan kepadanya, “Diceritakan kepadamu tentang surga dan neraka kamu tidak menangis, tetapi kamu menangis dari ini.” Maka, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kuburan adalah awal rintangan dari beberapa rintangan alam akhirat. Jika sukses di alam itu maka setelahnya lebih mudah dan jika tidak sukses maka setelahnya lebih susah.’ Kemudian, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada pemandangan yang pernah saya lihat melainkan kuburan yang paling menyeramkan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).>>

Ketika seseorang hamba diantar ke kuburan dia disertai tiga hal, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dan yang kembali pulang dua hal, yaitu harta dan keluarganya, sedangkan yang mengikutinya ham amalnya, seperti yang telah ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Suatu yang mengikuti mayat ada tiga, kembali pulang dua dan ikut bersamanya satu; diantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya, maka kembali pulang keluarganya dan hartanya dan yang tersisa (bersamanya) amalnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya berkata, “Ketika dinding rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam roboh sementara Umar bin Abdul Aziz pada saat itu sedang berada di Madinah, tiba-tiba telapak kaki salah seorang penghuni kuburan yang dikubur di rumah itu terlihat dan telapak kaki itu terkena sesuatu sehingga berdarah. Maka, Umar bin Abdul Aziz kaget sekali, lalu Urwah masuk ke rumah tersebut. Ternyata telapak kaki itu adalah telapak kaki Umar bin Khaththab. Maka, Urwah berkata kepada beliau, ‘Engkau jangan kaget, kaki tersebut adalah kaki Umar bin Khathab Radhiallahu ‘anhu. Lalu, beliau menyuruh membangun kembali dinding tersebut dan dikembalikan seperti keadaan semula.” (Lihat kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab, “Risalah Ahwalul Qubur”, hlm. 175).

Abu Umamah al-Bahili berkata, “Sesungguhnya kalian pada pagi dan petang berada dalam hunian yang meraup kebaikan dan keburukan. Dan, hampir-hampir kalian akan pergi meninggalkannya menuju hunian lain, yaitu kuburan, suatu hunian yang sangat menyeramkan dan rumah yang sangat gelap, tempat tinggal yang sangat sempit kecuali yang diluaskan Allah, kemudian kalian akan dibangkitkan pada hari Kiamat.” (Ibid., hlm. 258).

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata kepada salah seorang pendampingnya, “Wahai Fulan, Aku tadi malam tidak bisa tidur karena merenungkan sesuatu.” Dia berkata, “Apa yang sedang Engkau renungkan, wahai Amirul Mukmmin?” Beliau menjawab, “Aku sedang merenungkan kuburan dan penghuninya. Jika kamu menyaksikan mayat pada hari ketiganya di dalam kubur, niscaya kamu akan mendapatkan suatu bentuk sangat mengerikan walaupun sebelum mati dia sangat menawan hati. Kamu menyaksikan suatu hunian penuh dengan binatang binatang yang menyeramkan, badan yang mulai mengembung dan bernanah yang dibuat santapan cacing tanah, sedang tubuh mulai membusuk, kain kafan mulai hancur, sementara dahulu di dunia penampilannya sangat menawan, aroma tubuhnya sangat semerbak wangi dengan parfum dan pakaiannya sangat bersih dan indah.” Setelah itu beliau tersungkur pingsan.” (Ibid., hlm. 290).

Dari Yahya bin Abu Katsir bahwa Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu pernah berkhutbah, “Di manakah mereka yang berwajah rupawan, yang bangga dengan usia remajanya, yang silau dengan keperkasaannya, namun hal itu tidak pernah dipersembahkan untuk peperangan? Di manakah mereka yang telah membangun kota-kota besar yang dilindungi dengan benteng-benteng yang kokoh? Semuanya telah ditelan oleh masa dan semuanya akan menuju kepada gelapnya kuburan.” (Ibid., hlm. 295).

Umar bin Dzar berkata, “Andai kata orang yang sehat walafiat mengetahui tubuh penghuni alam kubur hancur lebur (dimakan cacing tanah), maka mereka akan sungguh-sungguh dan serius selama berada di dunia karena takut pada suatu hari, di mana hati dan mata tercengang karena ketakutan.” (Ibid., hlm. 296).

Abu Abdurahman al-Umari al-Abid berkata, “Wahai Para pemilik istana-istana yang megah! Ingatlah gelapnya hiburan yang menyeramkan, wahai orang-orang yang bergelimang kenikmatan dan kelezatan, ingatlah cacing tanah, darah campur nanah dan hancurnya jasad bersama tanah.” (Ibid., hlm. 260).

Derita dan Nikmat Alam Barzakh

Seorang muslim wajib beriman bahwa azab kubur merupakan perkara yang haq, dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir kepada penghuni kubur tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya suatu perkara yang pasti. (Lihat Tahdzib Syarah Thahawiyah, hlm. 237).

Maka, Abu Abdullah berkata, “Azab kubur suatu yang hak dan tidak ada yang mengingkarinya, kecuali orang sesat dan menyesatkan.” (Lihat kitab ar-Ruh, Ibnul Qayyim, hlm. 76). Dan demikian itu berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma sahabat, maka kuburan merupakan liang dari taman surga atau liang dari jurang neraka sehingga ketika seorang hamba mati dan dimasukkan ke liang kubur berarti ia telah mengawali alam akhiratnya. Ketahuilah, para pembela kebenaran sepakat bahwa Allah menciptakan untuk sang mayat suatu kehidupan yang bisa berupa kesengsaraan dan kelezatan di alam kubur.(Lihat Syarah Fikih Akbar, Mullah al-Qari, hlm. 209). Dan seorang tidak tahu secara persis berapa lama ia harus tinggal di kampung hunian kuburan tersebut, kuburan adalah alam yang paling menakutkan setiap salafush shalih.

Dalam hadits Barra bin Azib Radhiallahu ‘anhu yang panjang, bahwa tatkala Rasulullah duduk di kuburan beliau bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari azab kubur.” Ucapan itu diulang hingga dua atau tiga kali, kemudian beliau menuturkan tentang kondisi mayat mukmin dengan bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya kemudian datanglah dua malaikat dan keduanya mendudukkannya lalu keduanya bertanya, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Maka ia menjawab, ‘Tuhanku adalah Allah. Keduanya bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Maka ia men jawab, ‘Agamaku adalah Islam.’ Keduanya bertanya lagi “Siapa orang yang diutus kepadamu?’ Maka ia menjawab ‘Dia adalah Muhammad sebagai utusan Allah’. Lalu keduanya bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?’ Ia menjawab, ‘Saya membaca Kitabullah lalu saya beriman dan membenarkannya.” Maka terdengarlah dari langit suara panggilan yang memanggil. ‘Jawaban hamba-Ku sudah benar. Maka hamparkanlah (permadani) dari surga dan bukakan pintu menuju arah surga serta berikanlah pakaian dari surga.” Beliau bersabda, “Maka masuklah ke alam kubur aroma semerbak dan wanginya surga lalu alam kuburnya diluaskan sejauh pandangan matanya.”

Beliau melanjutkan, “Maka datanglah seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan mengenakan wewangian lalu ia berkata, ‘Bergembiralah dengan sesuatu yang pernah dijanjikan kepadamu. Maka si mayat bertanya kepadanya, ‘Siapa kamu? Wajahmu datang membawa kebaikan.’ Maka ia menjawab, ‘Maka saya adalah amal shalihmu.’ Maka ia berkata, ‘Ya Allah, bangkitkan segera Hari Kiamat hingga aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.”

Kemudian beliau menceritakan kematian orang kafir beliau bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya lalu datanglah dua malaikat dan mendudukkan­nya lalu keduanya bertanya kepadanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ la menjawab, ‘Ha… ha… saya tidak tahu’. Lalu keduanya bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Ha… ha… saya tidak tahu’. Keduanya bertanya lagi, ‘Siapa yang diutus kepadamu menjadi nabi?’ Ia menjawab, ‘Ha… ha saya tidak tahu.’ Maka terdengarlah suara panggilan memanggil dari alas langit, ‘Ia berdusta. Hamparkanlah permadani dari neraka, berikanlah pakaian dari neraka dan bukakanlah pintu menuju neraka.”

Beliau bersabda, “Maka masuklah panasnya dan racunnya neraka sehingga tulang rusuknya berantakan dan datanglah seorang lelaki yang berwajah buruk, berpakaian kumal dan berbau busuk. Lalu ia berkata, ‘bergembiralah dengan nasib buruk ini yang telah dijanjikan kepadamu sebelumnya.’ Si mayat bertanya, ‘Siapakah dirimu? Datang berwajah buruk? Ia menjawab ‘Saya adalah amal burukmu.’ Maka ia berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau bangkitkan hari Kiamat.”

Ada tambahan dari hadits Jarir bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian dihadirkan orang buta dan bisu yang di tangannya terdapat cemeti terbuat dari besi. Andai kata digunakan untuk memukul gunung, maka gunung itu akan menjadi debu bertebaran.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Hakim).

Begitulah wahai Saudaraku, kenikmatan surga bisa sampai kepada hamba pada saat masih berada di alam kubur, dan demikian pula siksaan neraka sampai kepada hamba pada saat masih berada di alam kubur, hingga malaikat Israfil meniup sangkakala sebagai pertanda hari Kiamat tiba. Pascakematian bukan tempat peristirahatan namun alam pertanggungjawaban dan tempat untuk menghisab seluruh amal perbuatan, maka sang penyair berkata:

“Jikalau kita telah mati dibiarkan maka kematian menjadi tujuan setiap yang hidup.

Tetapi tatkala kita mati pasti dibangkitkan dan ditanya tentang segala sesuatu.”

Wahai Dzat pengambil nyawa dari jiwa manusia pada saat kematian, wahai Dzat Pengampun dosa, jauhkanlah kami dari siksa kubur.

Siksa Kubur Menimpa Jasad dan Ruh

Menurut pendapat yang shahih siksa kubur menimpa jasad dan ruh seperti yang telah ditegaskan dalam hadits-hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki atau wanita berkulit hitam, tukang sapu masjid meninggal dunia lalu dikubur pada malam hari, kemudian diberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda:

“Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah Azza wa Jalla memberi cahaya pada kuburan itu dengan shalatku atas mereka.” Maka beliau mendatangi kuburannya dan shalat atasnya. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ibnu).

Dan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata: “Pada suatu hari ketika Saad bin Muadz dikubur maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di hadapan kuburannya lalu bersabda: ‘Seandainya seseorang bisa selamat dari siksa kubur atau pertanyaan di alam kubur maka Sa’ad bin Muadz pasti selamat darinya, namun dia diimpit dengan sekali impitan kemudian dilonggarkan darinya.’” (Shahih diriwayatkan Imam at-Thabrani dalam al-Kabir (10827), Imam al-Haitsami dalam Majma Zawaid (4257) dan Silsilah Ahadits Shahihah (1695).

Menurut pendapat yang benar bahwa siksa kubur menimpa ruh dan jasad seperti yang telah ditegaskan Imam Ibnu Rajab, “Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa siksa kubur menimpa jasad dan ruh adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang mayat yang diimpit di alam kuburnya hingga tulang rusuknya hancur berantakan. Kalau siksa kubur hanya menimpa ruh saja maka tidak hanya khusus terjadi di alam kubur saja dan tidak perlu dinisbatkan kepadanya.” (Lihat kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab, risalah Ahwalul Qubur, hal. 192). Imam as-Subki berkata, “Kembalinya ruh ke jasad di alam kubur merupakan ketetapan (final) berdasarkan hadits shahih yang berlaku bagi semua mayat terutama bagi orang-orang yang mati syahid.” (Lihat Syarhus Sudur, Imam as-Suyuthi, hlm. 204).

Ibnul Qayyim berkata, “Jika kamu telah mengetahui beberapa pendapat yang batil, maka ketahuilah madzhab salaful ummah dan para imam sunnah (bersepakat) bahwa seorang hamba setelah mati berada dalam nikmat atau azab di alam kubur. Dan demikian itu menimpa ruh dan jasadnya. Dan setelah ruh berpisah dari badan maka ia terus berada dalam nikmat atau azab. Dan, terkadang menimpa badan sehingga ia mendapat nikmat atau azab. Kemudian, pada saat kiamat besar maka ruh-ruh tersebut dikembalikan ke badan lalu semuanya bangkit dari alam kubur mereka untuk menghadap Rabbul Alamin. Sedang kembalinya ruh ke jasad telah terjadi kata sepakat antara kaum muslimin, Yahudi dan Nasrani.” (Lihat kitab ar-Ruh, Ibnu Qayyim, hlm. 69).

Inilah yang dimaksud sabda Nabi, “Sesungguhnya nyawa orang beriman berbentuk burung yang bertengger di pohon surga hingga dikembalikan Allah ke jasadnya pada hari Allah membangkitkannya.” (Imam as-Suyuthi berkata bahwa hadits ini diriwayatkan Imam Malik, Ahmad, dan Nasa’i dengan sanad yang shahih. Imam Ibnu Katsir berkata hadits ini sanadnya shahih. (lihat Syarhus Sudur, hlm. 306 dan tafsir Ibnu Katsir tafsir surat Ali Imran ayat 169).

Bentuk-Bentuk Siksa Kubur

Bentuk dan macam siksa kubur banyak sekali, di antara bentuk dan macam siksa kubur yang menimpa para penghuninya adalah:

1. Alam kubur sangat gelap dan seram

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Dan, Allah Azza wa Jalla memberi cahaya pada kuburan itu dengan shalatku atas mereka.” (Telah berlalu takhrijnya).

2. Azab kubur dipukul dengan cemeti besi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di liang kubur dan para pengantar pulang maka ia mendengar suara terompah mereka. Datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya kemudian bertanya, ‘Apa komentarmu tentang Muhammad?’ Adapun orang mukmin menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihat tempat tinggalmu dari api neraka telah diganti oleh Allah dengan tempat tinggal dari surga.’ Maka ia bisa melihat keduanya. Dan adapun orang munafik dan orang kafir, maka ditanya, ‘Apa komentarmu tentang orang ini (Muhammad)?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak tahu. Aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan orang-orang.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak mengerti dan tidak tahu.’ Dan dia dipukul dengan gadam yang terbuat dari besi sekali pukulan. Maka ia berteriak kencang hingga didengar makhluk yang ada di sekitarnya, kecuali manusia dan jin!” (HR. Bukhari).

3. Azab kubur dengan diimpit bumi

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu hari ketika Saad bin Muadz dikubur maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di hadapan kuburannya lalu bersabda, ‘Seandainya seseorang bisa selamat dari siksa kubur atau pertanyaan di alam kubur maka Sa’ad bin Muadz pasti selamat darinya, namun dia diimpit dengan sekali impitan kemudian dilonggarkan darinya.” (Telah berlalu takhrijnya).

4. Azab kubur dengan dibelit ular berbisa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dikirim kepada orang kafir dua ekor ular, seekor ular dari arah kepalanya dan yang lainnya dari arah kakinya yang membelitnya dengan kuat, ketika tuntas maka kembali membelitnya hingga Hari Kiamat.” (Hasan diriwayatkan Imam al-Haitsami dan beliau berkata diriwayatkan Ahmad dan sanad hadits ini hasan. No: 3/180 [4284]).

5. Azab kubur dibakar dengan api

Sebagian penghuni kubur disiksa dengan api neraka pada pagi dan petang[1] sebagaimana firman Allah:

“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS al-Mu’min: 46).

6. Azab kubur untuk orang sombong

Di antara pemicu siksa kubur adalah sikap angkuh dan sombong, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ketika seseorang sedang berjalan, mengenakan pakaian yang merasa bangga diri dan rambut tersisir dengan baik, tiba-tiba Allah tenggelamkan ke bumi dan dia dalam keadaan sekarat hingga hari Kiamat.” (HR. Bukhari).

7. Azab kubur bagi koruptor dan pemakan harta haram

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain kecil dari harta ghanimah yang dia curi pada Perang Khaibar yang di luar pembagian ghanimah akan menjadi bara api (di alam kuburnya).” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Azab kubur bagi orang yang suka ghibah atau namimah dan tidak menjaga kencing

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya, keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa dalam perkara besar. Adapun yang pertama tidak menjaga dari percikan kencing dan yang kedua berjalan di muka bumi dengan namimah.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pelepah kurma basah dan membelai menjadi dua lalu beliau menancapkan pada setia} kuburan satu pelepah kurma. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan itu?’ Beliau bersabda, ‘Mudah-mudahkan diringankan (siksa kubur) dari keduanya, selagi (pelepah kurma itu) belum kering.” (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Azab kubur bagi khatib gadungan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku pernah mendatangi sekelompok laki-laki pada waktu Isra’ Mi’raj-ku yang lisan mereka sedang dipotong-potong dengan alat pemotong dari neraka. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Jibril?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah para khatib dari umatmu yang memerintahkan manusia dengan kebaikan sementara melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Alkitab, apakah mereka tidak berpikir?’” (Shahih diriwayatkan Imam al-Haitsami dalam Majma Zawaid dan beliau berkata hadits ini diriwayatkan Abu Ya’la dan para perawinya adalah para perawi hadits shahih. (7/279) dan lihat Shahihul Jami’ no. 129).

10. Azab kubur yang menimpa pendusta, pezina, pemakan riba, meninggalkan shalat, dan orang yang menelantarkan al-Qur’an

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan tetapi, aku bermimpi didatangi oleh dua orang lelaki lalu keduanya memegang tanganku dan keduanya membawaku ke bumi yang disucikan, tiba-tiba aku dapati seorang yang sedang duduk dan seorang lagi sedang berdiri sementara di tangannya memegang tombak dari besi. Sebagian sahabat kami berkata, ‘Dari Musa.’ Tombak besi itu ditusukkan pada pojok mulut hingga tembus ke tengkuk. Kemudian ditusukkan pada pojok mulut sebelahnya seperti itu. Setelah pojok mulut pulih kembali maka disiksa lagi seperti itu. Aku bertanya, ‘Siapakah dia itu?’ Kedua orang itu berkata, ‘Pergilah.’ Maka kami pergi hingga bertemu dengan orang yang sedang tidur telentang dan seorang lagi berdiri di atas kepalanya dengan memegang alat pemukul atau batu besar lalu dihantamkan ke arah kepalanya. Ketika dihantam dengan batu maka batu tersebut terpental. Maka, orang itu pergi untuk mengambilnya dan tidaklah orang itu kembali melain­kan kepala tersebut rekat dan kembali seperti semula. Orang itu kembali kepadanya dan memukulnya.

Aku bertanya, ‘Siapakah dia itu?’ Keduanya berkata, ‘Pergilah!’ Maka kami pergi hingga sampai di suatu tempat yang berlubang besar seperti dapur roti bagian atas sempit sedangkan bagian bawah lebar. Dari arah bawah ada api yang menyala. Ketika api mendekat, maka mereka terangkat hingga mereka hampir keluar dan ketika api padam mereka kembali ke tempat semula. Dan di dalamnya terdapat kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam kondisi telanjang. Maka aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya berkata, ‘Pergilah!” Maka kami pergi hingga kami mendatangi sebuah sungai darah, sementara di tengah sungai ada seorang lelaki yang berdiri. Dan, di tepi sungai ada seorang lelaki yang di hadapannya ada batu­batu. Ketika orang yang di tengah sungai berenang ke tepi dan hendak keluar darinya maka orang tersebut melemparkan batu tepat pada mulutnya. Orang tersebut kembali ke tempat semula. Dan setiap orang tersebut ingin ke tepi dan hendak keluar maka dilempar dengan batu hingga kembali ke tempat semula. Aku bertanya, ‘Siapakah dia itu?’ Keduanya berkah ‘Pergilah.’ Maka kami pergi hingga kami sampai di suah taman yang sangat hijau. Dan di dalamnya terdapat pohon yang sangat besar dan di bawah pohon ada orang tua dan anak-anak. Sementara ada orang laki-laki yang dekat dengan pohon di tangannya memegang api yang dia nyalakan lalu dia membawaku ke atas pohon dan memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang belum pernah aku lihat suatu rumah sebagus itu. Di dalamnya terdapat kaum laki-laki tua, para pemuda, kaum wanita dan anak-anak. Kemudian keduanya membawaku keluar darinya dan menaikkanku ke pohon dan memasukkanku ke sebuah rumah yang lebih bagus dan lebih indah. Di dalamnya terdapat kaum lelaki tua dan para pemuda.

Aku berkata, ‘Kalian berdua telah membawaku berkeliling semalam suntuk, maka kabarkan kepadaku tentang apa yang aku lihat?’ Keduanya berkata, ‘Ya Adapun orang yang ditusuk pojok mulutnya adalah pendusta yang berbicara kedustaan. Lalu diambil suatu kabar darinya hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia dan dia disiksa sebagaimana yang kamu lihat hingga hari Kiamat. Adapun orang yang dihantam kepalanya dengan batu adalah orang yang diajarkan Allah tentang al-Qur’an lalu tidur di malam hari dan tidak mengamalkan (al-Qur’an) di siang hari maka dia disiksa hingga Kiamat. Mereka yang kamu lihat berada di lubang besar maka mereka adalah para pezina. Dan, orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah pemakan riba. Dan orang tua yang berada di bawah pohon adalah Nabi Ibrahim, sementara anak-anak yang berada di sekitarnya adalah anak-anak umat manusia. Dan, orang yang menyalakan api adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Rumah yang kamu masuki pertama kali adalah rumah hunian kaum mukminin secara umum. Adapun rumah berikutnya adalah rumah orang-orang yang mati syahid. Dan aku adalah Jibril sedang ini adalah Mikail. Maka angkatlah kepalamu.’ Maka aku mengangkat kepalaku tiba-tiba ke arah atas aku melihat seperti mendung. Keduanya berkata, ‘Itu adalah rumahmu.’ Aku berkata, ‘Biarkan aku masuk ke rumahku.’ Keduanya berkata, ‘Sesungguhnya kamu masih punya sisa umur yang belum kamu habiskan, jika kamu telah menyempurnakan umurmu, maka kamu akan memasuki rumahmu.” (HR. Bukhari).

Pemicu utama siksa kubur

Sebab-sebab yang memicu siksa kubur yang menimpa penghuni Alam Barzakh terbagi menjadi dua macam. Pertama, sebab umum yaitu mereka disiksa karena kejahilan mereka terhadap Allah, tidak menunaikan ketaatan dan melakukan kemaksiatan. Allah tidak menyiksa ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak menyiksa badan untuk selamanya selagi kondisi ruhnya demikian. Dan, siksa kubur dan azab akhirat menimpa seorang hamba akibat murka dan marah Allah kepadanya. Siapa yang perbuatan mengundang murka dan marah Nya di dunia dengan melakukan maksiat sampai mati belum sempat bertaubat, maka ia mendapat siksa kubur sesuai kadar murka dan marah Allah kepadanya.

Kedua, sebab khusus sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah tentang dua orang yang disiksa di alam kuburnya: orang yang pertama disiksa karena namimah di tengah manusia dan orang yang kedua disiksa karena tidak menjaga percikan kencing. Kemudian, beliau juga menyebutkan orang disiksa karena shalat tanpa bersuci, orang disiksa karena melewati orang teraniaya tapi tidak menolongnya, orang disiksa karena diberi al-Qur’an tapi tidak shalat malam dan tidak mengamalkannya, mereka disiksa karena berzina, mereka disiksa karena memakai harta riba, mereka disiksa karena malas shalat Subuh, mereka disiksa karena tidak mau membayar zakat, mereka disiksa karena menyulut api fitnah di tengah umat manusia, mereka disiksa karena sombong dan congkak, mereka disiksa karena beramal riya, dan mereka disiksa karena suka mengumpat dan menghina orang lain. (Lihat al-lrsyad ila Shahihal lqtiqad, Syekh Shalih al-Fauzan, hlm. 321–322).

Akan tetapi, mayoritas siksa kubur diakibatkan karena tidak menjaga percikan kencing, ghibah atau namimah sebagaimana yang dijelaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, kencing menjadi faktor utama dan dominasi siksa kubur seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kebanyakan azab kubur dari kencing.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Imam Qatadah berkata, “Sesungguhnya mayoritas siksa kubur berasal dari tiga perkara: ghibah, namimah, dan kencing.” (Lihat Syarhus Sudur, Imam as-Suyuthi, hlm.162). Sebagian ulama menyingkap alasan, kenapa mayoritas siksa kubur disebabkan percikan kencing, namimah atau ghibah. Karena kuburan adalah rintangan pertama kali akhirat dan di dalamnya terdapat berbagai macam kejadian sebagai rentetan peristiwa yang akan terjadi setelah hari Kiamat, baik berupa siksa atau pahala. Sedangkan maksiat yang dilakukan seorang hamba ada dua macam, yakni maksiat yang terkait dengan hak Allah dan maksiat yang terkait dengan hak hamba. Sementara hak Allah yang pertama kali dihisab adalah shalat dan hak hamba yang pertama dihisab adalah darah.

Adapun di Alam Barzakh diputuskan pembuka dan pemicu utamanya, sementara pembuka shalat adalah bersuci dari hadats dan najis sedangkan pembuka pertumpahan darah adalah namimah dan ghibah. Dan keduanya merupakan dosa paling mudah terjadi, sehingga awal perhitungan dan siksaan di alam Barzakh dimulai dengan kencing dan namimah atau ghibah. (Lihat kitab Majmu Rasail Ibnu Rajab).

Hikmah azab kubur tidak didengar manusia

Adapun hikmahnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Lihat Majmu Fatawa Syekh Utsaimin, 8/482–483) sebagai berikut:

1. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalau bukan karena kalian saling mengubur orang yang mati maka aku akan berdoa kepada Allah agar kalian dapat mendengar siksa kubur.” (HR. Muslim).

2. Dalam rangka untuk menutup aib si mayit.

3. Tidak membuat gundah keluarga yang masih hidup, karena bila keluarga yang masih hidup mengetahui bahwa mayyit disiksa, pasti hidupnya akan gelisah dan tidak merasa tenteram.

4. Tidak memalukan keluarga yang masih hidup karena pasti akan berbicara “inilah nasib anakmu’ “inilah nasib orang tuamu” dan “inilah nasib saudaramu” dan seterusnya.

5. Bisa saja orang mendengar akan binasa karena bukan hanya sekadar teriakan, bahkan jeritan kencang yang membuat jantung pecah sehingga orang yang mendengar bisa pingsan atau mati.

6. Jika manusia bisa mendengar siksa kubur maka beriman terhadap siksa kubur merupakan perkara indrawi bukan lagi perkara gaib, sehingga nilai ujian akan hilang. Karena, manusia akan dengan mudah beriman dengan siksa kubur karena dia bisa menyaksikan dengan alat indranya. Tetapi bila siksa kubur perkara gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan berita wahyu maka hikmah beriman dengan perkara gaib menjadi suatu yang tampak nyata.

(Disalin dari buku Misteri Alam Kubur, penerbit Pustaka Imam Abu Hanifah, www.ibnumajjah.wordpress.com)


Dahsyatnya kekuatan Basmallah

Menyambung postingan saya tentang tausiyah yang kemarin, saya akan memberikan point dari Makna & Lafadz Basmalah, berikut ini riwayat-riwayat yang menjelaskan bagaimana Dahsyatnya Lafadz Basmalah bila diucapkan oleh seorang muslim dengan hati yang khusyu dan yakin, sehingga bisa merasakan kebesaran Allah dan membenarkan sabda Rasul-Nya .

1. Melemahkan Kekuatan Syetan dan
Mengecilkan Bentuknya Rasulullah SAW bersabda, dari Abdul Mulih, dari seorag lelaki ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah SAW di atas keledainya. Ketika keledainya itu tersandung aku berkata, “celakalah syetan! “

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah berkata seperti itu, karena syetan akan membesar sampai
sebesar rumah lalu berkata, “Aku telah membantingnya dengan kekuatanku. ” Akan tetapi bacalah Bismillah, karena jika kamu baca itu ia akan mengecil hingga sekecil lalat. ” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai, dan dishahihkan oleh Albani )

2. Memblokir Masuknya Syetan ke Rumah Rasulullah SAW bersabda, “Dan tutuplah pintu kalian seraya membaca Bismillah, karena syetan tidak akan mampu membuka pintu yang tertutup (dengan membaca Bismillah).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Membuat Syetan Muntah-Muntah Umayah bin Muhsin berkata, “Ketika Rasulullah SAW sedang duduk, ada seorang laki-laki sedang makan dan ia tidak membaca Bismillah sampai makannya hampir habis hanya tingal satu suapan. Lalu ketika dia menyuapkan suapan itu ke mulutnya, dia membaca, “Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu ” (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya). lalu tertawalah Rasulullah SAW , kemudian beliau bersabda, “Syetan masih terus makan bersamanya, tetapi ketika ia membaca Bismillah, syetan pun langsung memuntahkan apa yang ada di perutnya. ” (HR. Abu Dawud dan an- Nasai)

4. Memproteksi Diri dari Gangguan Syetan Sepanjang Hari Kata Utsman bin Affan, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca do ’a ini di saat sore tiba. Berikut doanya
"Dengan nama Allah (Bismillah), yang dengan nama-Nya tidak akan bisa membayakan sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (tiga kali). ” maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba
sampai pagi hari. dan barangsiapa yang membacanya di sore hari, maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai sore hari.” (HR. at-Tirmidzi)

5. Perisai Diri dari Kejahatan yang ada di Luar Rumah Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca “Bismillah, aku bertawakkal kepada Allah , tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah “, maka katakan kepadanya, “Kamu telah tercukupi dan terlindungi ”, dan syetan pun akan menjauh darinya. ” (HR. Abu Dawud )

6. Menutup Penglihatan Jin Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, “Yang bisa menutup aurat anak Adam dari pandangan mata jin, ketika hendak menanggalkan pakaiannya adalah hmembaca, “Bismillahilladzi la ilaha illa huwa ” (Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia).” (HR. Ibnu Sunni) Ali bin Abi Thalib berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagai penutup aurat anak Adam dari pandangan mata jin, ketika memasuki WC adalah membaca Bismillah.” (HR. at-Tirmidzi)

7. Melindungi Generasi dari Gangguan Syetan Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian hendak mendatangi istrinya
(menggaulinya), bacalah “Bismillah“, Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan
dari yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak). Karena bila Allah mentakdirkan bagi keduanya seorang anak, maka syetan tidak akan bisa
mencelakakannya selamanya. ” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

8. Memboikot Syetan yang ada Dalam Rumah Dari Jabir ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu membaca Bismillah pada saat masuk dan pada saat makan, maka syetan berkata (kepada teman-
temannya), “Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian. ” Tetapi jika seseorang masuk rumahnya dengan tidak membaca Bismillah, maka syetan berkata (kepada teman- temannya), “Kalian dapat bermalam ”. Bila ia tidak membaca Bismillah saat makan, syetan berkata (pada teman-temannya), “kalian dapat tempat bermalam dan makan malam. ” (HR. Muslim)

9. Mendatangkan Berkah Wahsyi bin Harb berkata, bahwa para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW , “Wahai Rasulullah, kami sudah makan, tapi kami tidak kenyang-kenyang. ” Rasulullah SAW bertanya, “Mungkin kalian makannya terpisah-pisah (sendiri- sendiri)?” Mereka menjawab, “Ya ”. Rasulullah SAW bersabda, “Maka berkumpullah kalian ketika makan, dan bacalah Bismillah, niscaya Allah akan memberkahi makanan kalian. ” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Semoga bermanfaat. Wa Allahu A ’lam.

Sumber: dinar islam.com & rumaysho.com
>>

Kisah Christian gonzalez sebagai muallaf

CHRISTIAN Gonzales awal mulanya berkenalan dengan seorang wanita muslim bernama Eva Nurida Siregar dalam sebuah pertemuan di Cile sekitar tahun 1994. Ketika itu Eva yang sekarang menjadi istrinya-- sedang belajar tarian salsa di sebuah sekolah tari di negara tersebut. Sebelum berkenalan dengan Eva, Gonzales sama sekali tidak mengenal Islam. Wajar, karena Gonzales memang dilahirkan di negara di mana penganut Islam menjadi minoritas. Selain itu, Gonzales juga dibesarkan dalam keluarga penganut Katolik yang sangat taat.

"Istri sayalah yang mengenalkan Islam kepada saya," kata striker yang mengawali karier sepak bolanya di klub Penarol ini. Meskipun demikian, ketika memutuskan menikah dan hidup bersama Eva pada 1995 atau ketika usianya baru genap 19 tahun, Gonzales masih tetap menjadi pemeluk Katolik. Sejak itulah, secara perlahan, Eva mulai mengenalkan agama yang dianutnya kepada sang suami tercinta. Selain menjelaskannya secara lisan, Eva juga mengenalkan Islam kepada lewat perilaku
keseharian. Selain salat, hal yang paling sering
dilakukan Eva adalah memanjatkan doa kepada Allah
SWT setiap kali Gonzales akan bertanding. "Ketika itu, saya sering memanjatkan doa dengan suara keras agar didengar oleh Gonzales," kata Eva mengenang upaya awal memperkenalkan Islam kepada striker berjuluk "El Loco" ini. Menurut penuturan Eva, Gonzales sendiri tak pernah beranjak pergi sebelum ia menyelesaikan doanya. Selain itu, Eva juga selalu salat berjemaah dengan anak dan anggota keluarganya. "Pada saat zikir setelah salat, Gonzales pun selalu mengecilkan suara televisi yang sedang ditontonnya. Dia sangat menghargai ibadah yang sedang kami jalani ketika itu," tutur Eva. Meski striker yang mulai berkarier bersama klub Penarol ini mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap Islam, Eva tetap tak mau memaksakan suaminya agar masuk agama yang dianutnya. "Saya tidak pernah memaksa Gonzales masuk Islam," katanya.

mudah mudahan kisah ini bisa menggugah para pembaca bahwa sesunnguhnya hidayah Allah itu untuk siapa saja, tidak terkecuali buat orang orang yang menghargai perjuanganya menuju jalan Allah yang di ridhoi. Amiiiin....
>>

Kisah menakjubkan tentang Al-Qur'an

Ayatullah Burujurdi r.a. merupakan salah seorang ulama yang berupaya keras untuk mempersatukan umat Islam yang telah tercerai- berai. Salah satu upaya yang beliau lakukan adalah ketika mendengar Ahli sunah menggembar-gemborkan isu bahwa al-Quran yang ada di tangan orang-orang Syi ’ah berbeda dengan yang ada di tangan mereka, beliau langsung mengundang seorang warga Irak
bermazhab Syi ’ah yaitu Karbalai Kadzim; seorang buta huruf dan tak kenal baca tulis yang berhasil menghafal al- Quran karim sekaligus.

Ketika Karbalai Kadzim datang ke Iran, Ayatullah Burujurdi menyuruhnya membaca seluruh al-Quran dan para hadirin menyimaknya dengan memegang al-Quran, ternyata apa yang di baca oleh Karbalai Kazim sama persis dengan al-Quran yang berada di
tangan umat Islam (baik Ahli sunah maupun Syi'ah)

Faidz Kasyani r.a. penyusun kitab tafsirnya Ash-Shafi, terheran-heran dengan sang hafiz, kemudian dia menyodorkan kitab tafsirnya tersebut kepadanya dan mengujinya dengan bertanya, apakah kitab ini adalah al-Quran? Karbalai Kadzim yang tidak mengenal tulis menulis itu menjawab bahwa ayat-ayat yang ada di dalamnya terpotong-potong dan tidak semuanya ayat-ayat al-Quran. (karena memang dalam kitab tersebut ada ayat-ayat al-Quran yang ditambahi oleh penafsiran). Faidz Kasyani semakin terheran-heran, lalu bertanya kepada, dari mana engkau dapat memahami tulisan al- Quran itu? Dia menjawab: Aku dapat memahaminya karena tulisan-tulisan al-Quran
terlihat seperti cahaya bagiku, adapun tulisan
yang lainnya hanya seperti hitam di atas putih,
hanya berbentuk coretan-coretan biasa. Inilah al-Quran yang sebenarnya dia bukanlah kitab biasa, namun dia adalah cahaya tuhan, hanya saja orang yang hatinya kotor tidak akan dapat melihat cahaya tersebut.Dan masih banyak lagi hafiz-hafiz bermazhab Syi ’ah yang telah membuktikan bahwa al-Quran yang berada di tangan mereka adalah Quran yang ada di zaman Rasulullah Saw, tanpa pengurangan dan penambahan sedikitpun. Kita juga beberapa tahun yang lalu dikejutkan dengan seorang hafiz cilik dari Iran, Alamul Huda Thaba’thabai. Di mana saat diundang para petinggi kerajaan Saudi arabia telah membuktikan bahwa al-Quran yang ada di Iran, yang ada di tangan orang-orang Syi ’ah sama dengan al-Quran yang ada di sana dan negara- negara Islam lain. Oleh karenanya, kalau saya boleh berpendapat, isu tahrif Quran yang dialamatkan kepada mazhab Syi ’ah adalah salah satu upaya dari jutaan upaya musuh-musuh Islam dan muslimin guna menyibukkan muslimi dengan Hasyiah (hal-hal sampingan) Quran dan lupa akan pesan-pesan yang terkandung di dalam kitab pedoman ini. Mari! sudah saatnya kita kembali kepada kandungan al-Quran. Kita campakkan semua tuduhan yang menodai Quran. Toh semuanya mengakui kitab ini turun kepada Rasulullah, memiliki 114 surah, yang diawali oleh Al-Fatihah dan diakhiri oleh An-Nas.
>>

Pesan idul adha yang syarat makna

Pada hari ini seluruh umat Islam di dunia sedang
merayakan Hari Raya Idul Adha 1429 Hijriyah yang
merupakan salah satu bentuk syiar Islam yang paling
besar. Hari raya yang merupakan ekspresi syukur
kepada Allah subhanahu wa ta ’ala (SWT) atas selesainya sebuah jihad jasadi dan rohani yang
dilakukan oleh sebagian dari kita yang sedang
menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah dan
Madinah. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Sesungguhnya hari raya bukan hanya aktifitas ritual
atau rutinitas religi setiap tahun, namun ia merupakan
hari agung yang bermakna besar baik secara
hablumminannas (horizontal) atau hablumminallah
(vertikal), baik secara individual maupun kolektif, baik
spiritual ataupun sosial. Sebab hari raya Idul Adha adalah manifestasi dan realisasi dari dimensi spiritual
yang sangat dalam, menyelami perjuangan panjang,
pengorbanan dan kesabaran yang dilakukan oleh nabi
Ibrahim ’alaihis salam dalam menjalankan perintah- perintah Allah subhanahu wa ta ’ala, memperjuangkan ketauhidan, merintis generasi
terbaik (khairu ummat) yang dibimbing oleh Rasulullah
SAW. Apa yang diperjuangkan oleh nabiyullah Ibrahim AS
dalam memerangi kebodohan, kemistikan, kezaliman
dan kediktatoran dicatat dalam oleh Al-Qur ’an. Beliau tampil menjadi sosok yang terus berkorban
untuk menyebarkan risalah Allah dan menghidupkan
umat dengan nilai-nilai iman, tauhid dan pengorbanan
walau harus dipanggang dalam api yang menyala-
nyala. Pengorbanan tersebut tidak berhenti di sini, tetapi
lebih jauh lagi abu al-anbiyaa, Ibrahim AS bahkan
diperintah Allah agar rela mengorbankan belahan
jantungnya, Ismail AS, anak laki-laki yang sangat ia
cintai. Kita tidak bisa bayangkan betapa beratnya
perintah tersebut! Hal itu tidak mungkin akan dilakukan oleh seseorang kecuali atas dasar keimanan
tinggi, tawakkal yang sempurna, dan ketulusan hati
yang dalam sehingga Allah tebus ketaatan dan
keikhlasan tersebut dengan seekor domba. Sebuah
peristiwa yang kemudian Allah abadikan dengan
pujian yang baik bagi generasi berikut dengan berkurban di saat musim haji dan hari raya Idul Adha. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Apa yang terjadi pada diri nabi Ibrahim AS, tentu tidak
terjadi secara tidak sengaja dan tanpa desain. Bila kita
renungkan secara seksama rangkaian peristiwa yang
meliputi nabi Ibrahim dan putranya Ismail AS yang
kelak melahirkan Rasulullah SAW di tanah Makkah,
sesungguhnya semuanya telah didesain oleh desainer super (super designer) yaitu Allah SWT. Sebuah misi dan proyek besar ini diawali dari sejak
nabi Ibrahim meninggalkan negeri Irak yang terkenal
subur, menuju Hijaz/Jazirah Arab yang gersang dan
tandus sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur ’an: ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebahagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau
(Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang
demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan,
mudah-mudahan mereka bersyukur. ” (Ibrahim : 37). Apa yang terjadi di atas, sesungguhnya menegaskan
adanya proyek dan kontrak besar yang terjadi antara
Allah dan nabi Ibrahim AS. Dan sebagai bagian dari hal
tersebut—dengan kekuasaan Allah —di hari tua nabi agung ini mendapatkan keturunan yaitu Ismail dan
Ishak yang ia doakan agar senantiasa melahirkan
keturunan yang selalu mendirikan shalat. Doa ini
kemudian direspon Allah dengan kelahiran nabi Isa AS
dan khatamu al-nabiyyin, Muhammad SAW yang
membawa ajaran Islam yang menyempurnakan ajaran anbiya sebelumnya. Sekali lagi, proses penempatan nabi Ibrahim di Makkah
dengan mendirikan Ka ’bah, melahirkan nabi Ismail kemudian nabi Muhammad SAW merupakan skenario
besar dan desain agung yang diinginkan oleh-Nya agar
lahir kemudian masyarakat yang dijuluki oleh Al-
Qur’an sebagai khairu ummat (sebaik-baik umat) yaitu umat Islam. Skenario dan desain yang diinginkan
oleh Allah ini kemudian diabadikan dan
disimbolisasikan dalam praktek yang diteladankan
oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh umatnya dari
dahulu, sekarang dan di masa mendatang dalam
prosesi ibadah haji yang dilaksanakan di tanah suci Mekkah-Madinah. Maka lantunan seruan yang menggema di tanah suci
adalah kata-kata ’labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka...! (Di sini aku memenuhi
panggilan-Mu ya Allah, saya berada di sini...tiada
sekutu bagi-Mu ya Allah) sesungguhnya adalah ikrar
dan proklamasi kesiapan masing-masing jama ’ah haji untuk menghadirkan kembali kontrak Ilahi antara
nabi Ibrahim dan Allah tersebut dalam mega proyek
yang disiapkan oleh Rabbu al-Izzah untuk selalu
melahirkan generasi-generasi imani dan Qur ’ani. Di sinilah substansi esensial dari prosesi haji
sesungguhnya yang harus dimaknai baik oleh mereka
yang menjalankannya atau bagi umat yang
merayakan hari raya Idul Adha di negeri masing-
masing. Ikrar individual yang dilakukan oleh jemaah
haji untuk selalu siap mengagungkan asma Allah, siap mengulangi sikap taat, ikhlas, tawakkal dan ber-
taqarrub kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh nabi
Ibrahim, hendaknya juga dapat dihadirkan oleh setiap
individu Muslim di manapun mereka berada. Sebab
tanpa dapat memaknai hari raya ini dengan hal
demikian, sesungguhnya kita telah kehilangan substansi esensial dari Idul Adha. Dengan Idul Adha, Allah melatih dan menempa
umatnya agar senantiasa berkemauan tinggi,
berkorban dan bersabar dalam mendekatkan diri
kepada Allah dan sesama manusia, karena hanya
dengan yang demikian umat ini dapat menapaki
tangga menuju kejayaan dan kegemilangan. Semua ini tidak dapat dihadirkan secara mudah, tetapi
membutuhkan penempaan diri, pelatihan kejiwaan
agar amalan yang berat dapat menjadi ringan. Hal demikian yang telah diteladankan oleh Rasulullah
SAW kepada bangsa Arab sehingga mereka
berbondong-bondong masuk Islam yang tampil
sebagai agama yang membebaskan manusia dari
berbagai belenggu sosial, politik, ekonomi dan lain
sebagainya. Dengan didasari oleh prinsip-prinsip Al- Qur’an, Rasulullah berhasil menghadirkan umat yang bekerja keras, rasional, peduli, jujur, komitmen,
amanah, mementingkan orang lain dan cinta damai.
Kondisi ini kemudian berhasil memelejitkan bangsa
Arab pada zaman dahulu yang dicatat oleh sejarah
sebagai pemimpin dunia ilmu pengetahuan dan
peradaban. Ilmu pengetahuan dan peradaban yang dibangun di atas dasar persaudaraan, kebebasan dan
keadilan. Oleh karenanya, umat Islam yang sedang menunaikan
ibadah haji atau yang sedang merayakan Idul Adha,
seyogyanya dapat menyelami makna dari misi dan
proyek besar Allah di atas serta mengkaji lebih dalam
lagi tentang kontrak agung antara Allah dan nabiyullah
Ibrahim dalam menghadirkan khairu ummat. Kita diharuskan untuk terus menerus menebar kebaikan,
berjuang memerangi kebodohan, kemiskinan,
kezaliman dan kediktatoran serta menebar peduli,
empati, berbagi, terus mendekatkan kepada Allah dan
mendekatkan diri antar sesama manusia
sebagaimana diteladankan oleh nabi Ibrahim dan nabi Muhammad SAW selama hidup mereka. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Masing-masing kita terus melantunkan takbir, tahmid,
dan tahlil dari sejak tadi malam. Lantunan takbir,
tahmid, dan tahlil yang merupakan manifestasi dari
rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat
yang kita dapati. Takbir, tahmid, dan tahlil ini
sesungguhnya punya spektrum makna yang sangat luas sekali. Oleh karenanya ketika kita pergi ke tempat
shalat Ied dan pulang darinya hendaklah dilakukan
dari jalan yang berbeda agar gaung takbir, tahmid dan
tahlil tersebut dapat didengar oleh seluruh semesta. Oleh karenanya seorang yang tergolong kaya akan
sejenak melupakan ketergantungan dan
keterbelengguan dengan harta, merendahkan hati
menyongsong kebenaran dan keagungan Allah
karena menyadaari bahwa seluruh orang yang ada di
sekitarnya adalah saudara. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah! Hari raya secara sosiologis juga memberi ruang yang
lebar kepada anak-anak untuk bersenang gembira,
memfasilitasi kaum dhuafa agar meraih kemudahan
dan kelapangan, hari di mana para kerabat dan
keluarga dapat bertemu dalam ikatan persaudaraan,
empati dan kebajikan, hari di mana kaum Muslimin dipertemukan dalam toleransi dan saling kunjung
mengunjungi berbagi cerita sukses, hari di mana para
sahabat dapat memperbaharui rajutan cinta dan
kedekatan, di hari di mana para tetangga dapat
memperbaharui kedekatan relasi dan kerjasama
karena mereka adalah saudara kita yang paling dekat. Pada hari ini, masyarakat diingatkan dan dilatih untuk
peduli terhadap haknya para dhuafa dan kaum papa.
Dengan demikian, membentanglah spektrum
keceriaan di hari raya ini ke seluruh anak bangsa dan
kenikmatannya dapat membanjiri setiap rumah
tangga yang ada. Dan keceriaan akan menembus seluruh relung-relung hati masyarakat, baik anak atau
orang tua, muda atau tua, wanita atau laki, karyawan
atau majikan dan lain-lain. Pada hari ini, kemuliaan dan keikhlasan hati untuk
berkurban tumbuh bersemi dan diharapkan tidak
berhenti di sini tetapi dapat berkembang dan berlanjut
hingga di masa mendatang. Dengan demikian, sikap
ikhlas beramal, berkurban dan berbagi dengan hati
ikhlas yang penuh dengan cinta kasih dapat menghiasi kehidupan kita berbangsa, bernegara dan bahkan
berkonstitusi di tengah kondisi bangsa dewasa ini.
Semua ini merupakan wujud nyata dari proyek besar
Allah yang diawali oleh nabi Ibrahim dan
disempurnakan oleh Rasulullah dengan menghadirkan
’rahmatan li al-alamin’ Islam ke seluruh bumi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More